PKP2A III LAN Samarinda Raih Juara I Kompetisi Inovasi 2017

PKP2A III LAN Samarinda kembali meraih Juara I di ajang kompetisi inovasi antar unit kerja di Lembaga Administrasi Negara tahun 2017.

Ajang yang baru pertama kali digelar ini diikuti oleh 22 unit kerja dan rencananya akan diadakan setiap akhir tahun pada saat Rakor nasional LAN ini, diadakan di PKP2A I Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat tanggal 12-15 Desember 2017.

“Saya berharap lomba inovasi ini dilakukan setiap tahun. Ini menjadi ajang kompetisi yang akan mendorong kreatifitas dan inovasi di masing-masing unit kerja”, tegas kepala LAN RI, DR. Adi Suryanto saat memberikan sambutan dalam pemberian penghargaan.

Setiap Unit Kerja wajib menyampaikan paparannya tentang progress inovasinya yang telah ditargetkan diawal tahun.

“Di lingkungan LAN setiap JPT Pratama dan JPT madya wajib menandatangani kpntrak kerja inovasi selama setahun. Dan diakhir tahun akan dievaluasi sekaligus ditetapkan inovasi terbaiknya”, ujar Dr. Mariman Darto setelah menerima penghargaan.

Beberapa inovasi yang telah dilakukan ada 12 inovasi terbaik antara lain Go Spirit (membangun budaya semangat kerja, Osoji (budaya bersih-bersih lingkungan), ODOA (mendorong budaya religius dalam lingkungan kantor), OJS untuk JBA (transformasi jurnal JBA ke jurnal bereputasi Internasional, Simbagmin (Inovasi kesekretariatan terintegrasi), SINOPADIK (sistem inovasi pasca Diklat), TSO (tracer Study online), MANAJEMEN DIKLAT ONLINE (mengelola pelayanan diklat secara online), BERKIBAR (Bersama kita belajar untuk mendorong budaya literasi), PRO-KON (membangun budaya debat atas pegawai sekaligus mengelola budaya kritis) dan KAYUH BAIMBAI (program gotong royong untuk Sungai Karang Mumus Bersih).

Salah satu rahasia kenapa PKP2A III LAN Samarinda menjuarai kompetisi ini adalah komitmen pimpinan yang secara konsisten mendorong kreatifitas dan inovasi di unit kerjanya.

“Saya ingin setiap pegawai semangat dan tergerak untuk melahirkan ide-ide kreatif dan melakukannya menjadi sebuah inovasi yang bermanfaat untuk unit kerja, untuk LAN dan untu bangsa”, tegas Mariman.

Yang terpenting selain kreatifitas dan inovasi juga kemampuan pemimpinnya membangun karakter pegawai yang kuat.

“Kekuatan PKP2A III LAN Samarinda adalah kemampuannya dalam mengelola spiritual capital pegawai dan para pejabatnya. Karakter ini penting karena akan mampu membangun dan mengembangkan semangat yang menggerakkan setiap pegawai untuk berprestasi”, Mariman menambahkan.

Namun yang utama adalah kekompakan tim PKP2A III LAN yang luar biasa. “Saya mengucapkan terimakasih kepada tim inovator PKP2A III LAN Samarinda dan seluruh pegawai yang telah berprestasi membangun organisasi ini dengan inovasi”, demikian tegas Mariman Darto disela-sela kegiatan pemberian penghargaan. (Windra Mariani)

Bedah Jurnal III : Membedah Metodologi Penelitian Kualitatif

Menyusul kesuksesan bedah jurnal I dan II, kembali bedah jurnal PKP2A III LAN hadir untuk merangkul pengampu jabatan fungsional tertentu  (Peneliti, Widyaiswara, Analis Kebijakan, dan Dosen) untuk  mengupas tuntas metode penelitian kualitatif. Hadir sebagai pembicara dalam kegiatan yang berlangsung di tanggal 14 Desember 2017 di ruang kelas PKP2A III LAN adalah DR. Enos Paselle, MAP. Setelah acara dibuka oleh Kasubbag Keuangan yang mewakili Kepala Pusat. Pak  Enos, demikian narasumber di panggil langsung menyampaikan materi secara bernas  (mengingat banyaknya materi yang akan disampaikan dengan alokasi waktu yang terbatas). Disampaikan bahwa adanya dikotomi metode kuantitatif dan kualitatif pada akhirnya tidak terlepas dari keyakinan para peneliti yang bersangkutan tentang apa yang akan digunakan. Ketika metode kualitatatif dianut sedemikian rupa oleh para ‘penganutnya’, maka sesungguhnya ia hadir untuk mengisi ruang kelemahan penggunaan metode kuantitatif.

Keunggulan dari penggunaan metode kualitatif adalah posisi peneliti yang dapat menjadi instrumen kunci sehingga peneliti yang bersangkutan harus bersifat komunikatif dan adaptif. Namun demikian, penelitian dengan menggunakan metode kualitatif masih banyak diklaim bersifat subyektif, sehingga  perlu menjadi catatan  bahwa untuk menghindari kondisi tersebut maka dalam suatu  penelitian kualitatif yang perlu diperhatikan adalah  harus bicara apa adanya atas hasil penelitian yang telah dilakukan. Begitu besarnya kans untuk munculnya suatu novelty (kebaruan) dari sebuah penelitian kualitatif, maka biasanya desain sementara (proposal) penelitian kualitatif bisa bersifat tentatif karena berangkat dari sebuah fenomena. Pintu masuk lainnya untuk kehadiran novelty dari sebuah  penelitian kualitatif  adalah adanya karakteristik penelitian kualitatif yang beranjak dari  pemikiran tentang bagaimana membuktikan sebuah teori (dalam hal ini  lebih pada bagaimana membangun sebuah konsep), sehingga pada akhirnya penelitian kualitatif akan dapat menentukan  tentang bagaimana sebuah teori dikonstruk, dianomali atau dilemahkan.

Untuk lebih menjaga  dinamika pelaksanaan diskusi, di sela atau selesai pemaparan dari narasumber dilakukan sesi tanya. Pertanyaan diawali oleh Shinta dari kalangan akademisi (Widyagama) yang menanyakan tentang teknik pengumpulan data, menurutnya apakah bisa digabungkan dalam suatu penelitian teknik pengumpulan poposive dan snowball. Pertanyaan selanjutnya dari Nazri yang merupakan dosen dari Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur,  Pertanyaannya  masih melanjutkan dari keingin tahuan dari karakteristik penelitian kualitatif yang subyektif dan menjurus ke bias sebagai akibat dari adanya pendapat yang meragukan hasil sebuah penelitian kualitatif oleh kaum positivisme. Narasumber memberikan jawaban,  dalam kasus munculnya anggapan subyektivitas, munculnya situasi tersebut tidak  terlepas dari adanya proses indepth  interview yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian kualitatif, dimana hasil penelusuran penelitian itulah yang akan menjadi hasil penelitian, padahal memang harus demikian kondisinya. Contoh riil adalah penelitian mengenai pengukuran kemiskinan, selama ini untuk penelitian pengukuran kemiskinan selalu menggunakan metode kuantitatif, padahal bisa juga melalui pendekatan kualitatif, jika berkaitan tentang penggambaran kondisi sosial yang melatar belakangi masalah kemiskinan.

Pertanyaan lainnya berasal dari Asnawi yang juga merupakan akademisi, pertanyaannya bertakitan dengan penelitian hukum dengan menggunakan pendekatan yustifis, menurutnya bagaimana  posisinya, terlebih dengan sumber primer berupa undang-undang. Sebagai pertanyaan pemungkas karena keterbatasan waktu, diajukan oleh Widya dari BKPPD Kota Samarinda. Pertanyaannya masih menanyakan lebih dalam mengenai bagaimana untuk mengetahui penelitian kualitatif itu baik apa tidak karena  menurutnya ada  istilah observer reability, bagaimana membandingkannya?  karena mengambil data tidak terlepas dari prasangka, apakah ada pendekatan tersendiri? Setelah menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan, narasumber mengajak para kalangan akdemisi yang hadir untuk  melakukan penelitian bersama dengan  berkolaborasi guna  menguji metode penelitian kualitatif dengan berbagai metode analisis yang telah disampaikan, untuk membuktikan ada atau tidaknya anomali dari teori yang sudah ada/tersampaikan tersebut (TW).

Talkshow Pengelolaan Sungai Karang Mumus SKM Bersih

Minggu, 10/12/2017, Hari kedua Program Kayuh Baimbai yang dilaksanakan PKP2A III LAN bekerjasama dengan Pemerintah Kota Samarinda, diisi dengan sejumlah kegiatan, dimulai dengan Senam Aerobik, dan bersih-bersih lingkungan (Osoji) bersama masyarakat di sekitar jalan Muso Salim, dilanjutkan dengan acara Display / pameran inovasi dari berbagai Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) di lingkungan Kota Samarinda, tercatat terdapat 26 stand yang menampilkan sejumlah karya inovatif unggulan dari tiap-tiap OPD untuk ditampilkan kepada masyarakat.

Dalam kegiatan ini juga meriahkan dengan panggung hiburan rakyat, serta bincang-bincang santai (Talkshow) dimoderatori I Made Kertayasa (TVRI) yang mengulas tentang Pengelolaan Sungai Karang Mumus (SKM) “SKM Bersih” dengan menghadirkan pembicara diantaranya Bapak Dr. Mariman Darto selaku Kepala PKP2A III LAN, Bapak Sugeng Chaerudin selaku Sekretaris Daerah Kota Samarinda, Bapak Oleg Yohan salah seorang tokoh yang berhasil mengelola sungai Winongo, Yogyakarta, Bapak Misman dari Gerakan Memungut Sehelai Sampah (GMSS) SKM, Bapak Ragil Harsono dari Komunitas Indonesia Hijau, Bapak HM Faisal dari Dinas Pariwisata, dan Bapak HM. Djafar Sidik selaku Tokoh Masyarakat serta Bapak Supian mewakili komunitas masyarakat di lingkungan Sungai Karang Mumus.

Dalam kegiatan kali ini, sejumlah masyarakat tampak antusias memadati di sekitar jalan Muso Salim, untuk mengikuti jalannya talk show serta pameran inovasi ini, lokasi ini sengaja dipilih agar kegiatan ini dapat bersentuhan langsung dengan masyarakat yang terlibat dengan aktivitas di Sungai Karang Mumus.

Workshop Sungai Karang Mumus

Sabtu kemarin (07/12/2017) bertempat di Aula Sekolah Sungai Karang Mumus yang terletak di Kampung Muang Ilir Kecamatan Sungai Pinang Samarinda, sejumlah stakeholder berkumpul bersama, membahas revitalisasi fungsi Sungai Karang Mumus, yang selama ini mengalami degradasi yang cukup parah. Kegiatan yang dikemas dalam Workshop Sungai Karang Mumus ini merupakan bagian dari Program Kayuh Baimbai yang diinisiasi oleh PKP2A III LAN bekerjasama dengan Pemerintah Kota Samarinda.

Kegiatan yang dimulai sejak pagi hingga petang hari ini di mulai dengan sambutan dari Bapak Mariman Darto selaku Kepala PKP2A III LAN dan dilanjutkan oleh Bapak Pietermen,. SH, staff ahli bidang Pemasyarakatan dan SDA, mewakili Walikota Samarinda sekaligus membuka acara. Dalam paparannya Mariman Darto menjelaskan mengapa LAN yang biasanya mengurus administrasi negara sekarang mengurus sungai, Ini dikarenakan salah satu tugas LAN adalah fungsi advokasi, karena itulah LAN peduli dengan lingkungan khususnya sungai. Kehadiran LAN melakukan connecting dot dari berbagai resources  yang ada, dimana pendekatan ini sudah banyak digunakan oleh berbagai negara yaitu pendekatan Whole of Government. Lebih lanjut Mariman menjelaskan bahwa dalam program ini, istilah Kayuh Baimbai digunakan sebagai nama program dalam rangka mengangkat nilai-nilai kearifan lokal serta dalam upaya menghidupkan nilai Revolusi Mental yang ke 3 yaitu Gotong Royong.

Pemkot Samarinda menilai kegiatan yang tengah dilakukan PKP2A III LAN ini adalah upaya untuk mensinergikan berbagai usaha SKPD dalam restorasi SKM, karena penanganan yang dilakukan selama ini masih secara parsial, padahal persoalan restorasi merupakan persoalan yang kompleks (co-production dan co-creation), sehingga membutuhkan multipihak dalam penanganannya.

Dalam kegiatan ini juga terlihat sejumlah pemangku kepentingan hadir dan menyampaikan pandangannya terkait pengelolaan SKM, diantaranya Bapak Misman, Koordinator Komunitas GMSS SKM, Bapak Ali Fitri, selaku Kepala Bapelitbang Samarinda, Dr. Mislan, penggiat lingkungan dan akademisi dari Universitas Mulawarman, Bapak Ahmad dan Bapak Solehuddin dari BP-DAS Mahakam Berau, drg. Rustam dari Dinkes Samarinda dan Bapak Dja’far Sidik selaku Tokoh Masyarakat dan Tetuha di Kota Samarinda.

Disela-sela kegiatan workshop rencananya akan dilakukan aktivitas susur sungai, untuk melihat secara langsung kondisi SKM terkini, namun karena kondisi sungai yang sedang meluap serta cuaca yang kurang mendukung, kegiatan tersebut urung dilakukan, dan kegiatan dilanjutkan dengan brainstorming peserta yang diakhiri dengan refleksi tindak lanjut dan penutupan.

 

BERSAMA MENCIPTAKAN SUNGAI KARANG MUMUS BERSIH

Sungai Karang Mumus (SKM) merupakan salah satu ikon Kota Samarinda yang terabaikan. Sungai ini bukan hanya dijadikan tempat sampah bagi sebagian warga, tetapi juga menjadi tempat mencuci pakaian, tempat mandi, toilet, dan bahkan digunakan sebagai tempat pengolahan bagi industri tahu dan tempe. Lebih dari itu, sungai ini juga dijadikan lahan gratis untuk mendirikan bangunan illegal. Akibatnya, sungai yang dulu menjadi tempat bermain dan akses transportasi air bagi warga Kota Tepian, kini menjadi tempat kumuh, tidak sehat dan semakin sempit. Rendahnya kepedulian warga dan ketidakberdayaan pemerintah setempat menjadikan persoalan ini menjadi semakin kompleks.

 

Keberadaan PKP2A III LAN di Kota Samarinda harus memberikan kontribusi terhadap persoalan ini. “Walaupun tidak ada kaitan langsung antara tugas-tugas LAN dengan Sungai Karang Mumus, tetapi karena Samarinda sebagai host kita maka kita harus ikut peduli terhadap persoalan Sungai Karang Mumus”, demikian dikatakan oleh Kepala PKP2A III LAN, Dr. Mariman Darto, dalam kegiatan Konferensi Pers “Advokasi Olah Bebaya Sungai Karang Mumus Bersih” yang berlangsung di Kantor LKBN Antara Biro Samarinda, Jl. Dahlia Kota Samarinda, 5 Desember 2017. Konferensi pers ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Advokasi Olah Bebaya Sungai Karang Mumus Bersih kerjasama antara PKP2A III LAN dengan Pemerintah Kota Samarinda.

 

Acara ini akan dilanjutkan dengan Workshop yang melibatkan Pemerintah Kota, komunitas masyarakat, organisasi non pemerintah, serta sektor swasta. Workshop akan berlangsung pada Sabtu, 9 Desember 2017, di Sekolah Sungai Karang Mumus, Muang. Kemudian pada hari Minggu, 10 Desember 2017 akan diadakan Display hasil-hasil inovasi OPD serta hiburan rakyat di segmen 1-2 Sungai Karang Mumus. Agar tidak menjadi kegiatan yang sekedar seremonial maka disusun roadmap disertai target yang ingin dicapai dalam beberapa tahun mendatang. Selanjutnya perlu dilakukan evaluasi untuk melihat sejauh mana hasil yang dicapai sesuai dengan yang diharapkan.

 

Rangkaian kegiatan ini bertujuan untuk mengajak segenap stakeholders menghadapi kompleksitas persoalan SKM dengan pendekatan Whole of Government (WoG). Hal ini karena menyelesaikan persoalan SKM tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, harus melibatkan segenap komponen dari pemerintah, masyarakat, berbagai komunitas, akademisi, serta sektor swasta secara bersama-sama dan terkoordinasi. Gerakan Memungut Sehelai Sampah (GMSS) SKM telah memberikan contoh membersihkan SKM walaupun pada jangkauan yang terbatas. “Apa yang telah dilakukan Pak Misman (GMSS SKM, red) harus diapresiasi. Jangan biarkan Pak Misman bertahun-tahun bekerja sendiri membersihkan Sungai Karang Mumus” kata Mariman Darto. (AW).

 

Pencanangan Gerakan Revolusi Mental dan Laboratorium Inovasi Pemkab. Berau

Berau, 4 Desember 2017 Pencanangan Gerakan Revolusi Mental dan Laboratorium Inovasi

Acara dmulai pukul 11.00 Wita dengan persembahan Tarian Adat khas daerah Berau. Dalam sambutan Kepala LAN RI, Adi Suryanto menjelaskan bahwa Gerakan Revolusi Mental ini merupakan instruksi Presiden RI Joko Widodo. Pertanyaan penting pun disampaikan dalam kegiatan yang di hadiri sekitar 800 ASN terdiri dari jabatan Pimpinan Tinggi dan Pejabat Administrator di
Lingkungan Pemkab. Berau. Pertanyaanya adalah apa yang menyebabkan sebuah bangsa yang berjaya ? dikarenakan 1) kejayaan dimasa lampau dan 2) sumber daya (resources) yang memadai. Karakter resources yang merupakan kunci kekuatan bangsa melalui Gerakan Revolusi Mental ini merubah mental resources menjadi birokrasi yang layak dan tangguh, dan memunculkan gagasan-gagasan perubahan. ASN aparatur sipil negara diminta meninggalkan cara-cara lama, dengan berinovasi kita menciptakan daya kompetisi. Saya yakin Berau mampu menjadi daerah inovatif dan memperbaiki pelayanan publik menjadi lebih baik.

Segendang sepenarian dalam sambutan Bupati Berau Bapak Muharram, S.Pd., MM. yang menjelaskan bahwa Gerakan Revolusi Mental sebagai perintah Presiden Jokowi agar mental kita berubah secara revolusioner dan memiliki karakter dan mentalitas yang handal. Semua ASN Berau harus punya persepsi yang sama. Apalah artinya SDM bagus tapi integritas yang lemah. Integritas yang kuat, sebagaimana dalam wasiat syair lagu Indonesia Raya, “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”. Pembiasaan karakter yang baik harus ditanamkan sejak dini. Dan ini bukan hanya dibebankan pada tugas pendidik tapi mutu pendidikan ini adalah ranah kebijakan nasional yaitu bagaimana merancang kurikulum yang baik bukan sekedar deretan mata pelajaran yang membebani anak didik dari tingkat dasar sampai tingkat tinggi akan tetapi berbicara sistem pendidikan yang baik (seperti di negara Jepang yang terkenal dengan kejujuran publiknya dan atau sistem pendidikan di negara Finlandia yang hanya mengenal ujian negara sebanyak satu kali di umur 16 tahun anak didik) dan lebih menekankan character building.

Acara selanjutnya adalah pencanangan Gerakan Revolusi Mental dan Pembentukan Laboratorium Inovasi Daerah dengan pemukulan gong oleh Bupati Berau dan penandatanganan MoU antara Berau dan LAN RI d lanjutkan dengan penandatanganan komitmen inovasi OPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Berau.

Diwaktu yang sama, Kepala LAN men-Drum Up agar semua yang hadir terus komitmen dan semangat dalam melakukan inovasi. Inovasi kunci utama dalam percepatan pelayanan publik.

Kajian Pemetaan Pemanfaatan Proyek Perubahan Pelatihan Kepemimpinan

Kajian Pemetaan pemanfaatan proyek perubahan  pelatihan kepemimpinan yang dilaksanakan oleh PKP2A III LAN tahun 2017 mendapatkan respon positif dari beberapa reviewer pada acara Ekpose Hasil Kajian bertempat di Pejompongan Lembaga Administrasi Negara (Rabu, 29 November 2017). Tri Noor Aziza sebagai koordinator tim peneliti PKP2A III LAN pada penelitian ini, memaparkan dalam presentasinya bahwa untuk mengetahui seberapa besar kemanfaatan diklatpim yang telah dilakukan oleh PKP2A III LAN maka perlu dilakukan pemetaan terhadap para alumni yang sudah kembali bekerja di instansinya masing-masing. Hasil penelitian menunjukkan 84% proyek inovasi masih berjalan sesuai target dan 16% lainnya terhenti karena mutasi dan pensiun. Adapun Faktor pendukung kontinuitas  Proyek Inovasi  pada umumnya karena adanya dukungan dari semua pihak utamanya dukungan unsur pimpinan.Sedangkan faktor penghambat proyek inovasi  adalah anggaran dan SDM yang terbatas serta mutasi/promosi. Beberapa rekomendasi yang dihasilkan dalam penelitian ini antara lain:
  1. Pemerintah daerah perlu membuat suatu kebijakan yang dpt mengawal/menjaga kontinuitas proyek inovasi;
  2. LAN dan instansi terkait harus duduk bersama membuat sistem monitoring dan evaluasi yang terintegrasi;
  3. Proyek inovasi yg bermanfaat bagi internal dan eksternal, direkomendasikan mendapatkan reward;
  4. LAN perlu membuat regulasi untuk mengawal kontinuitas proyek inovasi pasca diklat;
  5. Alumni perlu melakukan internalisasi dalam organisasi  melalui transfer knowledge dan sharing benefit;
  6. Memasukan proyek inovasi pada program kegiatan organisasi;
  7. Pemerintah daerah perlu membuat roadmap inovasi daerah sehingga peserta diklatpim dapat menyesuaikan dgn kebutuhan road map inovasi daerahnya.
Pembahas pertama dalam ekspose ini adalah ibu Sri Hadiati, Sekretaris Utama Lembaga Administrasi Negara RI yang menyatakan bahwa dari awal peserta diklat harus ditegaskan bahwa diklat merupakan kebutuhan organisasi dan masyarakat bukan sebagai persyaratan dan sebatas sertifikat saja sehingga hasil diklat akan lebih berkualitas dan sesuai dengan pengembangan pegawai dengan merit sistem yaitu berdasarkan kompetensi dan kinerja. Selain itu proyek perubahan bukan proyek individu, ketika seorang peserta diklat lulus maka proyek perubahannya sudah menjadi proyek organisasi karena waktu menyusun itu untuk kepentingan organisasi. Bu Ati juga menjelaskan proyek perubahan ini sebenarnya adalah pancingan sehingga menjadi habit. maka setelah selesai diklat akan muncul inovasi inovasi lain.
Reviewer kedua Bapak Hendro Wicaksono, Staf Ahli Kementerian LAN dan RB menyatakan bahwa untuk melakukan penelitian seperti ini sebaiknya perlu ada keterlibatan pihak lain yang bukan penyelenggara diklatnya agar hasil dari penelitian ini menjadi lebih objektif, hal lainnya bahwa penelitian ini sangat rinci dan detail karena dilengkapi dengan survey dan juga interview, peran survey ini sangat penting dan menguatkan penelitian ini. Selanjutnya konfirmasi kepada tim, apakah faktor perubahan kelembagaan juga mempengaruhi terhambatnya proyek perubahan? mungkin faktor perubahan kelembagaan menjadi faktor penghambat selain faktor yang sudah diungkap dalam penelitian ini. Saran lainnya, untuk kemanfaatan proyek perubahan ini bisa menggunakan perbandingan antara target dan capaiannya. Berapa target dari peserta alumni yg proyek perubahannya berlanjut dan bermanfaat dibandingkan dengan capaian yang ada. Secara keseluruhan penelitian ini sangat bermanfaat bagi Lembaga Administrasi Negara.
Reviewer ke -3. Yaitu Bapak Yanuar Nugraha yang merupakan Deputi II Kepala Staf Kepresidenan menangani kajian dan pengelolaan program prioritas. Dalam catatan reviewnya beliau menyarankan agar:
  1. Perlu diurai aspek perubahan mind set metode diklat yang mampu menjawab problem statement yang relevan dengan prioritas pembangunan pemerintah.
  2. Perlu diperkuat narasi substansi mengenai penerapan mekanisme insentif dan disinsentif terhadap implementasi proyek perubahan  peserta diklatpim agar memiliki daya ikat yang tidak hanya mengikat secara moral tetapi jg secara kelembagaan. Selanjutnya disampaikan bahwa Kaltim mempunyai banyak persoalan seperti tata ruang, perizinan perlindungan hak untuk publik dan lain-lain sehingga sebaiknya perlu mengaitkan tema proyek perubahan secara spesifik dengan permasalahan permasalahan yang ada di konten lokal kaltim.
Secara keseluruhan hasil kajian ini dinilai positif dan menjadi masukan yang berarti untuk pengembangan kebijakan diklat kedepan (lia rosliana).

Bedah Jurnal seri 2 Tahun 2017 “ Methodology Research Mengenal Mixed Quantitative-Qualitative “

Semangat menulis tidak akan pernah berhenti di sampaikan oleh pengelola Jurnal Borneo Administrator (JBA). Sebagai sebuah jurnal ilmiah berkala di bidang administrasi negara, JBA akan selalu memberikan ruang pubikasi bagi para penulis  untuk terus berkarya dengan artikel – artikel yang dimuat di JBA. Sebagai bentuk kepedulian JBA terhadap peningkatan kompetensi menulis, pengelola JBA yang berada dalam naungan Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur III Lembaga Administrasi Negara kembali menyelenggarakan Bedah Jurnal seri 2 Tahun 2017. Kegiatan berlangsung di ruang kelas pada hari Senin, 27 Nopember 2017 dengan tema “ Methodology Research Mengenal Mixed Quantitative-Qualitative “. Sebagai narasumber adalah Prof Dr. Nur Fitriah, M.S yang merupakan Wakil Dekan II Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Mulawarman dan juga merupakan mitra bestari JBA. Kegiatan ini dihadiri sekitar 50 orang yang terdiri dari penulis, peneliti, widyaiswara dan dosen. Pada penyelenggaraan Bedah Jurnal seri 2 Tahun 2017, penyelenggara memberikan nuansa kelas yang berbeda dengan Bedah Jurnal sebelumnya.  Dengan ini diharapkan peserta dapat menyerap ilmu yang disampaikan oleh narasumber.

Penyelenggaraan Bedah Jurnal seri 2 Tahun 2017 sedikit berbeda karena fokusnya adalah  mengulas Methodology Research Mixed Quantitative-Qualitative. Metode ini telah banyak dikenal didunia penelitian karena mengkolaborasi metode kualitatif dan kuantitatif. Dalam sambutannya, Husain, S.Sos sebagai Sekretaris Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur III Lembaga Administrasi Negara menyampaikan “ Kita sangat berharap, kegiatan Bedah Jurnal seri 2 Tahun 2017 dapat menjelaskan metodologi penelitian yang nantinya memberikan kontribusi kepada penulis dan meningkatkan kapasitas JBA dalam mengelola artikel yang masuk di redaksi “. Keberadaan JBA tidak akan terlepas dari kontribusi penulis dan artikel yang masuk keredaksi JBA. Berusaha memberikan informasi terbaru dalam hal metodologi penelitian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari peran pengelola JBA untuk dapat berbagi pengetahuan kepada penulis. Sehingga nantinya dapat meningkatkan kapasitas penulis dan pengelola JBA.

Kampanye JBA juga disampaikan oleh Andi Wahyudi, sebagai salah satu dari redaksi JBA. Dalam pemaparannya, disampaikan “ penyelenggaraan Bedah Jurnal seri 2 Tahun 2017 adalah untuk refresh dan recharge tentang teori – teori yang sebagaian dari kita telah mempelajari, terutama selama ini yang kita ketahui adalah metode kualitatif atau kuantitatif dan hampir tidak pernah kita menggunakan mix method dalam penelitian “. Hal ini menjadi menarik untuk diulas karena mixed method sudah cukup banyak diketahui dan dipelajari namun belum banyak diimplementasikan dalam dunia penelitian.

Prof. Dr. Nur Fitriah, M.S sangat senang dengan adanya kegiatan Bedah Jurnal seri 2 Tahun 2017. Beliau menyampaikan “ Mixed Method mejadi menarik karena manfaatnya luas bagi penelitian sosial dan juga menjadikan nilai yang strategis sehingga banyak juga yang tertarik dengan metode ini “. Keberadaan mixed method menjadi menarik dikarenakan (1) Relatif sedikit ruang yang diberikan kepada masalah ini dalam buku-buku metodolasi (2) Relatif  sedikit studi  yang menggunakan metode ini yang secara eksplisit mendiskusikan implikasi – implikasi metodolosis (3) Di kalangan sponsor mulai tertarik  dengan metode ini (4) Ilmuwan Sosial menjadikan sebagai metode penelitian yang bernilai strategis.

Cukup panjang dan jelas terkait materi yang disampaikan oleh Prof. Dr. Nur Fitriah, M.S, namun tidak menyurutkan semangat peserta untuk tetap memberikan perhatian pada sesi pemaparan narasumber. Beberapa candaan dari narasumber cukup mengurangi ketegangan peserta yang sangat serius menerima materi mixed method. Sehinga pertanyaan pun disampaikan oleh peserta yang masih penasaran konsep mixed method  dan bagaimana mengaplikasikannya. Diakhir acara menjadi lebih ramah dengan berfoto bersama nasarumber yang sudah sangat terkenal di Universitas Mulawarman. Semoga Pengelola Jurnal Borneo Administrator dapat terus menyelengarakan “ Bedah Jurnal “ dan dapat menginspirasi setiap orang untuk terus menulis di jurnal ilmiah. (WLA)

“Bedah Jurnal 2017” Oleh Pengelola Jurnal Borneo Administrator PKP2A III LAN

Pada Senin 30 Oktober 2017 di Mini Theater PKP2A III LAN, Pengelola Jurnal Borneo Administrator (JBA) Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur III Lembaga Administrasi Negara (PKP2A III LAN) mengukir sejarah dengan menyelenggarakan “Bedah Jurnal 2017”. Ada 3 tujuan dari kegiatan Bedah Jurnal, yaitu: pertama, meningkatkan kompetensi peneliti, widyaiswara, analis kebijakan, dosen dan jabatan fungsional tertentu lainnya dalam menulis pada jurnal ilmiah. Kedua, memberikan peluang dan tantangan kepada peneliti untuk mendiseminasikan hasil pemikiran ilmiahnya kepada publik. Ketiga, sebagai media promosi agar lebih banyak kontributor/peneliti menyampaikan artikelnya ke JBA. Keempat, upaya untuk senantiasa meningkatkan kualitas Pengelola Jurnal dan JBA.

Dalam sambutannya, mewakili Kepala PKP2A III LAN, Kepala Bidang Kajian Kebijakan dan Inovasi Administrasi Negara Windra Mariani menyampaikan “bahwa berdasarkan data dari Scimago Journal and Country Rank pada periode Desember 2016, Indonesia berada dalam posisi rangking 55 berdasarkan jumlah publikasi ilmiah yang dihasilkan. Tentunya hal tersebut belumlah menjadi sesuatu yang menggembirakan apalagi jika dibandingkan dengan negara tetangga yaitu Singapura yang berada pada rangking 32, Malaysia yang berada pada rangking 34 dan Thailand di Rangking 43 “. Kondisi ini perlu menjadi perhatian bagi dunia publikasi ilmiah untuk selalu komitmen dan konsisten dalam mengkampanyekan peningkatan kualitas publikasi ilmiah. Ditambah lagi dalam sambutannya “Jurnal ilmiah keberadaanya sangatlah dibutuhkan dalam rangka terus meningkatkan budaya pengetahuan baik di dunia penelitian, kewidyaiswaraan ataupun dunia akademik. Hal ini telah menjadi sebuah kebutuhan. Apa arti sebuah pemikiran ilmiah apabila tidak dituliskan dan dipublikasikan karena pada akhirnya hal ini akan dibaca dan dimanfaatkan oleh masyarakat.

Acara inti dimulai dengan membedah salah satu artikel pada JBA yang telah terbit pada Volume 12 Nomor 1 Tahun 2016 dengan judul “Problematisasi Kebijakan Pengelolaan Sampah Di Kota Samarinda : Problematisasi Kebijakan Dengan Pendekatan WPR “. Sebagai penyaji yang sekaligus penulis artikel adalah Andi Wahyudi S.IP., M Pubadmin (Pol) yang merupakan peneliti di PKP2A III LAN. Narasumber adalah Dr. Rudianto Amirta, S.Hut., MP yang merupakan Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman sebagai pembahas artikel yang juga menyampaikan bagaimana cara meningkatkan kompetensi menulis pada jurnal ilmiah. Kegiatan ini dihadiri sekitar 40 orang yang terdiri dari penulis, peneliti, widyaiswara, dosen, pengelola perpustakaan, pengelola jurnal dan komunitas peduli lingkungan.

Pada kegiatan “Bedah Jurnal 2017 “, artikel yang dibedah merupakan kajian analisis kritis terhadap dokumen kebijakan pengelolaan sampah di Kota Samarinda, yaitu Perda Kota Samarinda Nomor 2 Tahun 2011 dengan pendekatan WPR (What is the problem represented to be?) yang diperkenalkan oleh Bacci. Dalam artikel ini mencoba mengungkapkan persoalan manajemen dan kepatuhan warga Kota Samarinda dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dan lingkungan. Dari sisi manajemen, kebijakan pengelolaan sampah di Kota Samarinda tidak berjalan efektif untuk menjawab persoalan yang ada. Dimana masih rendahnya kapasitas pengangkutan sampah dibandingkan dengan volume produksi sampah. Kemudian dari sisi kepatuhan, kebijakan ini memberikan sanksi pada masyarakat yang melanggar perda namun tidak menyentuh edukasi publik untuk merubah perilaku masyarakat. Wacana ini kemudian menjadi menarik dan dikemas dalam wujud kegiatan “Bedah Jurnal 2017 “.

Dalam pemaparannya, Andi Wahyudi menyampaikan “WPR ingin melihat problematisasi kebijakan, dimana kebijakan pada dasarnya untuk menyelesaikan masalah, maka kebijakan itu dibuat selayaknya berdasarkan kebutuhan bukan berdasarkan keinginan“. Kondisi ini kemudian membuat penulis berpendapat “Samarinda memiliki permasalahan di pengelolaan sampah dan saya mencoba pendekatan WPR ini dalam perda No 2/2011, dari pasal yang ada saya menginterpretasikan bahwa pada pengambil kebijakan perda No 2/2011 melihat bahwa problem dari kebijakan pengelolaan sampah adalah pertama, manajemen dan kedua adalah kepatuhan melihat ada cara mengelola sampah dan sanksi. Menurut Interpretasi penyaji, permasalahan muncul karena rendahnya kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan sampah dan pemerintah mengendorse pelaksanaan sanksi pada masyarakat yang melanggar perda. Di akhir pemaparan, penyaji menyampaikan keinginannya untuk Kota Samarinda “Saya bermimpi kalau di Kota Samarinda minimal dipisahkan antara sampah organik dan anorganik, plastik, gelas, kaca, logam jika tidak bisa dipisahkan menjadi 3 minimal 2 saja, kalo di Jepang pemisahannya menjadi 7 jenis, kalo di sini masih terlalu jauh, minimal bisa dipisahkan menjadi 2 jenis saja sudah bagus “.

Rasa bangga dan takjub sangat terlihat pada Dr. Rudianto Amirta, S.Hut., MP sebagai Dekan Fahutan Universitas Mulawarman dengan menyampaikan “Selamat kepada LAN yang bisa istiqomah dalam pengelolaan jurnal, permasalahan jurnal adalah masalah kita bersama dan tidak mudah menjaga kesinambungan publikasi apalagi di pengelolaannya, di indonesia barangkali memang banyak kendalanya terutama policy, pendanaan dan penunjang “. Oleh karena itu perlu konsorsium antar lembaga peneliti untuk menangkal kendala-kendala tersebut. Bahwa pada saat ini kita sepakat menulis di peneliti, dosen dan pengajar adalah suatu kewajiban, dan bukan saatnya lagi kita puas dengan apa yang kita kerjakan di jurnal kita. Menariknya lagi menurut narasumber “Isu ini bukan isu yang mudah tapi juga bukan isu yang diminati, namun mungkin di kita yang diminati karena bicara di WPR nya, Namun demikian kejelian beliau mengangkat saya mengucapkan selamat “

Sebagai penutup paparan narasumber menyampaikan “5 tahun terakhir ini kita aman, kebaharuan terpenuhi, tema terpenuhi, namun yang jadi masalah peneliti di Indonesia, kenapa susah menulis? karena membacanya juga susah, hampir semua referensi bahasa inggris, karena dengan membaca kita mendapat banyak hal dan banyak ide, baik outline penulisan, metode, visualisasi outputnya dan caranya kemana. Ada dosen yang salah memilih jurnal, akhirnya mengeluh dan hopeless, dipikir memilih jurnal itu hanya cocok padahal ada historical publication, ada jurnal yang butuh 4 bulan, 1 tahun, 2 tahun dan bahkan ada yang cuma 3 bulan”.

Penyelenggaraan “Bedah Jurnal 2017 “mendapatkan respon yang baik bagi audiens yang hadir. Tiga jam pembahasan dan diskusi seperti tidak cukup memuaskan semangat audiens untuk bertanya dan menyampaikan pendapat. Semoga Pengelola Jurnal Borneo dapat terus menyelengarakan “Bedah Jurnal“ dan dapat menginspirasi setiap orang untuk terus menulis di jurnal ilmiah. (WLA)

Bangkit dari Keterpurukan Mental

Saya tidak peduli apa yang orang lain pikirkan

 tentang apa yang saya lakukan. Tetapi, saya sangat peduli

tentang apa yang saya pikirkan, tentang apa yang saya lakukan.

Itu yang disebut karakter.

— Theodore Roosevelt

 

Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur Malaysia, 23 September 2017 menjadi saksi keperkasaan tim Para Games Indonesia. Di stadion termegah di Malaysia itu, perhelatan Para Games 2017 yang berlangsung sejak 17 September 2017 ditutup. Semua mata tertuju ke kontingen Indonesia yang menjadi juara umum pesta olah raga dua tahunan para difabel se-Asia Tenggara itu. Mengungguli Malaysia dan Thailand yang menjadi juara umum kedua dan ketiga.

Capaian sempurna dari para atlet difabel ini menjadi kado terindah, sekaligus penawar kekecewaan Tim Indonesia yang — pada perhelatan SEA Games 2017 di Malaysia — prestasinya anjlok di peringkat kelima. Produktifitas  mereka dalam mendulang medali, jauh melampaui capaian para atlet yang terjun di SEA Games.

Prestasi atlet difabel ini memang luar biasa. Dengan hanya berkekuatan 196 atlet, medali emas yang mereka raih mencapai 126 keping. Sementara atlet SEA Games yang turun dengan kontingen sebanyak 534 atlet hanya bisa meraih 38 medali emas. Hal itu membuktikan, bahwa sekalipun berada dalam keterbatasan, mereka bisa mengharumkan nama bangsa.

Wajar jika presiden Jokowi, melalui akun tweeternya, menyampaikan apresiasinya kepada para atlet difabel ini. “Selamat untuk Tim Indonesia, Juara Umum Asean Para Games 2017 di Kuala Lumpur. Kalian semua membanggakan”, tegas Jokowi.

*****

Torehan prestasi saudara-saudara kita difabel tersebut seolah mengingatkan, sekaligus menyadarkan kita bahwa prestasi bukanlah monopoli manusia-manusia dengan kesempurnaan fisik. Mentalitas juara bukanlah monopoli kita. Karakter bukanlah soal fisik. Karakter adalah soal cara pandang kita tentang kesempurnaan. Karakter adalah soal cara berfikir kita tentang kesempurnaan. Karakter adalah soal cara bekerja kita menuju kesempurnaan. Soal cara kita menjadi juara. Karakter adalah soal cara kita menuju prestasi.

Prestasi bagi mereka adalah harumnya nama bangsa. Prestasi bagi mereka adalah menenggelamkan urusan pribadinya dan meninggikan derajat dan martabat bangsanya. Prestasi adalah berani menyatakan bahwa ketidaksempurnaan bukan penghalang tetapi sebagai lecutan motivasi hingga mereka terbang tinggi menggapai bintang-bintang. Prestasi bagi mereka adalah tidak memberikan kesempatan bagi kemalasan untuk hidup bersamanya. Prestasi adalah menutup rapat pintu keluhan tetapi membuka lebar ruang syukur atas pemberian tuhan kepadanya.

Menurut catatan Kompas (23/9/2017), Atlet Para Games menjalani latihan tanpa dukungan dana dan peralatan memadai. Mengeluhkah mereka? Menurunkah semangat mereka? Lantas tidak berprestasikah mereka? Jawabannya tentu tidak. Mereka tetap gigih berjuang hingga mencapai hasil yang luar biasa. Bandingkan dengan atlet SEA Games yang anggaran persiapannya saja sebesar  30,9 milyar. Itu belum termasuk total anggaran selama keberangkatan, pelaksanaan hingga pemulangan serta bonus bagi para atlet berprestasi dalam SEA Games 2017.

Inilah manusia ikhlas. Tidak melihat keterbatasan secara sempit, namun melihat keterbatasan sebagai sebuah kesempurnaan. Perjuangan Tim Indonesia Para Games adalah perjuangan tidak sekedar melawan atlet-atlet difabel dari mancanegara. Namun mereka melawan keterbatasan dirinya, melawan egonya, melawan kepentingan pribadinya, dan melawan hawa nafsunya. Kalau lawan-lawannya mungkin masih mudah ditaklukkan, namun melawan diri sendiri sangat sulit.

Presiden Soekarno dalam pidato ulang tahun RI yang ke-12, tanggal 17 Agustus 1957, pernah mengungkapkan bahwa melawan musuh-musuh kita dalam masa perang lebih mudah. Kita masih memiliki kekuatan idealisme, keikhlasan, satu misi, musuh kita jelas dan semuanya kita adalah pejuang dan pekorban.

“Dalam masa Liberation (perang), idealisme masih cukup menyala-nyala, api keikhlasan masih cukup bersinar terang, kekeramatan mission sacrée masih cukup menghikmati jiwa. Dalam masa Liberation, semua orang adalah pejuang, semua orang adalah pekorban, semua orang adalah baik. “There are no bad men in a battle”, – “tidak ada orang yang tidak baik dalam satu pertempuran mati-matian”, tegas Presiden Soekarno mengutip seorang Panglima Perang.

Yang lebih berat adalah pada era nation-building, era mengisi kemerdekaan. Era dimana ego individual lebih menonjol. Era dimana ego kelompok/golongan, asal usul daerah, partai, ras, suku bangsa, agama, lebih penting daripada kebersamaan dan gotong royong. Pada masa seperti ini revolusi mental menjadi sangat penting.  Dalam bagian lain, Bung Karno dalam pidatonya juga menegaskan hal ini.

“… Lebih-lebih lagi dalam sesuatu masa nation-building, – nation-building dengan segala godaan-godaannya, dan dengan segala aberasi-aberasinya, – maka satu Revolusi Mental adalah mutlak perlu untuk mengatasi segala kenyelèwèngan, – lebih perlu daripada dalam masa sebelum nation-building itu, yaitu dalam masa Liberation”.

*****

Banyak pembelajaran penting yang bisa kita petik dari Tim Indonesia Para Games 2017. Pertama, ketidaksempurnaan bukanlah hambatan untuk berprestasi. Kita perlu mencontoh saudara-saudara kita difabel ini. Ketidaksempurnaannya justru dijadikan motivasi besar untuk bangkit dan akhirnya menjadi juara. Kita yang memiliki kesempurnaan justru tidak mampu menaklukkan diri kita yang penuh dengan belenggu: egoisme, kemalasan, suka mengeluh, berfikir negatif, mental korup, primordial dan lain sebagainya. Bangsa ini membutuhkan uluran tangan kita. Kalau para kaum difabel bisa, seharusnya prestasi kita melebihi mereka karena Tuhan memberikan kesempurnaan pada diri kita. Kuncinya adalah keberanian kita melawan musuh terbesar kita: diri kita sendiri.

Para atlet difabel ini mampu melakukannya. Mereka tidak pernah mengeluhkan keterbatasan yang ada padanya. Mereka tidak iri dengan saudara-saudaranya yang memiliki kesempurnaan fisik. Tentu kita malu sebagai manusia sempurna. Lebih suka menuntut daripada mendorong pencapaian hebat seperti mereka.

Kedua, para atlet tidak pernah memikirkan kesempurnaan fisik orang lain. Tidak pernah menggunjing apa yang dilakukan orang lain. Mereka hanya fokus dengan apa yang dipikirkan, dengan apa yang dilakukan. Inilah bedanya kita dengan orang lain. Karakter inilah yang merusak diri kita, merusak masyarakat kita dan merusak bangsa kita. Pernyataan Theodore Rosevelt menjadi pembenar kenyataan ini bahwa “Saya tidak peduli apa yang orang lain pikirkan tentang apa yang saya lakukan. Tetapi, saya sangat peduli tentang apa yang saya pikirkan, tentang apa yang saya lakukan. Itu yang disebut karakter.

Ketiga, menyukuri apa yang diberikan Tuhan kepada kita adalah bagian yang terpenting dari upaya kita untuk membangkitkan keterpurukan mentalitas kita sebagai bangsa. Keterbatasan dan ketidaksempurnaan adalah pemberian Tuhan yang tak ternilai : sebuah kesempurnaan. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya”, demikian Firman Alloh SWT dalam Q.S. At Tiin: 4.

Semuanya kembali pada diri kita. kawan-kawan kita difabel telah memberikan contoh terbaiknya. Jika mereka bisa bangkit dari keterpurukan mental dengan keterbatasan dan ketidaksempurnaan, mustinya kita lebih bisa memupuk dan membangkitkan karakter kita sebagai bangsa dengan segala kekuatan dan kesempurnaan yang kita miliki.

Denpasar, 11 Oktober 2017

 

*) Penulis : Mariman Darto