Menggali Potensi Inovasi pada Desa-Desa Tertinggal di Kabupaten Jeneponto

Menggali Potensi Inovasi pada Desa-Desa Tertinggal di Kabupaten Jeneponto

Kegiatan Benchmark diklatpim II tahun 2017  berbeda dengan diklatpim II tahun-tahun sebelumnya. Benchmark Diklatpim II  yang biasanya difokuskan ke luar negeri dengan tujuan mencari inovasi -inovasi di negara lain untuk dapat dipelajari dan diaplikasikan di Indonesia, benchmark tahun 2017 ini Lembaga Administrasi Negara mengalihkannya ke desa-desa tertinggal dengan tujuan menggali potensi-potensi yang dapat dibuat inovasi pada desa-desa tertinggal, sehingga sejalan dengan semangat Nawacita yang sedang di gadang-gadang oleh pemerintah  yaitu menempatkan desa sebagai prioritas pembangunan : “ Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan”.

Kegiatan Benchmark pim II kali ini disebut sebagai kegiatan Visitasi Kepemimpinan Nasional. Visitasi Kepemimpinan Nasional Diklatpim II yang diselenggarakan oleh Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan III Lembaga Administrasi Negara ( PKP2A III LAN) bekerja sama dengan BPSDM Provinsi Kalimantan Selatan mengambil Lokus di pada 4 ( empat ) Desa di Kabupaten Jeneponto Sulawesi Selatan, yaitu Desa Lebang Manai, Desa Lebang Manai Utara di Kecamatan Rumbia serta Desa Gunung Silanu dan Desa Marayoka Kecamatan Bangkala . Keempat desa tersebut dijadikan lokus berdasarkan parameter Indeks Desa Membangun Tahun 2015 yang di terbitkan oleh Kementrian  Desa Pembangunan Tertinggal dan Transmigrasi, ke empat desa tersebut dikategorikan desa tertinggal.

Penggalian data lapangan dilakukan melalui observasi dan wawancara secara langsung, para peserta Diklatpim II berkesempatan menginap di rumah-rumah yang telah disediakan di Desa Lokus sehingga dapat berbaur langsung dengan masyarakat, selain itu juga dilakukan focuss group discussiondengan peserta terdiri dari aparat desa dan tokoh-tokoh masyarakat. Pengumpulan informasi juga dilakukan dengan melalui data-data yang ada di Desa, walaupun data-data yang diberikan belum lengkap dan terinventarisir dengan baik karena masih ada di beberapa desa bahkan tidak punya kantor kepala desa sehingga masih bersatu dengan rumah kepala desa.

Melihat kondisi geografis  dari desa-desa yang dijadikan lokus  Visitasi Kepemimpinan Nasional ini terlihat bahwa rata-rata desa-desa tersebut berada pada kisaran 800 meter dpl-1000 dpl, kondisi tersebut sangat strategis untuk pengembangan ekonomi masyarakat di bidang pertanian tanaman pangan dan holtikultura serta berbagai hewan ternak lainnya. 80% lebih warganya bekerja di bidang pertanian. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari hasil diskusi dengan masyarakat, penduduk yang bekerja di bidang pertanian sebagian besar dan hampir seluruhnya  menggarap lahan pertanian sendiri dan bukan sebagai petani penggarap, Selain itu sebagian besar dari petani tersebut memiliki hewan ternak berupa kambing, sapi kuda dan ayam buras. Hal tersebut mampu membuat ketahanan ekonomi  masyarakat masih mampu bertahan. Bahkan pada dua desa ( Desa Gunung Silanu dan Desa Lebang Manai Utara) populasi ternak sapi pada masing-masing desa lebih dari 300 ekor dan potensial untuk semakin dikembangkan. Selain pertanian dan peternakan yang merupakan potensi dari desa-desa tersebut, secara sosio cultural masyarakat juga mempunyai potensi berupa ikatan kekerabatan yang masih kuat. Masih berkembangnya kearifan lokal seperti gotong royong  juga sangat mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Namun demikian masyarakat masih mempunyai masalah yang dihadapi dan menghambat pengembangan potensi daerah diantaranya:

  1. Sebagian besar petani tidak mempunyai modal awal untuk investasi pertanian
  2. Petani terpaksa menjual hasil panen dengan sistem ijon
  3. Masyarakat masih mengandalkan alat-lat pertanian serta sistem pertanian yang tradisional sehingga hasil panen tidak optimal
  4. Ketersediaan air yang masih tergantung pada musim, padahal potensi sumberdaya alam seperti air terjun dan mata air tersedia dan sangat memungkinkan untuk dibuat sarana pengairan.
  5. Belum ada toko pertanian di desa
  6. Belum ada keinginan petani melakukan system peternakan modern, bahkan kendang-kandang sapi/kuda berada di kolong-kolong rumah penduduk, bersatu dengan tempat tinggal mereka.

Berdasarkan hasil temuan lapangan berupa potensi dan permasalahan yang ada tersebut para peserta diklatpim II merumuskan berbagai kemungkinan inovasi yang dapat diterapkan di masing-masing desa secara perkelompok yang mereka kunjungi serta  merumuskan inovasi-inovasi  yang diberikan secara keseluruhan kepada Kabupaten Jeneponto . Rekomendasi yang diberikan antara lain  dengan penguatan peran pemerintah, swasta dan masyarakat diantaranya memperkuat peran BUMDES ( Badan Usaha Milik Desa ),baik di desa-desa maupun Pemerintah Kabupaten, Penyertaan Modal BUMDES, Tata Kelola Air, Penyediaan Angkutan Pedesaan, Digitalisasi Informasi harga pasar dan sertifikasi Lahan Pertanian.

Pelaksanaan Visitasi Kepemimpinan Nasional oleh peserta diklatpim II ke Desa-desa tertinggal memberikan kesan tersendiri bagi peserta maupun masyarakat yang dikunjungi. Kehadiran mereka memberikan harapan tersendiri bagi masyarakat untuk memperbaiki desa mereka yang tertinggal sehingga bisa lebih maju dan berkembang. Hasil rekomendasi para peserta yang dipresentasikan didepan para kepala desa dan kepala dinas kepala badan dan kantor di lingkungan Kabupaten Jeneponto dan dokumennya diberikan langsung kepada kepala daerah yang diwakili oleh Kepala BPSDM Kabupaten Jeneponto pada tanggal18 Agustus 2017 di Aula Bupati Jeneponto pada akhir acara Visitasi Kepemimpinan Nasional sejatinya dapat ditindaklanjuti oleh para pengambil kebijakan di Kabupaten Jeneponto serta memberikan kontribusi yang positif untuk pembangunan Kabupaten Jeneponto.  ( Lia Rosliana/ Peneliti PKP2A III LAN)

Share this post