Takdir Samarinda Menjadi Kota Inovasi?

Takdir Samarinda Menjadi Kota Inovasi?

Sebagai salah satu kota metropolis di Indonesia yang mengusung visi “Terwujudnya Kota Samarinda sebagai Kota metropolitan berbasis industri, perdagangan dan jasa yang maju, berwawasan lingkungan, serta mempunyai keunggulan daya saing untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat”, maka saat ini Kota Samarinda telah tumbuh berkembang menjadi tidak hanya pusat pemerintahan, tapi juga sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, politik, bisnis, hiburan, perdagangan, sertapendidikan. Banyaknya “gelar” yang disandang, menjadikanKota Samarinda menjadi begitukompleks dengan segudang permasalahan tata kelola kota danjuga permasalahan sosial yang membuat jalannya roda pemerintahan tersendat-sendat.

Kota dengan Jumlah penduduk dengan angka terbesar di Provinsi Kalimantan Timur:sebanyak 844.944 jiwa,laju pertumbuhan jumlah penduduk dari tahun ke tahun sebesar2%-4% per tahun(Data Disdukcapil Kota Samarinda, 2014), dan kepadatan penduduk mencapai 1.088 jiwa per km2(Data BPS Kota Samarinda, 2013), turut menjadi penyumbang permasalahan dalam mewujudkan tata kelola yang baik.

Jika kota tercinta ini dikelola dengan cara yang biasa-biasa saja, maka penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik juga hanya akan seperti sekarang, tidak kreatif dan inovatif. Jika melandaskan pada hasil relesase data World Bank tahun 1995 tentang faktor penentu keunggulan suatu negara, yang dilakukan terhadap 150 negara, maka 45% nya ditentukan oleh kreatifitas dan inovasi, lainnya adalah: jaringan (25%), teknologi (20%), dan sumber daya alam (10%). Konteks yang lebih sempit lagi, maka Kota Samarinda bisa menggunakan data World Bank tersebut, jika ingin bisa bersaing dengan kota lainnya di Indonesia sekarang dan di masa mendatang.

Pertanyaan yang bisa diajukan untuk para Pejabat dan juga ASN di Kota Samarinda adalah: “Bagaimana perasaan anda jika Kota Samarinda menjadi model RB Nasional, menjadi daerah termaju dan pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia, menjadi benchmark dan barometer pembangunan daerah, serta menjadi daerah yang menghasilkan inovasi terbanyak dan terbaik di Indonesia? Ingingkah, mungkinkah, mampukah, maukah kita??”Kunci jawaban dari semua pertanyaan itu adalah kemauan dan keberanian untuk hijrah dari comfort zone menuju creative dan competitive zone! Inovasi menjadi sebuah keharusan saat ini.

Pada tanggal 18 Januari 2016 yang lalu, telah ditandatangani MoU antara Lembaga Administrasi Negara (LAN-RI) dengan Pemerintah Kota Samarinda. Selain itu di hari bersejarah tersebut, juga dilakukan pencanangan Kota Samarinda sebagai Laboratorium Inovasi Daerah oleh Dr. Adi Suryanto, M.Si selaku Kepala LAN-RI dan Dr. Meiliana, S.E., M.M selaku Pj. Walikota Samarinda.

Dr. Adi Suryanto, M.Si., selaku Kepala LAN RI dalam sambutan Pencanangan Kota Samarinda sebagai Laboratorium Inovasi Daerah, menyatakan bahwa para ASN perlu memahami arti inovasi itu sendiri. LAN telah memberikan definisi inovasi sebagai proses untuk memikirkan dan mengimplementasikan suatu gagasan yang memiliki unsur kebaruan (novelty) serta kemanfaatan (expediency). Lebih lanjut dikatakan bahwa dengan dijadikannya Samarinda sebagai Lab. Inovasi, maka semestinya inovasi sebagai kerangka berpikir ASN di Pemerintah Kota Samarinda. Inovasi harus dijadikan agenda bersama, yang harus menjadi gerakan serentak oleh seluruh komponen ASN, melalui 4 Co-: Co-thinking, Co-creation, Co-responsibility, dan Co-benefiting. Artinya bahwa inovasi harus menjadi pemikiran dan hasil kreasi bersama, harus dirawat secara terus menerus dan menjadi tanggung jawab bersama juga. Sehingga kemanfaatannya bisa dirasakan oleh para stakeholders, termasuk masyarakat luas didalamnya.

Lebih lanjut, para ASN memiliki peran strategis dalam suksesnya pelaksanaan Inovasi Daerah.terdapat peran yang bisa dilakukan ASN dalam inovasi daerah, yaitu: sebagai role model, coach, consultant, dan sebagai collaborator. Sebagai role model, maka ASN diharapkan bisa menjadi contoh/ teladan untuk selalu kreatif dan inovatif, memecahkan permasalahan SKPD nya dengan melihat pada fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Selain itu, sebagai coach seoarang ASN harus bisa memberikan bimbingan kepada ASN lainnya dan membagikan strategi berinovasi serta menjadi pemecah masalah di SKPD nya. pada sisi lain, seorang ASN juga berperan sebagai konsultan bagi SKPD lainnya, atau bahkan stakeholders terkait dengan permasalahan yang muncul dan perlu segera dicarikan solusinya. Sehingga ASN akan memberikan saran perbaikan melalui inovasi yang dimunculkan sebagai jawaban permasalahan yang ditanyakan oleh stakeholders. Terkahir, ASN sebagai collabolator mengarahkan agar inovasi yang akan dihasilkan sudah merupakan kolaborasi banyak pihak, sehingga pas dan sesuai dengan kebutuhan pemecahan masalah, serta mendapat dukungan dari berbagai pihak. Sebagai seorang collabolator maka perlu keahlian komunikasi dan jaringan yang kuat. Sehingga peran ASN saat ini menjadi begitu strategis untuk bisa merangkul semua pihak, dan menjadikan inovasi benar-benar merupakan hasil kerja berjamaah, bukan hasil kerja perorangan saja.

Semangat inovasi sejalan dengan semangat Diklat PIM pola baru pada aspek pembentukan pemimpin perubahan. Namun demikian, pemimpin perubahan yang di hasilkan tentu tidak sebanding dengan kebutuhan akan inovasi di segala level birokasi kita. Untuk itu pentingnya pemimpin perubahan adalah untuk menjadi seorang pemimpin perubahan itu sendiri, sekaligus melapangkan jalan untuk para inovator lain (paving the way for innovators). Oleh karenanya sekali lagi, inovasi yang akan dijalankan adalah kolaborasi semua pihak dari semua level ASN, stakeholders, serta masyarakat luas. Semoga memang inilah takdir Kota Samarinda sebagai kota ter inovatif di masa mendatang, yang akan menjadi rujukan daerah lain dalam hal inovasi daerah, in shaa Allah…. (FHW)

Share this post