Bedah Jurnal III : Membedah Metodologi Penelitian Kualitatif

Bedah Jurnal III : Membedah Metodologi Penelitian Kualitatif

Menyusul kesuksesan bedah jurnal I dan II, kembali bedah jurnal PKP2A III LAN hadir untuk merangkul pengampu jabatan fungsional tertentu  (Peneliti, Widyaiswara, Analis Kebijakan, dan Dosen) untuk  mengupas tuntas metode penelitian kualitatif. Hadir sebagai pembicara dalam kegiatan yang berlangsung di tanggal 14 Desember 2017 di ruang kelas PKP2A III LAN adalah DR. Enos Paselle, MAP. Setelah acara dibuka oleh Kasubbag Keuangan yang mewakili Kepala Pusat. Pak  Enos, demikian narasumber di panggil langsung menyampaikan materi secara bernas  (mengingat banyaknya materi yang akan disampaikan dengan alokasi waktu yang terbatas). Disampaikan bahwa adanya dikotomi metode kuantitatif dan kualitatif pada akhirnya tidak terlepas dari keyakinan para peneliti yang bersangkutan tentang apa yang akan digunakan. Ketika metode kualitatatif dianut sedemikian rupa oleh para ‘penganutnya’, maka sesungguhnya ia hadir untuk mengisi ruang kelemahan penggunaan metode kuantitatif.

Keunggulan dari penggunaan metode kualitatif adalah posisi peneliti yang dapat menjadi instrumen kunci sehingga peneliti yang bersangkutan harus bersifat komunikatif dan adaptif. Namun demikian, penelitian dengan menggunakan metode kualitatif masih banyak diklaim bersifat subyektif, sehingga  perlu menjadi catatan  bahwa untuk menghindari kondisi tersebut maka dalam suatu  penelitian kualitatif yang perlu diperhatikan adalah  harus bicara apa adanya atas hasil penelitian yang telah dilakukan. Begitu besarnya kans untuk munculnya suatu novelty (kebaruan) dari sebuah penelitian kualitatif, maka biasanya desain sementara (proposal) penelitian kualitatif bisa bersifat tentatif karena berangkat dari sebuah fenomena. Pintu masuk lainnya untuk kehadiran novelty dari sebuah  penelitian kualitatif  adalah adanya karakteristik penelitian kualitatif yang beranjak dari  pemikiran tentang bagaimana membuktikan sebuah teori (dalam hal ini  lebih pada bagaimana membangun sebuah konsep), sehingga pada akhirnya penelitian kualitatif akan dapat menentukan  tentang bagaimana sebuah teori dikonstruk, dianomali atau dilemahkan.

Untuk lebih menjaga  dinamika pelaksanaan diskusi, di sela atau selesai pemaparan dari narasumber dilakukan sesi tanya. Pertanyaan diawali oleh Shinta dari kalangan akademisi (Widyagama) yang menanyakan tentang teknik pengumpulan data, menurutnya apakah bisa digabungkan dalam suatu penelitian teknik pengumpulan poposive dan snowball. Pertanyaan selanjutnya dari Nazri yang merupakan dosen dari Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur,  Pertanyaannya  masih melanjutkan dari keingin tahuan dari karakteristik penelitian kualitatif yang subyektif dan menjurus ke bias sebagai akibat dari adanya pendapat yang meragukan hasil sebuah penelitian kualitatif oleh kaum positivisme. Narasumber memberikan jawaban,  dalam kasus munculnya anggapan subyektivitas, munculnya situasi tersebut tidak  terlepas dari adanya proses indepth  interview yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian kualitatif, dimana hasil penelusuran penelitian itulah yang akan menjadi hasil penelitian, padahal memang harus demikian kondisinya. Contoh riil adalah penelitian mengenai pengukuran kemiskinan, selama ini untuk penelitian pengukuran kemiskinan selalu menggunakan metode kuantitatif, padahal bisa juga melalui pendekatan kualitatif, jika berkaitan tentang penggambaran kondisi sosial yang melatar belakangi masalah kemiskinan.

Pertanyaan lainnya berasal dari Asnawi yang juga merupakan akademisi, pertanyaannya bertakitan dengan penelitian hukum dengan menggunakan pendekatan yustifis, menurutnya bagaimana  posisinya, terlebih dengan sumber primer berupa undang-undang. Sebagai pertanyaan pemungkas karena keterbatasan waktu, diajukan oleh Widya dari BKPPD Kota Samarinda. Pertanyaannya masih menanyakan lebih dalam mengenai bagaimana untuk mengetahui penelitian kualitatif itu baik apa tidak karena  menurutnya ada  istilah observer reability, bagaimana membandingkannya?  karena mengambil data tidak terlepas dari prasangka, apakah ada pendekatan tersendiri? Setelah menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan, narasumber mengajak para kalangan akdemisi yang hadir untuk  melakukan penelitian bersama dengan  berkolaborasi guna  menguji metode penelitian kualitatif dengan berbagai metode analisis yang telah disampaikan, untuk membuktikan ada atau tidaknya anomali dari teori yang sudah ada/tersampaikan tersebut (TW).

Share this post