Catatan Expert On Call Edisi Pertama

Catatan Expert On Call Edisi Pertama

Awalnya ada tiga hal yang ingin digali dari Pak Tri Widodo W. Utomo (Deputi Inovasi  Administrasi Negara LAN RI), namun dalam perjalanannya berkembang menjadi diskusi inovasi yang hangat dan menarik. Ketiga hal tersebut adalah sharing goals Kedeputian Inovasi tahun 2018 serta peran PKP2A III LAN; Penjelasan terkait D yang ke-6 dari tahapan Lab Inovasi; serta Arahan terkait pelaksanaan Lab Inovasi PKP2A III LAN dan workshop Champion Innovation.

Dijelaskan dengan lugas bahwa Kedeputian Inovasi Tahun 2018 mencoba meningkatkan kualitas program-program inovasi LAN, termasuk tambahan D yang ke-6 sebagai upaya untuk MENGINOVASI INOVASI. Kemudian secara eksternal, Kedeputian Inovasi ingin memastikan bahwa inovasi semakin banyak dipraktekkan oleh Aparatur Sipil Negara dan semakin menyebar secara merata, baik distribusi daerah maupun jumlah daerah yang mengikuti program-program inovasi LAN.

Berikutnya, Kedeputian Inovasi mendorong bahwa INOVASI itu BUKAN UNTUK INOVASI, tetapi inovasi untuk mewujudkan tujuan-tujuan berbangsa dan bernegara yang lebih strategis. “Kita ingin Tahun 2018, tahun untuk momentum pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) dimana misalnya, goals yang pertama dari 17 goals yang ada adalah no poverty. Jadi bagaimana inovasi bisa mengurangi tingkat kemiskinan, salah satu upaya kita adalah mengidentifikasi inovasi-inovasi apa saja yang berada pada kluster pengentasan kemiskinan, dan kebutuhan inovasi-inovasi apa saja yang harus kita ciptakan untuk menurunkan kemiskinan” ujar pak Tri. Oleh karenanya, pada saat pengelolaan Lab Inovasi selanjutnya serta pelaksanaan workshop champion innovation, perlu dikaitkan dengan isu-isu strategis di dalam SDGS tersebut. Dengan demikian, inovasi pada akhirnya bisa berkontribusi terhadap pencapaian tujuan berbangsa dan bernegara tersebut.

Lab Inovasi tahun ini menawarkan D yang ke-6 yaitu DOKUMENTASI (sebelumnya 5D), yang dilatarbelakangi pada upaya mendokumentasikan jejak-jejak sejarah pembangunan inovasi di suatu daerah ke dalam suatu buku yang didesain secara menarik-elegan dan dipublikasikan secara luas. Tujuan lain hadirnya DOKUMENTASI ini adalah memudahkan daerah menindaklanjuti program Lab Inovasi pada tahun-tahun berikutnya dalam wujud mengikutsertakan inovasi-inovasi mereka di kompetisi-kompetisi inovasi seperti, IGA-Kemendagri dan Sinovik-Kemenpan-RB. Dengan demikian, “Daerah tidak berangkat dari nol lagi ketika mengusulkan penilaian inovasi itu, tetapi cukup dari inovasi-inovasi yang sudah terdokumentasi dengan baik itu” terang pak Tri.

Kemudian pasca Laboratorium Inovasi, idealnya daerah sudah mampu melakukan proses pelembagaan inovasi. Namun demikian, banyak daerah yang belum mampu melakukan proses pelembagaan inovasi tersebut. Oleh karenanya, LAN mendorong berbagai program-program inovasi berkelanjutan, seperti Street Level Innovation; Pelatihan bagi agen-agen perubahan di masing-masing OPD; Pembentukan Komite Inovasi Daerah; Mengadakan lomba-lomba inovasi antar OPD,  hingga pada konsep Leaderpreneurship (saat ini sedang disusun rancangan dan metodologi penerapannya).

Hadirnya Leaderpreneurship diharapkan bisa memacu kinerja pembangunan daerah, sebab fokusnya pada OPD-OPD yang memiliki potensi tertentu namun belum terkelola dengan baik, “Misalnya potensi pertanian perkebunan kehutanan, bagaimana daerah bisa memperoleh manfaat dan nilai tambah dari potensi tersebut. Sehingga kita butuh leader yang tidak hanya memiliki spirit entreprenurship tetapi mampu membangkitkan jiwa interpreneurship di sektor yang dipimpinnya” tegas pak Tri.

Diskusi Expert On Call akhirnya berkembang terkait penerapan PP 38/ 2017 Tentang Inovasi Daerah serta posisi Lab Inovasi. Hadirnya PP inovasi tersebut pada dasarnya sangat relevan dan sangat kompatibel dengan Lab Inovasi yang selama ini dijalankan oleh LAN. Kedudukan Lab Inovasi adalah dalam upaya mendampingi OPD dan para ASN agar mampu mengidentifikasikan inovasi dan mengusulkan kepada pimpinan OPD untuk disampaikan ke lembaga Litbang untuk direview (Pasal 7 dan 10). Jika hasil review tersebut memutuskan untuk dijalankan, maka akan masuk ke tahap ujicoba atau Deliver, baru kemudian menginjak ke tahap Display sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada konstituen atau akuntabilitas publik. Bukan sekedar akuntabilas administrasi, cukup dituangkan di LAKIP. Justru yang paling bagus adalah akuntabiltas publik. Bagaimana inovasi dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat atau pengguna. Sekaligus evaluasi secara menyeluruh. Oleh karenanya, Lab Inovasi secara terang benderang membantu daerah untuk dapat mengimplementasikan PP 38/ 2017 itu secara optimal.

Di dalam PP 38/ 2017 juga disebutkan tentang menghak-PATEN-kan inovasi. Terkait hal ini, terdapat perbedaan antara Paten dan Lab Inovasi. PATEN sifatnya adalah penemuan baru (invention) yang didasari pada Sains dan Teknologi (IPTEK), sedangkan Lab Inovasi bukan penemuan baru melainkan perbaikan baru atau cara kerja baru (bukan something yang totally news) dan sifatnya aplikasi pada pelayanan publik. Namun demikian, pada tingkatan tertinggi inovasi pelayanan publik yang sifatnya non profit ini, inovasi-inovasi yang dihasilkan cukup diusulkan untuk mendapatkan hak cipta.

Ulasan berikutnya adalah terkait Sistem Inovasi Daerah (SIDA) yang secara konkrit diharapkan dapat mengintegrasikan dan menginterelasikan mulai fungsi perencanaan inovasi, pengembangan kapasitas inovasi, hingga sampai pada fungsi evaluasi inovasi (dokumentasi dan pengukuran dampak inovasi). Program-program inovasi LAN perlu diterjemahkan sebagai upaya membangun SIDA tersebut. Adapun SIDA yang cenderung ditampilkan berbasis teknologi/ aplikasi, maka peran LAN untuk menjelaskan dengan banyak contoh-contoh aktualisasi inovasi yang dijalankan tanpa aplikasi (non-teknologi), sehingga wawasan daerah lebih terbuka bahwa inovasi tidak harus ada unsur teknologinya.

Terakhir, Pak Tri berpesan kepada para CPNS agar proses habituasi (pembiasaan) hal-hal yang baik mulai dijalankan dan menanggalkan hal-hal yang buruk. CPNS dapat melihat contoh-contoh yang baik di kantor dan mulai mampu menjadi role model dalam menjalankan kebaikan bagi orang lain dan organisasi. “Posisi CPNS LAN ditempatkan sangat tinggi dan merupakan percontohan Indonesia masa depan yang akan membawa Indonesia keluar dari krisis. Kita perlu memikirkan seberapa signifikan kontribusi kita bagi bangsa dan negara. Ambil peran dan tantangan yang diberikan, yakini bisa lebih baik dari senior yang ada” tutup Pak Tri.

Share this post