In Memoriam Almarhum Agus Dwiyanto, Kepala LAN RI Periode 2012-2015

In Memoriam Almarhum Agus Dwiyanto, Kepala LAN RI Periode 2012-2015

Mengenang Pak Agus, sebagai Peletak Dasar Reformasi Birokrasi Kontekstual

Indonesia hari ini kehilangan sosok peletak dasar reformasi kontekstual di Indonesia, Prof. Dr. Agus Dwiyanto, MPA. Jum’at, 10 Maret 2017, pukul 08.33 WIB, Pak Agus, penggilan akrab beliau, Alloh SWT telah memanggilnya untuk selamanya. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiu’un. Semoga husnul khotimah.

Saya orang yang paling bersyukur bisa berkenalan dan dekat dengan beliau, bukan karena saya sebagai anak buah tetapi lebih sebagai seorang murid yang diberikan keluangan kesempatan bahkan tanpa sekat untuk belajar tentang kehidupan bersama beliau dan keluarga.

Sosok Pak Agus adalah sosok unik dan beda. Bahkan sebagian orang menganggap aneh karena selalu berada diluar pakem dalam kesehariannya, khususnya saat beliau sebagai pejabat publik sekelas kepala Lembaga Administrasi Negara RI.

Aneh karena kebiasaan sebagai seorang akademisi yang bebas, logis, ilmiah, selalu bicara dengan data, kritis – analitis dan cenderung blak-blakan tanpa tedeng aling-aling. Bahkan kesederhanaannya melampaui jabatan yang disandangnya serta yang membanggakan adalah integritasnya yang nyaris sempurna. Kesemuanya itu beliau bawa ke dalam rumah Perubahan LAN RI saat beliau memimpin selama 3 tahun dari 2012-2015.

Tak pelak proses perubahan yang beliau bawa ke LAN tersebut menimbulkan pro dan kontra di internal LAN. Ada yang resisten ada pula yang mendukung dan merasa perlu dan penting bahwa perubahan harus segera dilakukan karena konteks lingkungan strategis yang berkembang diluar kian cepat.

Resistensi dalam sebuah perubahan adalah keniscayaan, demikian Garry Yukl tokoh pemikir Perilaku Organisasi. Menyadari hal ini Pak Agus tidak mundur ke belakang tetapi terus bergerak dan bersemangat dan tidak pernah berhenti melakukan perubahan.

Untuk LAN beliau pernah bercerita dengan saya saat kami mengundangnya dalam sebuah acara di PKP2A III LAN Samarinda. “Dari 3 perubahan yang saya inginkan terkait produk, kultur dan struktur, hanya struktur yang telah berhasil bahkan telah menjadi contoh bagi kementerian / lembaga dalam proses restrukturisasi kelembagaan sehingga menjadi lembaga pemerintah non kementerian yang sangat efisien. Betapa tidak, Pak Agus Dwiyanto berhasil menggabungkan dua fungsi diklat (pembinaan dan penyelenggaraan) yang selama ini tidak terkoordinasi menjadi satu kedeputian diklat aparatur. Demikian dengan kajian dan menggantikannya dengan fungsi inovasi karena tuntutan perubahan eksternal.

Dari sisi produk, hanya diklat aparatur yang berhasil melakukan transformasi dan membuka sejarah baru peran LAN dalam mendukung pengembangan kompetensi ASN untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan prioritas pembangunan nasional dan daerah. Berbagai inovasi yang lahir dari rahim Diklat Aparatur telah memberikan nilai tambah dan dampak bagi kualitas pelayanan publik di tingkat kementerian/lembaga dan pemerintah daerah.

Demikian juga dengan produk-produk inovasi yang didorong dan dikoordinasikan oleh kedeputian inovasi melalui kedeputian inovasi juga telah membuka mata bangsa ini bahwa inovasi mampu mendorong kualitas pelayanan dan meningkatkan trust publik terhadap pemerintah. Ya. Ini lantaran inovasi menjadi pendorong utama kemajuan sebuah negeri yang menurut World Bank (1995) kontribusinya mencapai 45% bagi kemajuan sebuah negara. Dalam hal inovasi LAN tidak hanya terdepan dalam merubah cara pandang baru terhadap peradaban dan kemajuan sebuah negeri tetapi menjadikan bangsa ini sadar bahwa kita hari ini kalah bersaing karena minimnya kreatifitas dan inovasi khususnya bagi aparatur sipil negara.

Yang masih tertinggal adalah produk kajian kebijakan. Banyak persoalan terkait dengan kajian ini. Selain kultur penelitiannyang belum terbangun, kemampuan para peneliti yang belum sungguh-sungguh melakukan fungsinya sebagai peneliti. “Penguasaan metodologi penelitian, jam terbang melakukan penelitian, dukungan pimpinan akan mendorong peneliti menjadi handal” tegas pak agus.

Dan yang perlu kesungguhan dilakukan oleh pemimpin selanjutnya setelah saya adalah melakukan transformasi budaya organisasi. Mudah dikatakan tetapi membutuhkan upaya sungguh-sungguh tidak hanya dari pimpinan tetapi juga semua cimitas LAN.

Membangun budaya kerja yang baik membutuhkan keteladanan pimpinan. Dan pak agus adalah contoh konkrit bagaimana beliau menjadi role model sebagai seorang pemimpin yang tidak “mabok” kekuasaan.

Jabatan dan prestasi akademiknya memungkinkan beliau hidup dalam kultur umumnya pejabat. Tetapi itu beliau tanggalkan dan benamkan di dalam dasar samudera yang paling dalam.

Kenapa? “Bagi saya jabatan adalah amanah” katanya. Amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Sang Khalik. Amanah itu berat karena saya harus bisa membuktikan pada Alloh SWT bahwa jabatan yang saya miliki bernilai dan bermanfaat bagi warga LAN, masyarakat dan bangsa serta negara ini”, demikian Pak Agus yang selalu bersemangat menyampaikan sambutan di acara pembukaan PIM II XLI di PKP2A III LAN samarinda tahun 2015 silam. Mungkin bagi sebagian orang hal demikian terasa aneh. Tapi itulah Pak Agus dengan segala keunikannya mampu menorehkan spirit perubahan yang kontekstual bukan perubahan formal sebagaimana tuntutan kebijakan reformasi yang selama ini dikritiknya. Ini termasuk hal2 besar yang beliau lakukan di lan. Namun banyak hal kecil yang beliau rubah terutama pada level sikap dan prilaku yang menjadikan sosok aparatur menjadi sangat dekat dengan rakyatnya, menjadikan bawahan lebih dekat dengan atasannya, menjadikan atasannya sebagai seorang coach sekaligus mentor bawahannya.

Contoh kecil, yang beliau berikan adalah dilarang keras menyebut nama beliau dengan embel-embel profesor atau pun kepala LAN. “Pemimpin itu pelayanan masyarakat”, katanya. Kalau orang menyebut saya dengan menambahkan kata kepala selain terkesan birokrat yang penguasa yang bukan sosok pelayanan masyarakat. Karena itu saya hanya boleh disebut sebagai pak Agus. Pun juga dengan Profesor. “Harus dibedakan antara saya sebagai kepala LAN dan saya sebagai pendidik yang selama ini dibesarkan oleh UGM. Saya memang dulu Guru Besar FISIP UGM, namun sejak menjabat di LAN gelar akademik saya sudah dicabut sementara. Jadi sebut saya pak Agus saja.

Pak Agus adalah sosok paripurna, yang fokus terkait dengan amanah yang diembannya. Tidak mudah tergiur dengan apapun. Menjadi Profesor di UGM lebih baik jika dibandingkan memimpin Think Thank sekelas LAN dari sisi atau sudut pandang apapun. Namun tuntutan dari hati nurani, akhirnya beliau lebih memilih menjadi kepala LAN karena kemaslahatannya dimasa depan bagi perbaikan sebuah negeri dari sudut pandang administrasi negara.

Saya yakin, beliau menjadikan LAN sebagai laboratorium yang menguji tesis beliau bahwa perubahan kontekstual menjadi pilihan daripada perubahan tekstual dan cenderung formalistis. Dan beliau berhasil melakukan itu.

Banyak hal yang telah beliau berikan pada saya khususnya, dan umumnya pada LAN. Kita semuanya termasuk bangsa ini berhutang budi padanya.

Hanya doa yang mengiringi perjalanan menggapai Surga Alloh SWT yang telah disiapkan untuk beliau. Tentu karena amal jariah dan ilmu yang bermanfaat untuk saya dan kita yang akan terus mengalir mengantarkannya keharibaaan Alloh SWT.

Selamat jalan Prof. Selamat jalan reformer sejati. Negeri ini berhutang budi padamu. Semoga husnul khotimah.

Makassar, 10 Maret 2017

Dari muridmu,

Mariman Darto

Share this post