Perempuan dalam Kancah Politik

Perempuan dalam Kancah Politik

“HABIS gelap terbitlah terang.  Tak ada perempuan Indonesia yang tidak mengenal kalimat jitu itu. Meski singkat namun kalimat tersebut begitu bermakna bagi perempuan di negeri ini. Kalimat  penuh motivasi yang dicetuskan oleh Raden Ajeng Kartini, setelah memperjuangkan persamaan gender pada zaman penjajahan. Kalimat ini pun seakan menjadi pedoman bagi kaum hawa untuk beraksi dan unjuk kemampuan pada era perubahan ini. Apalagi kini perempuan lebih energik, sigap dan mengedepankan pemikirannya sehingga tak lagi dimonopoli pria. Perlahan namun pasti, perempuan di Tanah Air sudah semakin berani unjuk kebolehan. Sejumlah prestasi kaum hawa di berbagai lini pun mulai ditunjukkan. Isu hak asasi manusia dan persamaan gender yang lantang disuarakan aktivis feminisme menjadi penyemangat bagi perempuan untuk terus mengembangkan sayap prestasi mereka hingga tak kalah dengan pria. Apalagi banyak perempuan masa kini yang sukses sebagai pemimpin. Ada Megawati Soekarnoputri yang didapuk menjadi Presiden Republik Indonesia perempuan pertama, ada Sri Mulyani Indrawati yang kini didaulat untuk menduduki posisi Managing Director of the World Bank Group di Amerika Serikat.

CALEG PEREMPUAN
Perempuan dulu dipandang sebelah mata karena identik dengan urusan dapur. Namun kini kaum hawa berani bangkit dan memberi gairah baru, khususnya dalam parlemen. Tak sedikit perempuan ikut andil dalam sejumlah isu-isu politik. Bahkan tercatat keberhasilan beberapa anggota DPR perempuan. Seperti, Nurul Arifin, Inggrid Kansil, dan Rieke Diah Pitaloka menjadi trigger para perempuan di Tanah Air, untuk berani terjun ke kancah politik dan mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Tak sedikit perempuan di Kalimantan Timur yang berani berpartisipasi dengan mencalonkan diri dalam Pemilu Legislatif yang digelar pada 9 April 2014 lalu. Berbagai program yang telah dicanangkan oleh para calon legislatif (caleg) perempuan untuk memajukan provinsi ini. Tidak hanya itu, mereka pun memperjuangkan hak-hak perempuan di parlemen. Aktifnya perempuan di pemerintahan dan legislatif semakin menegaskan bahwa fisik dan lainnya bukanlah perbedaan esensial. Sayang, hanya segelintir caleg perempuan yang berhasil menduduki kursi DPRD atau DPR RI dalam pesta demokrasi 9 April lalu.
Semangat caleg perempuan untuk terjun ke kancah politik pun sesuai dengan Pasal 55 Ayat 1 UU 12/2003 yang berbunyi, “partai politik peserta pemilu dapat mengajukan calon anggota DPR, DPRD provinsi dan kabupaten atau kota untuk setiap daerah pemilihan dengan memperhatikan keterwakilan perempuan sekurang-kurangnya 30 persen.”
Kendati kaum hawa diberi kesempatan berpartisipasi di dunia politik, namun keterwakilan sebesar 30 persen masih dianggap kurang oleh sejumlah pihak. Masih tercium aroma yang menunjukkan diskriminasi terhadap perempuan di ranah politik. Hal tersebut pun tidak sesuai dengan UUD 1945 terutama dalam pasal 27. Pasal tersebut menyebutkan bahwa semua negara bersamaan kedudukkanya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada pengecualian. Berarti tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam berpolitik. Masih adanya aroma diskriminasi bagi kaum perempuan, diharapkan bisa menjadi acuan untuk diubahnya undang-undang yang bisa menjamin keterwakilan perempuan dalam kancah politik. Hal tersebut bertujuan agar kaum hawa bisa terlibat dalam pengambilan keputusan serta kebijakan yang strategis, terutama bagi kaum perempuan sendiri.
Semakin terbuka luas kesempatan bagi kaum hawa di ranah politik praktis membawa angin segar bagi parlemen. Tak heran partisipasi dan peran perempuan dalam isu-isu politik terus ditingkatkan. Dan tak ada salahnya jika kita sebagai kaum feminisme terus aktif di ranah politik, demi meningkatkan kemajuan bangsa. Hingga perempuan tak lagi sekadar mencetak pundi-pundi suara bagi partai politik.
Selamat Hari Kartini ke-50 pada 21 April 2014. Semoga semangat Kartini tak pernah luntur bagi perempuan-perempuan bangsa ini, demi masa depan Indonesia yang lebih baik. Bravo perempuan Kaltim! ( sumber : ​www.kaltimpost.co.id – perempuan dalam kancah politik )

Share this post