Coach Bukan Seorang Pahlawan

Coach Bukan Seorang Pahlawan

Pelatihan era baru di dunia Aparatur Sipil Negara merubah banyak sekali tataran pelatihan. Dari tahapan-tahapan yang dilakukan, dengan tidak lagi sepenuhnya melakukkan kegiatan di kantor, adanya melakukan sebuah kegiatan yang berbasis inovasi dan Sumberdaya manusia kegiatan yang banyak melakukan peran-peran dalam proses penyelenggaraan.

Salah satu peran yang baru dalam penyelenggaraan Diklat aparatur adalah Coach.Coach merupakan peran yang sangat penting dalam pembentukan proses seorang peserta yang sering juga disebut Coachee.

Dengan peran tersebut, terkadang seorang Coach larut dalam sebuah dimensi yang keluar dari defenisi yang seutuhnya. Coach menurut kamus bahasa Inggris atau Amerika adalah kereta yang ditarik oleh kuda-kuda, sehingga dapat dipahami bahwa coachberfungsi sebagai pengantar penumpangnya dari satu tujuan atau arah yang diinginkan oleh individu tersebut. Sehingga Coach bukan lagi seorang yang mengajar, trainer atau seorang yang memberi tahu tetang sebuah konten.

Definisi seorang Coach Diklat Aparatur diatas adalah definisi yang seutuhnya, namun terkadang seorang lupa mengganti “baju atau peran mereka”, sehingga coach bisa menjadi apa saja yang di butuhkan oleh seorang coachee.

Coaching bukanlah training yang fokus pada pengembangan sebuah kemampuan tertentu. Peran tersebut adalah seorang trainer yang memiliki arti secara rinci adalah mengajarkan, memberikan ilmu, presentasi dan yang menjadi fokus utama adalah trainer adalah latihan.

Coaching bukanlah mentoring yang terus memberi nasehat, petunjuk dan membagi pengalaman, karenacoach bukan dari seseorang yang ada di dalam tataran hirarki organisasi.

Coaching bukanlah counseling yang mana berfokus pada proses penasehatan dan penawar sebuah keluhan.

Coaching juga bukanlah consulting yang terlibat secara menyeluruh serta membantu coachee dalam melakukan pengerjaan kegiatan.

Jadi coaching merupakan sebuah kegiatan dalam fasilitasi pengarahan dalam proses pertanyaan-pertanyaan, memberikan feedback dari proses pertanyaan untuk diolah seorang coach dan menghasilkan sebuah jawaban sendiri oleh coachee, sehingga seorang coachee menjalankan proses tersebut tanpa tekanan, serta mampu belajar dalam proses tersebut untuk menjadi pemimpin dari dirinya sendiri, mampu menjadi coachee yang pembelajar, menyesuaikan kondisi untuk terus beradaptasi.

Seorang coach yang paham atas definisi tersebut akan banyak membantu proses aparatur yang mandiri, karena sudah mampu mengaktualisasikan ide dan pemikirannya, dimana sebuah kegiatan pembaharuan bukan karena lagi atas ketergantungan dari orang lain, tapi dari dirinya sendiri melalui proses coaching.

Bayangkan apabila seorang coach memiliki banyak peran dalam proses Coaching, mungkin kita dapat menyebutnya sebagai seorang “super coach” yang dapat berperan sebagai siapa saja dalam Diklat aparatur. Coachee pun akan merasa ketergantungan terhadap kita.
Menjadi seorang coach yang baik tidak harus memiliki substansi yang sama atau lebih, namun yang dibutuhkan adalah sebuah kesabaran dalam membantu proses kegiatan. Proses-proses tersebut adalah melatih sikap kita, cara mendengarkan yang baik dan mengelola pertanyaan-pertanyaan yang baik.

Dengan menyadari arti peran seorang coach, kita dapat lebih fokus, dan dapat menghilangkan anekdot-anekdot bahwa “kelulusan seorang peserta adalah 100% tanggungg jawab seorang coach” atau “siapa dulu coachnya…”. Padahal dalam tahapan-tahapan penyelenggaraan banyak sumberdaya manusia yang berperan untuk meningkatkan kompetensi seorang peserta, seperti Widyaiswara atau fasilitator, Narasumber dan Counsellor dengan tanggung jawab dan tugas masing-masing.

Semoga diawal tahun 2016 ini sikap dan pengertian kita terhadap pengertian seorang coach akan lebih terbuka, karena dalam penyelenggaraan Diklat kita akan menciptakan seorang pemimpin yang baik, memiliki jiwa kreatif nan inovatif dan tidak lagi ketergantungan kepada orang lain.

Penulis: Muhamad Harry Rahmadi (Widyaiswara PKP2A III LAN )

Share this post