Menubuhkan Inovasi Kediklatan

Menubuhkan Inovasi Kediklatan

Perubahan merupakan keniscayaan yang tidak terbantahkan. Setiap orang atau organisasi pasti akan mengalami dan terpengaruh oleh perubahan. Dinamika perubahan lingkungan yang begitu cepat yang ditandai dengan kemajuan ilmu dan teknologi menuntut sumber daya manusia yang adaptable, smart dan selalu terus belajar. Tantangan di era globalisasi dan informasi tersebut perlu dimanfaatkan sebagai peluang untuk meningkatkan metode-metode pembelajaran. Harus diakui bahwa keunggulan proses belajar mengajar dapat dikembangkan melalui proses inovasi Diklat dengan paradigma baru, yaitu pendidikan dengan mendayagunakan SDM, teknologi informasi, dan komunikasi. Untuk itu diperlukan suatu penyebarluasan (difusi) agar semua pihak, baik insan pendidikan maupun aparatur dan stakeholders yang terkait atau masyarakat umum dapat terlibat secara langsung melakukan gerakan pembaruan (inovasi) Diklat.

Inovasi sendiri merupakan perubahan yang direncanakan oleh organisasi dengan kegiatan yang berorientasi pada pengembangan dan penerapan gagasan-gagasan baru agar menjadi kenyataan yang bermanfaat dan menguntungkan. Inovasi dilakukan untuk meningkatkan sebuah kualitas program, mengefektifkan dan mengefensiensi sebuah proses, serta menghasilkan sebuah produk atau hasil dengan mutu yang berkualitas. Inovasi merupakan salah satu gaya kreatifitas. Gaya kreatifitas tersebut dapat meliputi intuitif, inovatif, imajinatif dan inspiratif (Rowe, 2004). Inovasi menurut Tomlinson (2004) ialah suatu proses yang saling melengkapi, yang menghasilkan gagasan kreatif untuk mengembangkan pendidikan dan pelatihan.

Masalah baru yang timbul tentu tidak dapat diselesaikan dengan menggunakan struktur dan pola pikir yang sama atau pengetahuan yang telah dikerjakan oleh organisasi di masa lampau. Sebagaimana diungkapkan Albert Einstein bahwa ”problem can be solved from the same consciousness that created it; but we must learn to see the world a new”. Sistem organisasi Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) yang tidak mau berubah atau beradaptasi dapat diibaratkan seperti “dinosaurus” yang pada akhirnya mengalami kepunahan. Untuk dapat beradaptasi maka sebuah Diklat harus terus melakukan proses learning dan continous improvement.
Proses Inovasi Diklat

Proses inovasi Diklat adalah serangkaian aktivitas Diklat yang dilakukan oleh individual atau organisasi dengan menampilkan sesuatu hal yang baru tanpa mengurangi esensi dalam meningkatkan kompetensi. Proses inovasi dapat dianalogikan sebagai proses pemecahan masalah yang di dalamnya terkandung unsur kreativitas. Dalam hal inovasi Diklat sebagai usaha perubahan Diklat yang tidak bisa berdiri sendiri, tetapi harus melibatkan semua unsur yang terkait di dalamnya, seperti inovator yang terdiri dari penyelenggara seperti pimpinan penyelenggara, tenaga pengajar dan masukan dari peserta.

Lama waktu proses inovasi yang dipergunakan akan berbeda antara individu atau organisasi satu dengan yang lain, tergantung pada kepekaan individu atau organisasi terhadap inovasi. Demikian pula selama proses inovasi itu berlangsung akan selalu terjadi perubahan yang berkesinambungan sampai proses itu dinyatakan berakhir.
Membangun Inovasi Diklat

Sebuah proses inovasi akan dapat berjalan dengan baik sampai proses itu dinyatakan inovatif adalah dengan menerapkan 4 (Empat) konsep sederhana membangun Diklat yang inovatif, yaitu :

  1. Membentuk Tim Inovasi Secara Demokratis
Pembentukan tim inovasi dimaksudkan untuk mengetahui dan mendiskusikan hal-hal yang dibutuhkan oleh aparatur saat ini. Pembentukan tim ini akan menggiring para anggotanya (inovator) menghasilkan sebuah ide-ide cemerlang yang akan dilakukan pada Diklat.
  1. Membuat Strategi Inovasi Secara Partisipatif
Strategi ialah bentuk kegiatan yang tercipta dari ide-ide dan untuk mendukung pencapaian strategi-strategi tersebut dibutuhkan sebuah rencana kerja. Ada 3 (tiga) kriteria pengujian apakah strategi inovasi kreatif tersebut dapat diterapkan dengan lugas yaitu dengan cara :
  • Suitability ialah kecocokan strategi dengan sumber daya yang tersedia dan lingkungannya;
  • Feasibility ialah kelayakan strategi itu diterapkan, baik tenaga, waktu, dana dan hasilnya; dan
  • Acceptability ialah tingkat penerimaan pemakai untuk menggunakan strategi tersebut.
  1. Mengelola Budaya Inovasi Secara Kondusif dan Partisipatif
Disinilah titik sebuah inovasi akan diuji. Rencana kerja yang telah terbentuk untuk berinovasi kreatif haruslah dikelola dengan menanamkan budaya-budaya perubahan tersebut. Kerancuan, kebingungan dan rasa tertekan merupakan hal yang biasa apabila sebuah inovasi ini muncul. Justru dengan adanya sebuah kritikan sebuah inovasi akan menambah ide-ide cemerlang hadir untuk memperkuat inovasi kreatif dalam diklat.
  1. Memberikan Penghargaan Bagi Inovator
Sebuah manajemen SDM organisasi yang baik adalah mengapresiasi setiap individu dengan sebuah penghargaan atas hasil pemikiran kreatif dan inovatif. Penghargaan ini merupakan pemacu para Inovator untuk terus berpikir kratif untuk meningkatkan kualitas Diklat

Dengan menerapkan 4 (empat) konsep membangun Diklat yang inovatif tersebut ke dalam sebuah organisasi pengembangan kompetensi diharapkan agar impact kediklatan akan lebih memberikan suasana baru serta lebih memudahkan transfer of knowledge kepada aparatur yang didiklatkan. Tentu saja implementasi empat konsep tersebut perlu terus menerus dimonitor dan dievaluasi keefektifannya. Selain itu, keberhasilan inovasi Diklat tidak saja ditentukan oleh satu faktor tertentu, tetapi juga dipengaruhi oleh stakeholder yang memakai jasa Diklat serta kelengkapan fasilitas diklat yang mendukung konsepsi inovasi diklat tersebut.

Aspek lain adalah sumber inovasi Diklat yang jika berupa top-down model tidak selamanya berhasil dengan baik. Hal ini disebabkan oleh banyak hal, antara lain adalah penolakan para pelaksana seperti tenaga pengajar yang tidak dilibatkan secara penuh baik dalam perencananaan maupun pelaksanaannya. Sementara itu inovasi yang lebih berupa bottom-up model dianggap sebagai suatu inovasi yang langgeng dan tidak mudah berhenti, karena para pelaksana dan pencipta sama-sama terlibat mulai dari perencanaan sampai pada pelaksanaan. Oleh karena itu, masing-masing aktor bertanggung jawab terhadap keberhasilan suatu inovasi yang mereka ciptakan. Pelaksanaan inovasi Diklat kemudian menjadi pemicu kelengkapan suatu sistem di dalam organisasi, maka kepekaan sebuah organisasi terhadap inovasi kreatif diklat sangatlah dibutuhkan untuk menciptakan aparatur cerdas berkualitas.

Penulis: Muhammad Harry Rahmadi, S.Pi. MM. (Widyaiswara PKP2A III LAN)

Share this post