Author - admin

PKP2A III LAN Kembali Akan Gelar JIK

Marimar : Tujuan Mulianya Mengubah Cara Pandang Pengelolaan Kalimantan

SAMARINDA – Pusat Kajian Pendidikan dan Pelatihan Aparatur III Lembaga Administrasi Negara (PKP2A III LAN) akan kembali menggelar ajang prestisius Jambore Inovasi Kalimantan (JIK). Ajang berkumpulnya inovator se Kalimantan untuk mempromosikan dan mendiseminasikan hasil alumni diklat di wilayah Kalimantan (JIK 2017) tersebut rencananya diselenggarakan di Provinsi Kalimantan Selatan, 2 – 6 Agustus 2017.

Kepala PKP2A III LAN Samarinda, Mariman Darto menyebut JIK merupakan even tahunan yang dirancang untuk mendesiminasikan berbagai inovasi pelayanan publik sebagai bukti kehadiran pemerintah untuk masyarakat.

Melalui penyajian inovasi administrasi negara dan pelayanan publik yang terbaik, JIK ingin menunjukan bahwa semua unsur ASN di Kalimantan terus berupaya meningkatkan kualitas publik yang semakin prima.

“Tujuan mulianya mengubah cara pandang pengelolaan Kalimantan. Boleh dibilang ini sebagai gagasan cerdas agar ada percepatan transformasi dari sebelumnya dibangun melalui kekuatan natural resources (kekayaan SDA) menjadi Kalimantan berkemajuan yang dibangun dengan soft competency (kemampuan atau keahlian),” kata Mariman Darto saat memberikan keterangan pers, di Kantor PKP2A III LAN Samarinda, Jumat (21/7).

Menurutnya, ada tiga faktor yang dibutuhkan untuk menunjang soft competency menjadi modal memajukan daerah, yakni inovasi, jaringan, dan teknologi.

Akan tetapi yang terpenting inovasi. Melalui karya-karya inovatif masyarakat, diyakini Kalimantan akan menjadi pusat peradaban baru yang tumbuh dan maju sejajar dengan daerah atau kawasan lain yang lebih maju.

Sayangnya, tradisi membangun budaya berinovasi belum terbangun dengan baik. Karenanya kegiatan JIK diharap menjadi media menyuarakan tradisi membangun budaya berinovasi.

“Melalui JIK juga akan mendorong lahirnya semangat kreatifitas, inovasi, dan entrepreneurship di Kalimantan. Pada akhirnya JIK menjadi ajang bertemunya para innovator pelayanan publik untuk saling berbagi, berkolaborasi, dan saling mereplikasi dan mendiseminkasikan ide-ide kreatif da inovatif,” sebutnya.

JIK akan mempresentasikan dan mendokumentasikan inovasi-inovasi terbaik yang dilakukan baik oleh alumni diklat kepemimpinan, maupun oleh aparatur pemerintah lainnya. JIK dirancang untuk menjadi even tahunan pemberian penghargaan Borneo Innovatioan Award, Talk Show Inovasi, dan pameran inovasi pelayanan publik di Kalimantan.

“Semangat JIK diharapkan menjadi instrument kunci perubahan menjadi Kalimantan yang berbeda karena menjadikan inovasi sebagai kunci atas semua permasalahan yang ada. Menjadikan inovasi sebagai aktifitas dan paradigm baru hingga akhirnya mencapai Kalimantan yang terdepan dalam kemajuan dan kesejahteraan masyarakat,” sambungnya.

Selain itu, program ini diharapkan dapat mendorong ketersediaan forum dan even penguatan jejaring kerja inovasi di wilayah Kalimantan yang akan meningkatkan penghargaan publik terhadap inovasi-inovasi yang terus dilakukan alumni diklat kepemimpinan.

Rangkaian JIK 2017 didahului oleh pelaksanaan SINOPADIK (Kompetisi Inovasi Pasca Diklat Kepemimpinan) bagi alumni Diklat PIM Tk III dan IV di wilayah Kalimantan yang telah berjalan sejak Januari 2017 hingga penetapan finalis utama pada saat puncak JIK pada 4 Agustus 2017.(diskominfo kaltim/arf)

PKP2A III LAN Kembali Akan Gelar JIK

Marimar : Tujuan Mulianya Mengubah Cara Pandang Pengelolaan Kalimantan

SAMARINDA – Pusat Kajian Pendidikan dan Pelatihan Aparatur III Lembaga Administrasi Negara (PKP2A III LAN) akan kembali menggelar ajang prestisius Jambore Inovasi Kalimantan (JIK). Ajang berkumpulnya inovator se Kalimantan untuk mempromosikan dan mendiseminasikan hasil alumni diklat di wilayah Kalimantan (JIK 2017) tersebut rencananya diselenggarakan di Provinsi Kalimantan Selatan, 2 – 6 Agustus 2017.

Kepala PKP2A III LAN Samarinda, Mariman Darto menyebut JIK merupakan even tahunan yang dirancang untuk mendesiminasikan berbagai inovasi pelayanan publik sebagai bukti kehadiran pemerintah untuk masyarakat.

Melalui penyajian inovasi administrasi negara dan pelayanan publik yang terbaik, JIK ingin menunjukan bahwa semua unsur ASN di Kalimantan terus berupaya meningkatkan kualitas publik yang semakin prima.

“Tujuan mulianya mengubah cara pandang pengelolaan Kalimantan. Boleh dibilang ini sebagai gagasan cerdas agar ada percepatan transformasi dari sebelumnya dibangun melalui kekuatan natural resources (kekayaan SDA) menjadi Kalimantan berkemajuan yang dibangun dengan soft competency (kemampuan atau keahlian),” kata Mariman Darto saat memberikan keterangan pers, di Kantor PKP2A III LAN Samarinda, Jumat (21/7).

Menurutnya, ada tiga faktor yang dibutuhkan untuk menunjang soft competency menjadi modal memajukan daerah, yakni inovasi, jaringan, dan teknologi.

Akan tetapi yang terpenting inovasi. Melalui karya-karya inovatif masyarakat, diyakini Kalimantan akan menjadi pusat peradaban baru yang tumbuh dan maju sejajar dengan daerah atau kawasan lain yang lebih maju.

Sayangnya, tradisi membangun budaya berinovasi belum terbangun dengan baik. Karenanya kegiatan JIK diharap menjadi media menyuarakan tradisi membangun budaya berinovasi.

“Melalui JIK juga akan mendorong lahirnya semangat kreatifitas, inovasi, dan entrepreneurship di Kalimantan. Pada akhirnya JIK menjadi ajang bertemunya para innovator pelayanan publik untuk saling berbagi, berkolaborasi, dan saling mereplikasi dan mendiseminkasikan ide-ide kreatif da inovatif,” sebutnya.

JIK akan mempresentasikan dan mendokumentasikan inovasi-inovasi terbaik yang dilakukan baik oleh alumni diklat kepemimpinan, maupun oleh aparatur pemerintah lainnya. JIK dirancang untuk menjadi even tahunan pemberian penghargaan Borneo Innovatioan Award, Talk Show Inovasi, dan pameran inovasi pelayanan publik di Kalimantan.

“Semangat JIK diharapkan menjadi instrument kunci perubahan menjadi Kalimantan yang berbeda karena menjadikan inovasi sebagai kunci atas semua permasalahan yang ada. Menjadikan inovasi sebagai aktifitas dan paradigm baru hingga akhirnya mencapai Kalimantan yang terdepan dalam kemajuan dan kesejahteraan masyarakat,” sambungnya.

Selain itu, program ini diharapkan dapat mendorong ketersediaan forum dan even penguatan jejaring kerja inovasi di wilayah Kalimantan yang akan meningkatkan penghargaan publik terhadap inovasi-inovasi yang terus dilakukan alumni diklat kepemimpinan.

Rangkaian JIK 2017 didahului oleh pelaksanaan SINOPADIK (Kompetisi Inovasi Pasca Diklat Kepemimpinan) bagi alumni Diklat PIM Tk III dan IV di wilayah Kalimantan yang telah berjalan sejak Januari 2017 hingga penetapan finalis utama pada saat puncak JIK pada 4 Agustus 2017.(diskominfo kaltim/arf)

JIK Ajang Inovasi Pelayanan Publik

SAMARINDA – Tahun ini Pusat Kajian Pendidikan dan Pelatihan Aparatur III Lembaga Administrasi Negara (PKP2A III LAN) Kaltim kembali menggelar even regional Kalimantan.
Kegitan yang diikuti para alumni Diklatpim tingkat III dan IV yang digelar setiap tahun ini berupa Jambore Inovasi Kalimantan (JIK) untuk lima provinsi di negeri Borneo.
Menurut Kepala PKP2A III LAN Kaltim Mariman Darto, JIK merupakan even tahunan untuk mendiseminasikan berbagai inovasi pelayanan publik.
“JIK merupakan ajang para inovator pelayanan publik untuk berbagi, berkolaborasi dan merefleksikan ide-ide kreatif dan inovasi,” katanya saat press conference di Gedung PKP2A III LAN Kaltim, Jumat (21/7).
Selain itu, JIK dirancang menjadi event tahunan pemberian penghargaan Borneo Innovation Awards, talk show inovasi dan pameran inovasi pelayanan publik di Kaltimantan.
Dia menjelaskan JIK tahun ini didahului pelaksanaan kompetensi inovasi pasca Diklat Kepemimpinan (Sinopadik) sejak Januari berakhir hingga penetapan finalis pada 4 Agustus 2017.
Diharapkan melalui JIK mampu mendorong lahirnya semangat kreativitas, inovatif dan entrepreneurship di Kalimantan.
Mariman mengungkapkan sejak awal ada sekitar 49 inovasi yang masuk dalam nominator dan diambil 15 pemenang atau tiga pemenang masing-masing provinsi di Kalimantan.
“Pada akhirnya dipilih lima inovasi terbaik untuk memperoleh anugerah Borneo Innovation Awards yang diserahkan Menpan RB Asman Abnur pada 4 Agustus mendatang,” jelasnya.
Dia menyebutkan peserta JIK di Kalimantan Selatan diperkirakan mencapai 375 orang terdiri para gubernur dan bupati/walikota se-Kalimantan, mentor dan alumni Diklatpim III dan IV, pimpinan dan pejabat struktural dari BPSDM dan BKD, masyarakat, korporasi dan media.
JIK 2017 dipusatkan di Lapangan Dr Murjani Banjarbaru Kalsel dirangkai Kalsel Expo 2017 diisi 15 stand booth finalis Sinopadik dan 150 stand lainnya. (yans/sul/humasprov)

Memimpin Perubahan: Dari Pendekatan Formal ke Informal

“Saya memegang teguh prinsip Jenderal Sudirman bahwa setiap pemimpin harus berada di tengah-tengah rakyatnya. Saya berharap, seluruh peserta Diklat Pim II ini bisa menjiwai spirit yang dibangun oleh Pak Dirman tersebut.”  Demikian Paman Birin, panggilan akrab Gubernur Kalimantan Selatan, dalam sambutannya pada pembukaan Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan II (Diklat Pim II), di Aula Idham Khalid, Banjarbaru, Senin lalu (10/7/2017).Menarik. Apa yang disampaikan Paman Birin tersebut merupakan salah satu ciri pemimpin adaptif yang didambakan rakyat. Rakyat bisa menyampaikan harapannya, dan pemimpin bisa mendengarnya secara langsung. Aparatur Sipil Negara (ASN) mampu menjembatani  dan menempatkannya sebagai prioritas program dan kegiatan yang perlu dilaksanakan.Terinspirasi dari semangat Paman Birin tersebut, dalam kesempatan menyampaikan overview Kebijakan Diklat Pim II Angkatan XLIII kelas G, sebagai materi wajib sebelum pembelajaran di kelas, saya menyampaikan materi yang menggugah semangat mereka untuk berubah dan bersedia melakukan perubahan. Menggunakan pendekatan baru dalam melayani masyarakat yang lebih update terhadap perubahan lingkungan strategis. Karena perubahan adalah sebuah keniscayaan. Perubahan adalah cara pandang baru birokrasi pemerintahan ke depan.Dalam sesi diskusi, ada dua catatan menarik dari peserta yang perlu saya tanggapi.

Catatan pertama disampaikan oleh peserta dari sebuah kabupaten pemekaran di Kalimantan Selatan. Beliau menyampaikan kegelisahannya yang menganggap bahwa perubahan di daerahnya sangat sulit dilakukan.

Padahal, dalam Diklat ini, setiap peserta harus menyusun proyek perubahan berupa inovasi baru untuk ditawarkan di daerahnya.

“Apa yang bapak katakan tentang perubahan itu sulit dilakukan. Mustahil dilakukan, kecuali pimpinan daerah menyadari dan merasa memerlukan perubahan itu sendiri. Karena itu penjelasan bapak yang menarik ini perlu juga disampaikan kepada pimpinan daerah agar tahu tentang esensi perubahan: apa, kenapa harus berubah, apa manfaat perubahan, dan lain sebagainya. Kalau kita yang harus berubah sulit sebelum pimpinan daerah itu memahami perubahan,” tegasnya.

Catatan kedua berasal  dari peserta di salah satu kabupaten di Sulawesi Tengah. Dia mengungkapkan, kondisi kemiskinan yang dialami masyarakatnya membuat masyarakat memiliki karakter peminta-minta.

Padahal, proyek perubahannya terkait dengan perubahan budaya masyarakat agar mereka bisa terbebas dari ketergantungan bantuan orang lain. Ia menduga, salah satu kendala yang paling berat dalam melakukan perubahan adalah berhadapan dengan masyarakat yang seperti ini.

“Persepsi masyarakat tentang pemerintah, tentang pejabat adalah sebagai sinterklas. Karakter meminta-minta apalagi menjelang lebaran sudah lama terjadi di daerah saya. Mereka tidak mengenal tempat dan waktu”.

Karakter inilah yang mengganggu perubahan yang akan kita lakukan. Bagaimana bisa bekerja kalau setiap hari kedatangan masyarakat yang meminta-minta ke instansi kita. Terlebih lagi mereka yang mengaku-ngaku LSM dan wartawan yang mengancam untuk melaporkan ke penegak hukum,” jelasnya.

Inilah gambaran sebagian pejabat kita di daerah, yang bisa kita lihat dari cara pandangnya terhadap perubahan. Resisten terhadap perubahan (Garry Yukl, 2010), mengeluh sebelum melakukan perubahan, bekerja selalu dengan asumsi, bekerja dengan logical thinking, cenderung formalitas atau menggunakan kekuatan kewenangan atau kekuasaan untuk melayani, dan lebih banyak menggunakan bahasa perintah.

Cara pandang birokrasi seperti ini sering kita sebut sebagai cara pandang formal authority. Cara pandang yang sangat sempit, hanya bicara tentang taktikal manajerial. Seringkali masalah yang ada di masyarakat didekati cara pandang taktikal-manajerial, sehingga perspektf bekerja yang penting bisa menghasilkan output, dan setelah itu tidak perlu melakukan apa-apa.

Padahal tugas eselon 2, sebagai kepemimpinan strategis, lebih didorong ke arah pencapaian nilai tambah (outcomes) dan manfaat (benefits/impact) apa yang timbul akibat pelaksanaan sebuah program dan kegiatan.

Inilah pernyataan kita setelah sahabat, teman, senior, atau kerabat kita usai pelantikan: semoga amanah. Dalam perspektif saya, amanah adalah kemampuan seseorang menjalankan tugas sesuai sumpah jabatan yang telah diucapkannya, sekaligus berhasil melakukan pencapaian target nilai tambah dan manfaat yang ditargetkan pimpinan yang lebih tinggi.

Bekerja di tengah perubahan lingkungan strategis yang demikian cepat, di mana setiap pimpinan dituntut untuk mampu memproduksi gagasan-gagasan baru (ability to create new think) yang solutif terhadap problematika yang dihadapi masyarakat, yang kemudian mampu melaksanakan gagasan barunya itu untuk meningkatkan nilai tambah dan manfaat (ability to apply new think).

Seorang pemimpin adaptif adalah sosok cerdas. Bukan karena IQ-nya, tapi karena kemampuannya untuk mendengarkan secara seksama. Membuat tindakan melalui kemampuan beradaptasi terhadap realitas yang berubah. Sosok yang pandai memanfaatkan waktu dan tidak mau menunda pencapaian target nilai tambah dan manfaat sebagai acuan dalam kinerja kepemimpinannya. Sumber daya yang terbatas tidak masalah baginya. Yang ada dalam benaknya adalah bagaimana memanfaatkan yang ada untuk mendorong kinerja terbaik untuk organisasi.

Kepemimpinan birokrasi yang adaptif menjadikan manusia sebagai subyek pembangunan. Masyarakat menjadi subyek utama. Perencanaan program dan kegiatan menjadi gambaran nyata dari deretan tuntutan dan kebutuhan warga bangsa.

Karena itu wajar jika ada daerah yang kemudian melakukan pameran anggaran sebagaimana Bupati Bojonegoro, Batang, Banyuwangi, dan lain sebagainya. Selalu mengajak warga untuk mengatasi bahkan meminta masyarakat untuk terlibat dalam evaluasi dan pelaporan sebuah kegiatan.

Kemampuan pemimpin adaptif sampai tahap ini tidak datang tiba-tiba. Tapi berangkat dari transformasi diri soal cara pandang baru tentang masa depan. Kepemimpinan adaptif adalah kepemimpinan masa depan. Kepemimpinan yang lebih menonjolkan creative thinking.

Kepemimpinan yang menjadikan inovasi sebagai urat nadi organisasi. Kepemimpinan yang mengedepankan kolaborasi untuk mencapai tujuan organisasi. Kemampuan membangun networking dan penguasaan teknologi (digital mastery) dalam mencapai visi organisasi.

Kepemimpinan yang adaptif selalu menggunakan pendekatan informal authority bukan formal authority. Bahasa komunikasinya lebih cair dan tidak mengesankan bahwa kita adalah pejabat yang harus selalu dihormati, harus berwibawa, harus ditakuti oleh rakyat, dan segala atribut kekuasaan lainnya.

Kedekatan hubungan antara rakyat dan pemimpinnya didesain untuk saling membutuhkan, bukan vis a vis. Bukan priyayi dan kawulo alit. Bukan juragan dan pembantunya. Bukan atasan dan bawahannya.

Kepemimpinan adaptif akan selalu hadir di tengah-tengah rakyatnya. Sebagaimana kepemimpinan Jenderal Sudirman yang tidak mau jauh dari rakyatnya. Sudirman selalu berada di tengah-tengah pasukan dan rakyatnya, agar bisa lebih banyak mendengarkan rakyatnya. Semua itu dilakukannya untuk sebuah cita-cita agar semua merasa memiliki Indonesia, semua merasa perlu memperjuangkan keindonesiaan kita.

Karena semua merasa memilikinya, maka apapun tindakan dari dalam dan dari luar yang mengancam martabat dan kehormatan bangsanya, serentak rakyat dan semua unsur dari bangsa dan negara ini akan memberikan perlawanan secara bersama.

Prinsip penting Pak Dirman tersebut seharusnya menginspirasi para pemimpin. Baik pada level menteri, kepala lembaga/badan, gubernur, bupati/walikota, maupun pimpinan di jabatan ASN, mulai dari JPT, pejabat administrator, pengawas dan lain sebagainya.

Sebuah organisasi dengan kepemimpinan adaptif mampu memastikan setiap elemen organisasi merasa memiliki organisasinya sehingga semuanya bertanggung jawab dan ikut merawat keberadaannya. Pemimpinnya visioner, membumi, dan tidak mengabaikan tuntutan masyarakat. Visinya dibangun dari kemampuannya menerjemahkan harapan, mimpi, dan tuntutan publik serta tidak dibangun dari keinginan atau vested pribadinya.

Karena itu jawaban atas dua catatan peserta Diklat Pim 2 tadi, selalu tertumpu pada pola pikir dan kemampuan membangun kultur perubahan. Yang dapat digambarkan sebagai berikut :

Pertama, memimpin adalah membuka hati kita akan pentingnya kesadaran dan kemauan untuk berubah. Kita harus menyadari bahwa mentor atau atasan langsung yang tidak mau berubah adalah tantangan kepemimpinan yang adaptif.

Kedua, kepemimpinan pada level strategis adalah soal bagaimana kemampuan kita membangun konsep inovasi yang paling dibutuhkan masyarakat, dan akan membantu mempermudah mengkomunikasikannya kepada atasan langsung kita.

Ketiga, kemampuan komunikasi kita ke atasan langsung, bisa ke menteri atau pimpinan lembaga/badan, gubernur, dan bupati/walikota harus terasah. Seringkali masalahnya bukan pada mereka. Namun ada pada diri kita. Mereka bukan tidak mau berubah, namun mereka membutuhkan kita untuk menemukan solusi atas persoalan yang dihadapi. Inilah esensinya. Keberadaan kita adalah untuk menyelesaikan masalah, bukan bagian dari masalah itu sendiri.

Karena itu, keempat, kemampuan mengatasi belenggu diri, seperti tidak mau berubah, selalu resisten terhadap perubahan, status quo, dan lain-lain perlu lebih baik. Jangan pernah membayangkan dan meminta bahkan memaksa orang lain untuk berubah.

Maka mulailah perubahan itu dari diri kita. Mulailah dari hal-hal kecil agar terjadi habituasi dalam diri kita agar kalau ada masalah yang lebih besar kita bisa belajar mengatasinya dengan baik. Perubahan harus dimulai dari sekarang dan tidak bisa ditunda. Agar kesempatan yang Allah berikan pada kita sebagai seorang pemimpin tidak sia-sia.

Kita semua menyadari ketika kita mau menerima amanah sebagai seorang pemimpin, maka berbagai tantangan, tekanan, dan persoalan dari segala penjuru akan datang menghampiri kita. Tantangan adalah keniscayaan. Kesadaran inilah yang diharapkan ada di setiap diri seorang pemimpin.

Sebuah kesadaran dan kemauan menerima tantangan, tentu dengan bekal sabar dan ikhlas, akan menjadikan pemimpin menemukan jalan, sekalipun jalan itu tak terduga. Setiap kita akan mendapatkan pengalaman yang menjadi bekal bagi bangunan karakter pemimpin yang tangguh. Pemimpin pembelajar yang hebat.

Kuatnya kesalehan spiritual akan mengokohkan posisi kita, apalagi ditunjang dengan kesalehan sosial, kuatnya komunikasi dan pendekatan sosial, yang diwarnai dengan sikap dan perilaku baik seorang pemimpin terhadap atasan, bawahan, kolega,  dan rakyat sebagai konstituen.

Sepakatlah kita dengan sumber masalah. Masalah bersumber bukan dari orang lain, namun berasal dari diri saya, anda, dan kita sekalian. Maka marilah berubah untuk memahami tanda-tanda perubahan zaman. Agar kesejahteraan dan keadilan bisa juga dirasakan oleh mereka yang tidak berkemampuan. Karena perubahan itu adalah saya, anda, dan kita yang hari ini diberikan amanah untuk memimpin. Wallahu a’lamu bi shawab.

*) Mariman Darto
sumber : http://www.birokratmenulis.org/memimpin-perubahan-dari-pendekatan-formal-ke-informal/

Benchmarking, Peserta RLA Kunjungi Negeri Kepala Singa

Sebanyak 25 orang Peserta Reform Leader Academy Angkatan X mengikuti kegiatan Benchmarking ke Singapura, pada tanggal 11-16 Juni 2017. Sebelum melakukan International Benchmarking ke Singapura, Peserta Pelatihan RLA Angkatan X melakukan National Benchmarking ke Kementerian Kelautan dan Perikanan, untuk mendapatkan sharing learning experience dan best practices yang telah dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan RI serta kemungkinan penerapannya di instansi masing-masing.

Usai kunjungi Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, peserta kunjungi pun LAN RI. “Kita telah menghabiskan banyak energi, tenaga dan pikiran, serta anggaran. Namun reformasi birokrasi tidak banyak bergerak. Ibaratnya komedi putar seolah berputar tapi tidak beranjak dari tempat semula,” ujar Kepala LAN Dr. Adi Suryanto, M.Si saat menerima kunjungan peserta Pelatihan Reform Leader Academy (RLA) Angkatan X di Ruang Rapat Pimpinan, Kantor LAN Jakarta, Selasa (13/6).Rombongan peserta Diklat RLA yang dipimpin oleh Kepala PKP2A III LAN Samarinda Mariman Darto menerima arahan dari Kepala LAN sebelum bertolak untuk melaksanakan International Benchmaking ke Singapura.

Auditor-General’s Office merupakan Lembaga Negara yang independen yang memiliki fungsi sebagai auditor Pemerintah dan memberikan laporan langsung kepada Presiden dan parlemen. AGO memainkan peranan penting dalam meningkatkan akuntabilitas Pemerintah Singapura dalam pengelolaan dan penggunaan anggaran publik. Dalam auditnya, AGO akan memastikan bahwa setiap dana/anggaran dapat dialokasikan dengan baik, tidak ada pemborosan dan sesuai dengan hukum dan undang-undang yang berlaku. Sebagai Lembaga Negara yang independen, AGO dapat dengan bebas mengaudit Kementerian, Lembaga, Badan Negara maupun Badan Usaha Milik Negara tanpa ada tekanan dan unsur-unsur lain yang dapat mempengaruhi hasil dan kinerja Auditor.

Jumlah Warga Negara Indonesia di Singapura menurut data dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura per Januari 2017 mencapai 163.190 orang. Jumlah ini diperkirakan bisa mencapai 200 ribu orang mengingat banyak WNI yang tidak melaporkan dirinya. Dari total jumlah WNI tersebut, sebagian besar bekerja di Singapura sebagai TKI informal, yakni mencapai 80.973 orang, disusul kemudian WNI yang bekerja sebagai anak buah kapal (ABK) yang mencapai 28.465 orang. Hanya sedikit yang menjadi tenaga profesional, yakni mencapai 16.374 orang, sedangkan yang berstatus sebagai pelajar atau mahasiswa mencapai 9.363 orang.Dengan jumlah Staff sebanyak 96 orang (36 home staff, 60 local staff) KBRI Singapura senantiasa berusaha meningkatkan pelayanan bagi warga negaranya. Salah satu inovasi pelayanan publik yang dilakukan, yakni membuat Kartu Pekerja Indonesia Singapura (KPIS) berikut dengan sistem basis data terpadunya. Menurut Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI di Singapura, H.E. Ngurah Swajaya, KPIS bukan hanya sebatas kartu identitas bagi para pekerja. KPIS juga sudah dilengkapi dengan aplikasi KBRI Singapura tentang informasi terkini, buku PLRT, undangan, hingga pengaduan.

Bertempat di trade showcase Indonesia atau ruang pamer produk-produk Indonesia di KBRI Singapura, Dubes Ngurah juga menerangkan fungsi dari ruang trade showcase Indonesia untuk meningkatkan ekspor produks ekspor unggulan nasional. Ruang pamer, yang diresmikan akhir Desember 2016 ini tidak hanya menampilkan beberapa produk unggulan yang dipamerkan tetapi juga menyediakan katalog digital, pengunjung dapat juga melakukan transaksi secara online untuk mendapatkan produk-produk unggulan asal Indonesian.
KBRI juga telah meluncurkan “Dashboard Tenaga Kerja Indonesia di Singapura” yang memberikan informasi terkini secara real time mengenai berbagai aspek terkait perlindungan TKI di Singapura.

AGC di Singapura berperan sebagai Jaksa Agung dan juga penuntut umum bagi Pemerintah Republik Singapura. Sebagai penasihat hukum utama Pemerintah, AGC memegang peranan penting dalam memastikan supremasi hukum dalam penyelenggaraan pemerintahan Negara, terutama dalam memelihara ketertiban dan perlindungan terhadap hak-hak warganya serta memberikan penuntutan yang bersifat adil dan independen, untuk menjadikan Singapura sebagai Negara yang demokratis dan berkeadilan.
Di antara fungsi utama Attorney General Chamber’s Singapura adalah:
– Penasehat Hukum Pemerintah
AGC memberikan masukan kepada Pemerintah mengenai masalah hukum. AGC juga melakukan tugas hukum lainnya yang ditunjuk atau ditugaskan Negara melalui Presiden atau Kabinet.
– Jaksa Penuntut Umum
AGC diberi kewenangan oleh Negara untuk bertindak sebagai Jaksa Penuntut Umum.
– Mengeluarkan Undang-Undang
AGC bertanggungjawab atas penyusunan undang-undang Singapura dan/atau melakukan revisi terhadap undang-undang yang berlaku.
– Perwakilan Hukum Pemerintah Singapura
Semua tindakan hukum oleh atau terhadap Pemerintah akan direpresentasikan oleh AGC. AGC bertugas melindungi kepentingan Singapura di kancah dunia dan dalam perselisihan yang berskala internasional.

Ramadhan Effect

Tanggal 3 Juli 2017 kemarin adalah hari pertama masuk kerja di kantor saya, PKP2A III LAN Samarinda. Tidak seperti biasanya, semua pegawai masuk kerja dengan penuh antusias. Kecuali beberapa pegawai yang mengajukan cuti. Mengawali hari pertama bekerja semua pegawai termasuk rekan-rekan Security dan Cleaning Service mengadakan acara halal bi halal secara sederhana yang ditutup saling memaafkan satu dengan yang lainnya. kegiatan selanjutnya kita manfaatkan untuk Rapat Pimpinan, rapat rutin seminggu sekali yang biasanya kita lakukan setiap hari Senin, membahas beberapa laporan hasil evaluasi pelaksanaan kegiatan semester pertama dan membahas agenda semester kedua. Sore harinya membahas event tahunan Jambore Inovasi Kalimantan Tahun 2017 yang tahun ini akan diadakan di Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan. Membanggakan dan melegakan!

Pada saat banyak pegawai mangkir, justru mereka menunjukkan karakternya sebagai pegawai ASN yang berdedikasi. Pada saat pegawai lain dengan ancaman untuk bisa masuk pada hari pertama dengan pemotongan tunjangan penghasilan tambahan jika tidak masuk, justru kami melakukannya dengan penuh kesadaran. Pada saat pimpinan instansi seperti Menteri, Gubernur dan Walikota serta Bupati harus melakukan inspeksi mendadak (sidak), kami tidak perlu melakukannya. Semangat baru! Ramadhan menginspirasi dan melahirkan spiritbekerja keras. Ramadhan menumbuhkan tanggungjawab dan komitmen, karena bekerja adalah ibadah!

Ya. Bagi kami bekerja adalah ibadah. Bekerja bukanlah kewajiban, namun bekerja adalah kesadaran hakiki dan menjalankan perintah agama. bekerja adalah bagian ibadah. Islam membenci manusia yang pemalas, suka  berpangku tangan dan menjadi beban orang lain. Firman Allah : “Maka carilah rizki disisi Allah..” (QS. Al ‘Ankabut [29]: 17)

Karena itu bagi kita yang rajin bekerja, Alloh Ta’ala akan meninggikan derajat kita. padangan Islam akan proposisi ini bukan tanpa dasar. Alloh Ta’ala menyamakan orang-orang yang giat bekerja dengan orang yang berjihad disisi Alloh. “Dan orang-orang yang berjalan di muka  bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi  berperang di jalan Allah.” (QS. Al Muzzammil [73]: 20)

Demikian halnya dengan Rasulullah SAW, yang menyebut aktifitas bekerja sebagai jihad di jalan Allah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Thabrani (dan dinilai shahih oleh al Albani), “Beberapa orang sahabat melihat seorang pemuda kuat yang rajin bekerja. Mereka pun  berkata mengomentari pemuda tersebut, “Andai saja ini (rajin dan giat)  dilakukan untuk jihad di jalan Allah.” Rasulullah SAW segera menyela mereka dengan sabdanya, “Janganlah kamu berkata seperti  itu. Jika ia bekerja untuk menafkahi anak-anaknya yang masih kecil, maka  ia berada di jalan Allah. Jika ia bekerja untuk menafkahi kedua  orang-tuanya yang sudah tua, maka ia di jalan Allah. Dan jika ia bekerja  untuk memenuhi kebutuhan dirinya, maka ia pun di jalan Allah. Namun  jika ia bekerja dalam rangka riya atau berbangga diri, maka ia di jalan  setan.”

Spirit Ramadhan harus selalu hadir di 11 bulan ke depan. Ramadhan adalah puncak kesalihan seorang Muslim, baik salih secara spiritual amupun salih secara sosial. KH. Ahmad Mustofa Bisri, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang, pernah mempopulerkan istilah saleh ritual (spiritual) dan saleh sosial. Saleh spiritual merujuk pada ibadah yang dilakukan dalam  konteks memenuhihaqqullah dan hablum minallah seperti shalat, puasa,  haji dan ritual lainnya. Sedangkan saleh sosial merujuk  pada berbagai macam aktivitas dalam rangka memenuhi haqul adami dan  menjaga hablum minan nas. Banyak yang saleh secara ritual, namun tidak  saleh secara sosial; begitupula sebaliknya.

Menurut Gus Mus, panggilan akrab KH. Ahmad Mustofa Bisri, antara saleh spiritual dan sosial bukanlah konsep yang saling berbenturan. Kedua menjadi dasar ajaran Islam. Bahkan, dalam aspek spiritual sesungguhnya juga ada aspek sosial. Misalnya shalat  berjamaah, pembayaran zakat, ataupun ibadah puasa, juga merangkum  dimensi ritual dan sosial sekaligus. Ini berarti jika seseorang hanya menjalankan salah satu kesalehan saja atau tidak menjalankan kedua-duanya, itu namanya kesalahan, bukan  kesalehan.

Inilah yang sesungguhnya menjadi dasar bagi kita, bahwa puasa yang bernilai adalah puasa setelah puasa. Artinya, menghadirkan nilai-nilai ramadhan dalam aktifitas bekerja sesungguhnya yang paling penting. Puasa Ramadhan melahirkan pribadi, selain saleh spiritual, juga saleh secara sosial. Seorang pegawai ASN yang memiliki spirit baru dalam bekerja: pekerja keras, disiplin, menjadi lebih bertanggungjawab dan memiliki komitmen kuat untuk menjalankan tugas yang diberikan pimpinan kepadanya, menjadi sangat berintegritas adalah seorang ASN yang jiwanya tercerahkan oleh nilai-nilai Ramadhan. Inilah Ramadhan Effect.

Ramadan adalah bulan madrasah yang  tujuannya menjadikan taqwa pada setiap diri orang yang beriman. Lalu  sudahkah taqwa itu kita dapatkan? Ramadhan Effect, menjadi indikator bagi seseorang yang menunaikan puasa Ramadhan: pada level mana keberpuasaan kita.
Memang Ramadan bukan bulan jaminan seseorang dapat meraih derajat  tertinggi itu: Taqwa! Derajat taqwa itu hanya akan diperoleh bagi siapa saja  yang menjalani Ramadan dengan penuh iman dan ihtisab (selalu berhitung  dan memperhitungkan amalan serta penuh keyakinan bahwa dirinya dapat  melakukan ibadah puasa hanya karena hidayah dan taufik dari Allah SWT. Karenanya, untuk menilai apakah derajat taqwa itu  telah kita dapatkan ataukah belum, mari kita bercermin dari definisi  taqwa yang dijelaskan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Beliau  menjelaskan bahwa makna taqwa itu meliputi empat hal : pertama, takut kepada Allah yang Maha Mulia; kedua, mengamalkan apa yang termuat  dalam at tanzil (Al-Qur’an); ketiga, mempersiapkan diri untuk hari meninggalkan  dunia; dan keempat, ridha (puas) dengan hidup seadanya (sedikit).

Jika Ramadhan bisa menghadirkan sikap dan prilaku baik dalam kehidupan pribadi kita, kehidupan keluarga, kehidupan kebangsaan kita, yang tercermin dalam pelaksanaan  nilai-nilai integritas,  etos kerja dan gotong-royong maka itulah yang dimaksud sahabat Rasulullah SAW sebagai orang-orang yang Taqwa. dan kesemuanya itu bersumber dari cara puasa kita yang sesuai dengan tuntunan. Wajar jika kita akan mampu menghadirkan Ramadhan Effect di setiap aktifitas keseharian kita. Wallohu a’lamu bishawab.
Mariman Darto
Samarinda, 4 Juli 2017

Bupati Bojonegoro Ceramah di Reform Leader Academy

Banyak tantangan, namun tantangan itu tidak membuat Bupati Bojonegoro menyerah dalam memimpin daerahnya. Tantangan itu justru menjadinya itu energi untuk mengubah pemerintahan. Hal tersebut disampaikan Suyoto saat menjadi narasumber dalam kegiatan pelatihan Reform Leader Academy Angkatan X, pada Senin (5/6).

“Bojonegoro banyak punya petani, tapi tidak punya lahan. Tentu sulit. Jadi saya bikin jargon Kerja tepat, Cepat dan Bermanfaat”, ujar Suyoto. Jargon itu membangun trust for government di mata masyarakat, sehingga membuat masyarakat lebih sehat, cerdas, produktif dan happiness. Anggaran Belanja Daerah digunakan Suyoto dengan skala prioritas. Ia pun fokus dalam membangun Bojonegoro sebagai Lumbung Pangan, Karena tidak banyak daerah yang fokus pada pangan.

Banjir kiriman yang rutin melanda daerah Bojonegoro tentu menghambat pertanian. Namun ia sadar gejolak alam tersebut tidak bisa dilawan. “Banjir itu dijadikan berkah. Mindset masyarakat saya ubah, sehingga menjadi percaya diri. Saya bina petani untuk membangun pertanian belimbing dan menjadikannya sebagai agrowisata. Saat banjir melanda, agrowisata tetap jalan karena pengunjung memeting melimbing dengan sampan. Di situlah sensasinya”, lanjut Suyoto.
Tidak hanya dari segi pertanian, Suyoto juga mengundang banyak investor untuk berani membangun perusahaan di Bojonegoro. Ia bahkan berani membantu mempermudah perizinan agar investor mudah dalam memulai perusahaan di daerahnya.
“Kalau kita menyalakan lilin kecil tetapi lilin kecil itu menjadi harapan dunia, maka dunia akan menghargai”, kata Suyoto. Ia yakin hal kecil yang dilakukan untuk membangun Bojonegoro yang lebih baik justru akan dihargai jika bermanfaat bagi masyarakat.

Ramadhan Mubarak Festival PKP2A III LAN

Serangkaian kegiatan dalam rangka HUT LAN RI ke-60 masih banyak. Di Bulan Ramadan ini, PKP2A III LAN mengadakan kegiatan buka puasa bersama anak-anak di Panti Asuhan Istiqomah Samarinda, pada Jumat (2/6). Sebelum berbuka, seorang ustaz sempat menyampaikan tausiah kepada para tamu. Terima kasih pula diucapkan kepada seluruh donatur yang telah membantu terlaksananya kegiatan tersebut. Semoga menjadi ladang amal dan membawa keberkahan bagi kita semua.
#RamadhanMubarakFestival #HUTLANRI60 #LANuntukNegeri

Diskusi Inovasi Sebagai Revolusi Mental

Pegawai PKP2A III LAN diskusi dengan Deputi Bidang Inovasi Administrasi Negara, Tri Widodo W. U., terkait Inovasi Sebagai Revolusi Mental. Revolusi mental merupakan sebuah gerakan nasional yang harus dilakukan dis egala bidang dan sektor, tak terkecuali sektor birokrasi. Untuk mencapai produktivitas kinerja dan pelayanan yang memuaskan di dalam birokrasi diperlukan terobosan/ inovasi.download movie Baby Driver now