“Bedah Jurnal 2017” Oleh Pengelola Jurnal Borneo Administrator PKP2A III LAN

“Bedah Jurnal 2017” Oleh Pengelola Jurnal Borneo Administrator PKP2A III LAN

Pada Senin 30 Oktober 2017 di Mini Theater PKP2A III LAN, Pengelola Jurnal Borneo Administrator (JBA) Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur III Lembaga Administrasi Negara (PKP2A III LAN) mengukir sejarah dengan menyelenggarakan “Bedah Jurnal 2017”. Ada 3 tujuan dari kegiatan Bedah Jurnal, yaitu: pertama, meningkatkan kompetensi peneliti, widyaiswara, analis kebijakan, dosen dan jabatan fungsional tertentu lainnya dalam menulis pada jurnal ilmiah. Kedua, memberikan peluang dan tantangan kepada peneliti untuk mendiseminasikan hasil pemikiran ilmiahnya kepada publik. Ketiga, sebagai media promosi agar lebih banyak kontributor/peneliti menyampaikan artikelnya ke JBA. Keempat, upaya untuk senantiasa meningkatkan kualitas Pengelola Jurnal dan JBA.

Dalam sambutannya, mewakili Kepala PKP2A III LAN, Kepala Bidang Kajian Kebijakan dan Inovasi Administrasi Negara Windra Mariani menyampaikan “bahwa berdasarkan data dari Scimago Journal and Country Rank pada periode Desember 2016, Indonesia berada dalam posisi rangking 55 berdasarkan jumlah publikasi ilmiah yang dihasilkan. Tentunya hal tersebut belumlah menjadi sesuatu yang menggembirakan apalagi jika dibandingkan dengan negara tetangga yaitu Singapura yang berada pada rangking 32, Malaysia yang berada pada rangking 34 dan Thailand di Rangking 43 “. Kondisi ini perlu menjadi perhatian bagi dunia publikasi ilmiah untuk selalu komitmen dan konsisten dalam mengkampanyekan peningkatan kualitas publikasi ilmiah. Ditambah lagi dalam sambutannya “Jurnal ilmiah keberadaanya sangatlah dibutuhkan dalam rangka terus meningkatkan budaya pengetahuan baik di dunia penelitian, kewidyaiswaraan ataupun dunia akademik. Hal ini telah menjadi sebuah kebutuhan. Apa arti sebuah pemikiran ilmiah apabila tidak dituliskan dan dipublikasikan karena pada akhirnya hal ini akan dibaca dan dimanfaatkan oleh masyarakat.

Acara inti dimulai dengan membedah salah satu artikel pada JBA yang telah terbit pada Volume 12 Nomor 1 Tahun 2016 dengan judul “Problematisasi Kebijakan Pengelolaan Sampah Di Kota Samarinda : Problematisasi Kebijakan Dengan Pendekatan WPR “. Sebagai penyaji yang sekaligus penulis artikel adalah Andi Wahyudi S.IP., M Pubadmin (Pol) yang merupakan peneliti di PKP2A III LAN. Narasumber adalah Dr. Rudianto Amirta, S.Hut., MP yang merupakan Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman sebagai pembahas artikel yang juga menyampaikan bagaimana cara meningkatkan kompetensi menulis pada jurnal ilmiah. Kegiatan ini dihadiri sekitar 40 orang yang terdiri dari penulis, peneliti, widyaiswara, dosen, pengelola perpustakaan, pengelola jurnal dan komunitas peduli lingkungan.

Pada kegiatan “Bedah Jurnal 2017 “, artikel yang dibedah merupakan kajian analisis kritis terhadap dokumen kebijakan pengelolaan sampah di Kota Samarinda, yaitu Perda Kota Samarinda Nomor 2 Tahun 2011 dengan pendekatan WPR (What is the problem represented to be?) yang diperkenalkan oleh Bacci. Dalam artikel ini mencoba mengungkapkan persoalan manajemen dan kepatuhan warga Kota Samarinda dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dan lingkungan. Dari sisi manajemen, kebijakan pengelolaan sampah di Kota Samarinda tidak berjalan efektif untuk menjawab persoalan yang ada. Dimana masih rendahnya kapasitas pengangkutan sampah dibandingkan dengan volume produksi sampah. Kemudian dari sisi kepatuhan, kebijakan ini memberikan sanksi pada masyarakat yang melanggar perda namun tidak menyentuh edukasi publik untuk merubah perilaku masyarakat. Wacana ini kemudian menjadi menarik dan dikemas dalam wujud kegiatan “Bedah Jurnal 2017 “.

Dalam pemaparannya, Andi Wahyudi menyampaikan “WPR ingin melihat problematisasi kebijakan, dimana kebijakan pada dasarnya untuk menyelesaikan masalah, maka kebijakan itu dibuat selayaknya berdasarkan kebutuhan bukan berdasarkan keinginan“. Kondisi ini kemudian membuat penulis berpendapat “Samarinda memiliki permasalahan di pengelolaan sampah dan saya mencoba pendekatan WPR ini dalam perda No 2/2011, dari pasal yang ada saya menginterpretasikan bahwa pada pengambil kebijakan perda No 2/2011 melihat bahwa problem dari kebijakan pengelolaan sampah adalah pertama, manajemen dan kedua adalah kepatuhan melihat ada cara mengelola sampah dan sanksi. Menurut Interpretasi penyaji, permasalahan muncul karena rendahnya kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan sampah dan pemerintah mengendorse pelaksanaan sanksi pada masyarakat yang melanggar perda. Di akhir pemaparan, penyaji menyampaikan keinginannya untuk Kota Samarinda “Saya bermimpi kalau di Kota Samarinda minimal dipisahkan antara sampah organik dan anorganik, plastik, gelas, kaca, logam jika tidak bisa dipisahkan menjadi 3 minimal 2 saja, kalo di Jepang pemisahannya menjadi 7 jenis, kalo di sini masih terlalu jauh, minimal bisa dipisahkan menjadi 2 jenis saja sudah bagus “.

Rasa bangga dan takjub sangat terlihat pada Dr. Rudianto Amirta, S.Hut., MP sebagai Dekan Fahutan Universitas Mulawarman dengan menyampaikan “Selamat kepada LAN yang bisa istiqomah dalam pengelolaan jurnal, permasalahan jurnal adalah masalah kita bersama dan tidak mudah menjaga kesinambungan publikasi apalagi di pengelolaannya, di indonesia barangkali memang banyak kendalanya terutama policy, pendanaan dan penunjang “. Oleh karena itu perlu konsorsium antar lembaga peneliti untuk menangkal kendala-kendala tersebut. Bahwa pada saat ini kita sepakat menulis di peneliti, dosen dan pengajar adalah suatu kewajiban, dan bukan saatnya lagi kita puas dengan apa yang kita kerjakan di jurnal kita. Menariknya lagi menurut narasumber “Isu ini bukan isu yang mudah tapi juga bukan isu yang diminati, namun mungkin di kita yang diminati karena bicara di WPR nya, Namun demikian kejelian beliau mengangkat saya mengucapkan selamat “

Sebagai penutup paparan narasumber menyampaikan “5 tahun terakhir ini kita aman, kebaharuan terpenuhi, tema terpenuhi, namun yang jadi masalah peneliti di Indonesia, kenapa susah menulis? karena membacanya juga susah, hampir semua referensi bahasa inggris, karena dengan membaca kita mendapat banyak hal dan banyak ide, baik outline penulisan, metode, visualisasi outputnya dan caranya kemana. Ada dosen yang salah memilih jurnal, akhirnya mengeluh dan hopeless, dipikir memilih jurnal itu hanya cocok padahal ada historical publication, ada jurnal yang butuh 4 bulan, 1 tahun, 2 tahun dan bahkan ada yang cuma 3 bulan”.

Penyelenggaraan “Bedah Jurnal 2017 “mendapatkan respon yang baik bagi audiens yang hadir. Tiga jam pembahasan dan diskusi seperti tidak cukup memuaskan semangat audiens untuk bertanya dan menyampaikan pendapat. Semoga Pengelola Jurnal Borneo dapat terus menyelengarakan “Bedah Jurnal“ dan dapat menginspirasi setiap orang untuk terus menulis di jurnal ilmiah. (WLA)

Share this post