Bedah Jurnal seri 2 Tahun 2017 “ Methodology Research Mengenal Mixed Quantitative-Qualitative “

Semangat menulis tidak akan pernah berhenti di sampaikan oleh pengelola Jurnal Borneo Administrator (JBA). Sebagai sebuah jurnal ilmiah berkala di bidang administrasi negara, JBA akan selalu memberikan ruang pubikasi bagi para penulis  untuk terus berkarya dengan artikel – artikel yang dimuat di JBA. Sebagai bentuk kepedulian JBA terhadap peningkatan kompetensi menulis, pengelola JBA yang berada dalam naungan Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur III Lembaga Administrasi Negara kembali menyelenggarakan Bedah Jurnal seri 2 Tahun 2017. Kegiatan berlangsung di ruang kelas pada hari Senin, 27 Nopember 2017 dengan tema “ Methodology Research Mengenal Mixed Quantitative-Qualitative “. Sebagai narasumber adalah Prof Dr. Nur Fitriah, M.S yang merupakan Wakil Dekan II Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Mulawarman dan juga merupakan mitra bestari JBA. Kegiatan ini dihadiri sekitar 50 orang yang terdiri dari penulis, peneliti, widyaiswara dan dosen. Pada penyelenggaraan Bedah Jurnal seri 2 Tahun 2017, penyelenggara memberikan nuansa kelas yang berbeda dengan Bedah Jurnal sebelumnya.  Dengan ini diharapkan peserta dapat menyerap ilmu yang disampaikan oleh narasumber.

Penyelenggaraan Bedah Jurnal seri 2 Tahun 2017 sedikit berbeda karena fokusnya adalah  mengulas Methodology Research Mixed Quantitative-Qualitative. Metode ini telah banyak dikenal didunia penelitian karena mengkolaborasi metode kualitatif dan kuantitatif. Dalam sambutannya, Husain, S.Sos sebagai Sekretaris Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur III Lembaga Administrasi Negara menyampaikan “ Kita sangat berharap, kegiatan Bedah Jurnal seri 2 Tahun 2017 dapat menjelaskan metodologi penelitian yang nantinya memberikan kontribusi kepada penulis dan meningkatkan kapasitas JBA dalam mengelola artikel yang masuk di redaksi “. Keberadaan JBA tidak akan terlepas dari kontribusi penulis dan artikel yang masuk keredaksi JBA. Berusaha memberikan informasi terbaru dalam hal metodologi penelitian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari peran pengelola JBA untuk dapat berbagi pengetahuan kepada penulis. Sehingga nantinya dapat meningkatkan kapasitas penulis dan pengelola JBA.

Kampanye JBA juga disampaikan oleh Andi Wahyudi, sebagai salah satu dari redaksi JBA. Dalam pemaparannya, disampaikan “ penyelenggaraan Bedah Jurnal seri 2 Tahun 2017 adalah untuk refresh dan recharge tentang teori – teori yang sebagaian dari kita telah mempelajari, terutama selama ini yang kita ketahui adalah metode kualitatif atau kuantitatif dan hampir tidak pernah kita menggunakan mix method dalam penelitian “. Hal ini menjadi menarik untuk diulas karena mixed method sudah cukup banyak diketahui dan dipelajari namun belum banyak diimplementasikan dalam dunia penelitian.

Prof. Dr. Nur Fitriah, M.S sangat senang dengan adanya kegiatan Bedah Jurnal seri 2 Tahun 2017. Beliau menyampaikan “ Mixed Method mejadi menarik karena manfaatnya luas bagi penelitian sosial dan juga menjadikan nilai yang strategis sehingga banyak juga yang tertarik dengan metode ini “. Keberadaan mixed method menjadi menarik dikarenakan (1) Relatif sedikit ruang yang diberikan kepada masalah ini dalam buku-buku metodolasi (2) Relatif  sedikit studi  yang menggunakan metode ini yang secara eksplisit mendiskusikan implikasi – implikasi metodolosis (3) Di kalangan sponsor mulai tertarik  dengan metode ini (4) Ilmuwan Sosial menjadikan sebagai metode penelitian yang bernilai strategis.

Cukup panjang dan jelas terkait materi yang disampaikan oleh Prof. Dr. Nur Fitriah, M.S, namun tidak menyurutkan semangat peserta untuk tetap memberikan perhatian pada sesi pemaparan narasumber. Beberapa candaan dari narasumber cukup mengurangi ketegangan peserta yang sangat serius menerima materi mixed method. Sehinga pertanyaan pun disampaikan oleh peserta yang masih penasaran konsep mixed method  dan bagaimana mengaplikasikannya. Diakhir acara menjadi lebih ramah dengan berfoto bersama nasarumber yang sudah sangat terkenal di Universitas Mulawarman. Semoga Pengelola Jurnal Borneo Administrator dapat terus menyelengarakan “ Bedah Jurnal “ dan dapat menginspirasi setiap orang untuk terus menulis di jurnal ilmiah. (WLA)

“Bedah Jurnal 2017” Oleh Pengelola Jurnal Borneo Administrator PKP2A III LAN

Pada Senin 30 Oktober 2017 di Mini Theater PKP2A III LAN, Pengelola Jurnal Borneo Administrator (JBA) Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur III Lembaga Administrasi Negara (PKP2A III LAN) mengukir sejarah dengan menyelenggarakan “Bedah Jurnal 2017”. Ada 3 tujuan dari kegiatan Bedah Jurnal, yaitu: pertama, meningkatkan kompetensi peneliti, widyaiswara, analis kebijakan, dosen dan jabatan fungsional tertentu lainnya dalam menulis pada jurnal ilmiah. Kedua, memberikan peluang dan tantangan kepada peneliti untuk mendiseminasikan hasil pemikiran ilmiahnya kepada publik. Ketiga, sebagai media promosi agar lebih banyak kontributor/peneliti menyampaikan artikelnya ke JBA. Keempat, upaya untuk senantiasa meningkatkan kualitas Pengelola Jurnal dan JBA.

Dalam sambutannya, mewakili Kepala PKP2A III LAN, Kepala Bidang Kajian Kebijakan dan Inovasi Administrasi Negara Windra Mariani menyampaikan “bahwa berdasarkan data dari Scimago Journal and Country Rank pada periode Desember 2016, Indonesia berada dalam posisi rangking 55 berdasarkan jumlah publikasi ilmiah yang dihasilkan. Tentunya hal tersebut belumlah menjadi sesuatu yang menggembirakan apalagi jika dibandingkan dengan negara tetangga yaitu Singapura yang berada pada rangking 32, Malaysia yang berada pada rangking 34 dan Thailand di Rangking 43 “. Kondisi ini perlu menjadi perhatian bagi dunia publikasi ilmiah untuk selalu komitmen dan konsisten dalam mengkampanyekan peningkatan kualitas publikasi ilmiah. Ditambah lagi dalam sambutannya “Jurnal ilmiah keberadaanya sangatlah dibutuhkan dalam rangka terus meningkatkan budaya pengetahuan baik di dunia penelitian, kewidyaiswaraan ataupun dunia akademik. Hal ini telah menjadi sebuah kebutuhan. Apa arti sebuah pemikiran ilmiah apabila tidak dituliskan dan dipublikasikan karena pada akhirnya hal ini akan dibaca dan dimanfaatkan oleh masyarakat.

Acara inti dimulai dengan membedah salah satu artikel pada JBA yang telah terbit pada Volume 12 Nomor 1 Tahun 2016 dengan judul “Problematisasi Kebijakan Pengelolaan Sampah Di Kota Samarinda : Problematisasi Kebijakan Dengan Pendekatan WPR “. Sebagai penyaji yang sekaligus penulis artikel adalah Andi Wahyudi S.IP., M Pubadmin (Pol) yang merupakan peneliti di PKP2A III LAN. Narasumber adalah Dr. Rudianto Amirta, S.Hut., MP yang merupakan Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman sebagai pembahas artikel yang juga menyampaikan bagaimana cara meningkatkan kompetensi menulis pada jurnal ilmiah. Kegiatan ini dihadiri sekitar 40 orang yang terdiri dari penulis, peneliti, widyaiswara, dosen, pengelola perpustakaan, pengelola jurnal dan komunitas peduli lingkungan.

Pada kegiatan “Bedah Jurnal 2017 “, artikel yang dibedah merupakan kajian analisis kritis terhadap dokumen kebijakan pengelolaan sampah di Kota Samarinda, yaitu Perda Kota Samarinda Nomor 2 Tahun 2011 dengan pendekatan WPR (What is the problem represented to be?) yang diperkenalkan oleh Bacci. Dalam artikel ini mencoba mengungkapkan persoalan manajemen dan kepatuhan warga Kota Samarinda dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dan lingkungan. Dari sisi manajemen, kebijakan pengelolaan sampah di Kota Samarinda tidak berjalan efektif untuk menjawab persoalan yang ada. Dimana masih rendahnya kapasitas pengangkutan sampah dibandingkan dengan volume produksi sampah. Kemudian dari sisi kepatuhan, kebijakan ini memberikan sanksi pada masyarakat yang melanggar perda namun tidak menyentuh edukasi publik untuk merubah perilaku masyarakat. Wacana ini kemudian menjadi menarik dan dikemas dalam wujud kegiatan “Bedah Jurnal 2017 “.

Dalam pemaparannya, Andi Wahyudi menyampaikan “WPR ingin melihat problematisasi kebijakan, dimana kebijakan pada dasarnya untuk menyelesaikan masalah, maka kebijakan itu dibuat selayaknya berdasarkan kebutuhan bukan berdasarkan keinginan“. Kondisi ini kemudian membuat penulis berpendapat “Samarinda memiliki permasalahan di pengelolaan sampah dan saya mencoba pendekatan WPR ini dalam perda No 2/2011, dari pasal yang ada saya menginterpretasikan bahwa pada pengambil kebijakan perda No 2/2011 melihat bahwa problem dari kebijakan pengelolaan sampah adalah pertama, manajemen dan kedua adalah kepatuhan melihat ada cara mengelola sampah dan sanksi. Menurut Interpretasi penyaji, permasalahan muncul karena rendahnya kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan sampah dan pemerintah mengendorse pelaksanaan sanksi pada masyarakat yang melanggar perda. Di akhir pemaparan, penyaji menyampaikan keinginannya untuk Kota Samarinda “Saya bermimpi kalau di Kota Samarinda minimal dipisahkan antara sampah organik dan anorganik, plastik, gelas, kaca, logam jika tidak bisa dipisahkan menjadi 3 minimal 2 saja, kalo di Jepang pemisahannya menjadi 7 jenis, kalo di sini masih terlalu jauh, minimal bisa dipisahkan menjadi 2 jenis saja sudah bagus “.

Rasa bangga dan takjub sangat terlihat pada Dr. Rudianto Amirta, S.Hut., MP sebagai Dekan Fahutan Universitas Mulawarman dengan menyampaikan “Selamat kepada LAN yang bisa istiqomah dalam pengelolaan jurnal, permasalahan jurnal adalah masalah kita bersama dan tidak mudah menjaga kesinambungan publikasi apalagi di pengelolaannya, di indonesia barangkali memang banyak kendalanya terutama policy, pendanaan dan penunjang “. Oleh karena itu perlu konsorsium antar lembaga peneliti untuk menangkal kendala-kendala tersebut. Bahwa pada saat ini kita sepakat menulis di peneliti, dosen dan pengajar adalah suatu kewajiban, dan bukan saatnya lagi kita puas dengan apa yang kita kerjakan di jurnal kita. Menariknya lagi menurut narasumber “Isu ini bukan isu yang mudah tapi juga bukan isu yang diminati, namun mungkin di kita yang diminati karena bicara di WPR nya, Namun demikian kejelian beliau mengangkat saya mengucapkan selamat “

Sebagai penutup paparan narasumber menyampaikan “5 tahun terakhir ini kita aman, kebaharuan terpenuhi, tema terpenuhi, namun yang jadi masalah peneliti di Indonesia, kenapa susah menulis? karena membacanya juga susah, hampir semua referensi bahasa inggris, karena dengan membaca kita mendapat banyak hal dan banyak ide, baik outline penulisan, metode, visualisasi outputnya dan caranya kemana. Ada dosen yang salah memilih jurnal, akhirnya mengeluh dan hopeless, dipikir memilih jurnal itu hanya cocok padahal ada historical publication, ada jurnal yang butuh 4 bulan, 1 tahun, 2 tahun dan bahkan ada yang cuma 3 bulan”.

Penyelenggaraan “Bedah Jurnal 2017 “mendapatkan respon yang baik bagi audiens yang hadir. Tiga jam pembahasan dan diskusi seperti tidak cukup memuaskan semangat audiens untuk bertanya dan menyampaikan pendapat. Semoga Pengelola Jurnal Borneo dapat terus menyelengarakan “Bedah Jurnal“ dan dapat menginspirasi setiap orang untuk terus menulis di jurnal ilmiah. (WLA)

Bangkit dari Keterpurukan Mental

Saya tidak peduli apa yang orang lain pikirkan

 tentang apa yang saya lakukan. Tetapi, saya sangat peduli

tentang apa yang saya pikirkan, tentang apa yang saya lakukan.

Itu yang disebut karakter.

— Theodore Roosevelt

 

Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur Malaysia, 23 September 2017 menjadi saksi keperkasaan tim Para Games Indonesia. Di stadion termegah di Malaysia itu, perhelatan Para Games 2017 yang berlangsung sejak 17 September 2017 ditutup. Semua mata tertuju ke kontingen Indonesia yang menjadi juara umum pesta olah raga dua tahunan para difabel se-Asia Tenggara itu. Mengungguli Malaysia dan Thailand yang menjadi juara umum kedua dan ketiga.

Capaian sempurna dari para atlet difabel ini menjadi kado terindah, sekaligus penawar kekecewaan Tim Indonesia yang — pada perhelatan SEA Games 2017 di Malaysia — prestasinya anjlok di peringkat kelima. Produktifitas  mereka dalam mendulang medali, jauh melampaui capaian para atlet yang terjun di SEA Games.

Prestasi atlet difabel ini memang luar biasa. Dengan hanya berkekuatan 196 atlet, medali emas yang mereka raih mencapai 126 keping. Sementara atlet SEA Games yang turun dengan kontingen sebanyak 534 atlet hanya bisa meraih 38 medali emas. Hal itu membuktikan, bahwa sekalipun berada dalam keterbatasan, mereka bisa mengharumkan nama bangsa.

Wajar jika presiden Jokowi, melalui akun tweeternya, menyampaikan apresiasinya kepada para atlet difabel ini. “Selamat untuk Tim Indonesia, Juara Umum Asean Para Games 2017 di Kuala Lumpur. Kalian semua membanggakan”, tegas Jokowi.

*****

Torehan prestasi saudara-saudara kita difabel tersebut seolah mengingatkan, sekaligus menyadarkan kita bahwa prestasi bukanlah monopoli manusia-manusia dengan kesempurnaan fisik. Mentalitas juara bukanlah monopoli kita. Karakter bukanlah soal fisik. Karakter adalah soal cara pandang kita tentang kesempurnaan. Karakter adalah soal cara berfikir kita tentang kesempurnaan. Karakter adalah soal cara bekerja kita menuju kesempurnaan. Soal cara kita menjadi juara. Karakter adalah soal cara kita menuju prestasi.

Prestasi bagi mereka adalah harumnya nama bangsa. Prestasi bagi mereka adalah menenggelamkan urusan pribadinya dan meninggikan derajat dan martabat bangsanya. Prestasi adalah berani menyatakan bahwa ketidaksempurnaan bukan penghalang tetapi sebagai lecutan motivasi hingga mereka terbang tinggi menggapai bintang-bintang. Prestasi bagi mereka adalah tidak memberikan kesempatan bagi kemalasan untuk hidup bersamanya. Prestasi adalah menutup rapat pintu keluhan tetapi membuka lebar ruang syukur atas pemberian tuhan kepadanya.

Menurut catatan Kompas (23/9/2017), Atlet Para Games menjalani latihan tanpa dukungan dana dan peralatan memadai. Mengeluhkah mereka? Menurunkah semangat mereka? Lantas tidak berprestasikah mereka? Jawabannya tentu tidak. Mereka tetap gigih berjuang hingga mencapai hasil yang luar biasa. Bandingkan dengan atlet SEA Games yang anggaran persiapannya saja sebesar  30,9 milyar. Itu belum termasuk total anggaran selama keberangkatan, pelaksanaan hingga pemulangan serta bonus bagi para atlet berprestasi dalam SEA Games 2017.

Inilah manusia ikhlas. Tidak melihat keterbatasan secara sempit, namun melihat keterbatasan sebagai sebuah kesempurnaan. Perjuangan Tim Indonesia Para Games adalah perjuangan tidak sekedar melawan atlet-atlet difabel dari mancanegara. Namun mereka melawan keterbatasan dirinya, melawan egonya, melawan kepentingan pribadinya, dan melawan hawa nafsunya. Kalau lawan-lawannya mungkin masih mudah ditaklukkan, namun melawan diri sendiri sangat sulit.

Presiden Soekarno dalam pidato ulang tahun RI yang ke-12, tanggal 17 Agustus 1957, pernah mengungkapkan bahwa melawan musuh-musuh kita dalam masa perang lebih mudah. Kita masih memiliki kekuatan idealisme, keikhlasan, satu misi, musuh kita jelas dan semuanya kita adalah pejuang dan pekorban.

“Dalam masa Liberation (perang), idealisme masih cukup menyala-nyala, api keikhlasan masih cukup bersinar terang, kekeramatan mission sacrée masih cukup menghikmati jiwa. Dalam masa Liberation, semua orang adalah pejuang, semua orang adalah pekorban, semua orang adalah baik. “There are no bad men in a battle”, – “tidak ada orang yang tidak baik dalam satu pertempuran mati-matian”, tegas Presiden Soekarno mengutip seorang Panglima Perang.

Yang lebih berat adalah pada era nation-building, era mengisi kemerdekaan. Era dimana ego individual lebih menonjol. Era dimana ego kelompok/golongan, asal usul daerah, partai, ras, suku bangsa, agama, lebih penting daripada kebersamaan dan gotong royong. Pada masa seperti ini revolusi mental menjadi sangat penting.  Dalam bagian lain, Bung Karno dalam pidatonya juga menegaskan hal ini.

“… Lebih-lebih lagi dalam sesuatu masa nation-building, – nation-building dengan segala godaan-godaannya, dan dengan segala aberasi-aberasinya, – maka satu Revolusi Mental adalah mutlak perlu untuk mengatasi segala kenyelèwèngan, – lebih perlu daripada dalam masa sebelum nation-building itu, yaitu dalam masa Liberation”.

*****

Banyak pembelajaran penting yang bisa kita petik dari Tim Indonesia Para Games 2017. Pertama, ketidaksempurnaan bukanlah hambatan untuk berprestasi. Kita perlu mencontoh saudara-saudara kita difabel ini. Ketidaksempurnaannya justru dijadikan motivasi besar untuk bangkit dan akhirnya menjadi juara. Kita yang memiliki kesempurnaan justru tidak mampu menaklukkan diri kita yang penuh dengan belenggu: egoisme, kemalasan, suka mengeluh, berfikir negatif, mental korup, primordial dan lain sebagainya. Bangsa ini membutuhkan uluran tangan kita. Kalau para kaum difabel bisa, seharusnya prestasi kita melebihi mereka karena Tuhan memberikan kesempurnaan pada diri kita. Kuncinya adalah keberanian kita melawan musuh terbesar kita: diri kita sendiri.

Para atlet difabel ini mampu melakukannya. Mereka tidak pernah mengeluhkan keterbatasan yang ada padanya. Mereka tidak iri dengan saudara-saudaranya yang memiliki kesempurnaan fisik. Tentu kita malu sebagai manusia sempurna. Lebih suka menuntut daripada mendorong pencapaian hebat seperti mereka.

Kedua, para atlet tidak pernah memikirkan kesempurnaan fisik orang lain. Tidak pernah menggunjing apa yang dilakukan orang lain. Mereka hanya fokus dengan apa yang dipikirkan, dengan apa yang dilakukan. Inilah bedanya kita dengan orang lain. Karakter inilah yang merusak diri kita, merusak masyarakat kita dan merusak bangsa kita. Pernyataan Theodore Rosevelt menjadi pembenar kenyataan ini bahwa “Saya tidak peduli apa yang orang lain pikirkan tentang apa yang saya lakukan. Tetapi, saya sangat peduli tentang apa yang saya pikirkan, tentang apa yang saya lakukan. Itu yang disebut karakter.

Ketiga, menyukuri apa yang diberikan Tuhan kepada kita adalah bagian yang terpenting dari upaya kita untuk membangkitkan keterpurukan mentalitas kita sebagai bangsa. Keterbatasan dan ketidaksempurnaan adalah pemberian Tuhan yang tak ternilai : sebuah kesempurnaan. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya”, demikian Firman Alloh SWT dalam Q.S. At Tiin: 4.

Semuanya kembali pada diri kita. kawan-kawan kita difabel telah memberikan contoh terbaiknya. Jika mereka bisa bangkit dari keterpurukan mental dengan keterbatasan dan ketidaksempurnaan, mustinya kita lebih bisa memupuk dan membangkitkan karakter kita sebagai bangsa dengan segala kekuatan dan kesempurnaan yang kita miliki.

Denpasar, 11 Oktober 2017

 

*) Penulis : Mariman Darto

Walikota Balikpapan : Pengembangan ASN Membutuhkan Komitmen Kepala Daerah

Balikpapan (8/9/2017) – Pengembangan kompetensi ASN menjadi kunci keberhasilan pembangunan di suatu daerah. Dukungan dan komitmen kepala daerah sangat diperlukan. Tanpa dukungan dan komitmen itu maka upaya peningkatan kompetensi dan kinerja Aparatur Sipil Negara tidak akan berjalan dan berdampak buruk terhadap pembangunan di daerah. Demikian kesimpulan silaturrahim kepala PKP2A III LAN Samarinda, Dr. Mariman Darto dengan Walikota Balikpapan HM. Rizal Effendi di Balikpapan pada Jumat (8/9/2017) lalu.
Pertemuan yang berlangsung santai dan penuh keakraban tersebut dilakukan di VIP Room, Balaikota Balikpapan. Pertemuan ini dilakukan dalam rangka permohonan dukungan Pemerintah kota Balikpapan terkait rencana Lembaga Administrasi Negara RI (LAN RI) yang akan membangun Assessment Center dan Pusdiklat Kepemimpinan Strategis di kota Balikpapan.
Hadir dalam pertemuan itu antara lain Wali Kota Balikpapan, H.M. Rizal Effendi; Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah Kota Balikpapan, Ir. H. Chaidar; Kepala BKPSDM Kota Balikpapan, Robi Ruswanto; Kepala Bagian Perkotaan Setda Kota Balikpapan, Tommy Alfianto; dan Kepala Bidang Pengelolaan Barang Milik Daerah pada BPKD Kota Balikpapan, M. Farid Rizal. Sementara itu dari pihak LAN RI diwakili oleh Kepala PKP2A III LAN Samarinda, Dr. Mariman Darto; dan Kepala Bagian Administrasi, Husain beserta staf.
Sebagaimana diketahui sebelumnya, bahwa untuk membangun Gedung Assessment Center dan Pusdiklat Kepemimpinan Strategis, LAN membutuhkan lahan yang cukup luas di Balikpapan.  Pada saat kondisi keuangan negara yang serba terbatas, maka Pemerintah dalam hal ini LAN tidak akan mampu mengadakan lahan sendiri. Karena itulah diawal Februari 2017 Kepala LAN RI mengajukan permohonan hibah lahan sekitar 3 ha kepada Walikota Balikpapan.
“Saya menyetujui proposal LAN RI tersebut dan memerintahkan Asisten Administrasi Umum untuk menindaklanjuti”, demikian pernyataan Walikota Balikpapan di VIP Room, Balaikota Balikpapan pada jumat bagi minggu lalu.
Kepala PKP2A III LAN, Dr. Mariman Darto menganggap persetujuan Walikota Balikpapan tersebut sebuah bentuk dukungan dan komitmen konkrit Pemerintah Kota Balikpapan terhadap pengembangan kompetensi dan kinerja Aparatur Sipil Negara. “Sejak awal saya yakin bahwa pak Rizal Effendi akan menyetujui proposal kami. Kami melihat komitmen beliau terhadap pengembangan ASN di daerahnya sangat nyata. Sekalian flash back, beliau pernah mendapatkan penghargaan dari Menteri PAN dan RB sebagai kepala daerah yang berkomitmen terhadap pengembangan ASN di ajang Jambore Inovasi Kalimantan awal Agustus lalu. Ini bukti nyata”, tegas Mariman Darto.
Pembangunan Gedung Assessment Center dan Pusdiklat Kepemimpinan Strategis ini merupakan upaya LAN untuk mendekatkan pelayanan ke stakeholders di seluruh Kalimantan. Selama ini banyak daerah yang melakukan penilaian kompetensi ASN di Jawa. Tentu ini tidak efisien. “Saya berharap lahirnya Gedung Assessment Center akan membantu pemerintah daerah di Kalimantan mendapatkan kemudahan melakukan penilaian terhadap kompetensi ASN-nya. Harapannya, pemerintah daerah di Kalimantan makin memiliki banyak pilihan untuk melaksanakan assessment center”, tegas Mariman Darto dalam silaturrahim tersebut.
Dalam waktu dekat, Pemerintah kota Balikpapan akan memproses Hibah lahan seluas 3 ha yang lokasinya disamping GOR Lapangan Tenis Kota Balikpapan. “Secara umum Pemerintah kota telah telah melakukan pengukuran ulang untuk mengetahui persis luasan lahan dilokasi dekat GOR Lapangan Tenis. Agar LAN bisa mendapatkan kepastian persetujuan dari Pak Walikota, maka dalam waktu dekat kita akan menyampaikan Surat Pernyataan Pemberian Hibah Tanah kepada LAN RI dalam waktu dekat”, tegas Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah Kota Balikpapan, Ir. H. Chaidar dalam pertemuan tersebut.

      

Obat Mujarab OTT KPK : Mengembalikan Nilai-Nilai dan Keteladanan Pendiri Bangsa

Minggu lalu (16/9/2017) saat dalam perjalanan pulang menuju Samarinda dari Balikpapan, saya dikejutkan dengan pertanyaan sopir travel yang mengantarkan saya. “Pak mohon maaf mau tanya. Sekarang banyak pejabat yang ditangkap KPK. Apa mereka sudah hilang rasa takutnya ya pak?” tanya Abu nama sopir itu. Saya tidak lantas menjawab pertanyaan itu. Dia menyodorkan sebuah surat kabar kepada saya. “OTT KPK, Ketua-Wakil Ketua DPRD Tersangka”, demikian Headline Kaltim Post edisi Sabtu, 16 September 2017. “Prihatin saya mas Abu,” Saya pun hanya mampu mengungkapkan keprihatinan.

Surat kabar terbesar di Kalimantan Timur itu mewartakan adanya Operasi Tangkap Tangan (OTT) kembali dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Operasi senyap itu dilakukan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel) pada Kamis (14/9).

Selang sehari, di whatsapp saya muncul link berita dari kompas.com (17/9/2017) yang menginformasikan tentang OTT KPK dengan ‘tangkapan’ baru, Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko. Sebelumnya, Bupati Batubara OK Arya Zulkarnain dan empat tersangka lainnya tertangkap tangan dalam kasus suap pembangunan infrastruktur di Kabupaten Batubara tahun anggaran 2017.

*****

Dalam catatan saya, selama dua minggu pertama bulan September ini sudah ada  lima kali OTT dilakukan KPK. Ini berarti selama 2017 ini KPK telah melakukan 15 kali OTT. Hanya kurang dua kali OTT lagi, KPK berhasil menyamai rekor OTT tahun 2016 yang mencapai 17 kali. Dengan waktu yang masih tersisa lebih dari tiga bulan sampai dengan akhir tahun 2017 ini, sangat mungkin KPK mampu melakukannya.

Wajar jika Presiden Jokowi pun mengapresiasi dan mendukung langkah KPK melakukan OTT ini. “Prestasi KPK itu ya di OTT ini,” tegas presiden. Meskipun demikian, Jokowi mengatakan bahwa langkah OTT ini harus didasarkan pada alat bukti dan fakta yang kuat. “Ya memang kalau ada bukti, ada fakta-fakta hukum di situ, saya kira bagus,” kata Jokowi saat melakukan peninjauan ke Pasar Baru, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Jumat (15/9/2017).

Sejak tahun 2004 hingga kini, jumlah perkara yang ditangani KPK mencapai 670. Jika dilihat dari asal jabatannya, maka pejabat Eselon I/II/III/IV merupakan yang terbanyak (155 perkara), disusul swasta (170 perkara), DPR/DPRD (134 perkara), bupati/walikota (80 perkara), kepala lembaga/kementerian (25 perkara), gubernur (18 perkara), hakim (15 perkara), komisioner (7 perkara), duta besar (4 perkara), dan sisanya sebanyak 82 perkara (Tempo, 24/9/2017).

*****

Muncul banyak pertanyaan terkait kenapa banyak pejabat di negeri ini, khususnya kepala daerah dan jajarannya tersangkut OTT? Tidakkah OTT membuat para pemimpin harus mawas diri? Bukankah mereka menjadi orang-orang pilihan dengan seleksi yang sangat ketat? Lantas di mana keteladanan kepemimpinan kita?

Tentu artikel singkat ini tidak berpretensi untuk menjawab seluruh pertanyaan itu. Artikel ini hanya menganalisis salah satu faktor penyebab berulangnya OTT, yang menurut pandangan saya lebih dikarenakan lemahnya – untuk tidak mengatakan hilangnya – peran keteladanan atau mentalitas keteladanan para elit dan pemimpin birokrasi kita.

Telah banyak kebijakan sebagai instrumen pencegahan sekaligus pengendalian terhadap tindak korupsi. Namun lemahnya aksi dan kurang konsekuennya penegakan hukum membuat mereka berani melakukannya.

Menurut saya ada tiga penyebab kenapa korupsi tetap ada.

Pertama, lemahnya dukungan suprastruktur dan infrastruktur politik dalam pemberantasan korupsi di Indonesia. Upaya pelemahan terhadap KPK yang dilakukan DPR dan banyak pejabat-pejabat negara yang menjadi tersangka bisa menjadi ukuran betapa KPK berjibaku sendiri dalam melakukan pencegahan dan pemberantasan korupsi di tanah air. Sekalipun kita juga memahami tidak kecilnya peran kepolisian dan kejaksaan dalam penegakan hukum.

Sementara peran lembaga-lembaga sosial politik dan lembaga penekan yang berkembang di masyarakat (civil society) mengalami “anemia” sehingga makin melemah. Namun kita masih bersyukur karena masih ada lembaga Transparansi Internasional (TI) dan Indonesia Corruption Watch (ICW) dan lain-lain yang tetap konsisten di jalur perlawanan terhadap korupsi di tanah air, sekalipun sempat diisukan ‘bermain mata’ dengan KPK.

Kedua, kesadaran hukum dan belum konsekuen dan tegasnya penegakan hukum terhadap pelaku korupsi. Munculnya penilaian dari sebagian masyarakat bahwa KPK masih tebang pilih menunjukkan masih ada masalah di dalam proses penanganan kasus korupsi.

Belum lagi, masyarakat mulai acuh dan cenderung tidak mau dilibatkan dalam urusan korupsi, khususnya di daerah. Umumnya masyarakat khawatir melibatkan diri pada urusan korupsi, sekalipun hanya menjadi memberikan arah, apalagi sampai melaporkan kasus yang nyata-nyata mereka ketahui. Alih-alih ingin melaporkan kejadian korupsi, justru yang terjadi bisa sebaliknya, penghakiman bahkan bisa mendapatkan ancaman pembunuhan. Dalam beberapa kasus malah dilaporkan instansi penegak hukum.

Ketiga, masalah mentalitas pemimpin atau pejabat yang nir-keteladanan. Lemahnya karakter keteladanan pemimpin ini menjadi penyebab utama banyaknya OTT yang dilakukan KPK. Mental yang rapuh akan mudah tergoda dan tergiur dengan kekuasaan.

John Emerich Edward Dalberg Acton atau yang terkenal dengan sebutan Lord Acton pernah mengatakan bahwa kekuasaan itu cenderung korup dan kekuasaan yang absolut pastilah korup (power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely).

Inilah yang sebenarnya menjadi fokus kita bersama dalam penanganan dan pemberantasan korupsi. Masalahnya tidak pada kebijakan, hanya pada bagaimana membangun sikap dan perilaku serta mentalitas pejabat.

Program reformasi birokrasi yang dicanangkan sejak tahun 2010 dan didorong secara serius oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono selama dua periode, dilanjutkan dengan gerakan nasional revolusi mental melalui Inpres nomor 12 tahun 2016, bertujuan untuk memperbaiki dan membangun karakter bangsa Indonesia yang mengacu pada nilai-nilai integritas, etos kerja, dan gotong royong.

Dalam Inpres itu, presiden menginstruksikan kepada menteri, sekretaris kabinet, jaksa agung, panglima TNI, kepala Polri, lembaga pemerintah non-kementerian, para kepala sekretariat lembaga negara, para gubernur, bupati serta walikota untuk melaksanakan.

Para pejabat tersebut sebelum melaksanakan tugas harus disumpah, yang bagi sebagian orang menimbulkan efek ketaatan dan kepatuhan terhadap aturan yang berlaku. Meskipun bagi sebagian pejabat tidak menimbulkan efek apa-apa. Belum cukupkah? Faktanya korupsi jalan terus. Sekali lagi masalahnya adalah mentalitas. Yang bisa kita harapkan adalah keteladanan pemimpin.

Sayangnya keteladanan seorang pemimpin hari ini adalah barang langka. Keteladanan hanya akan lahir dari sosok pemimpin yang berkarakter jujur dan berintegritas, sosok yang mau berkorban bukan penuntut bahkan pencari untung di tengah masyarakatnya yang miskin, di tengah negaranya yang sedang krisis. Gambaran keteladanan pemimpin hari ini sangat jauh dari keteladanan para pendiri republik ini.

Ya. Karena keteladanan hari ini hanyalah narasi yang disimbolisasikan dalam kampanye lima tahunan jelang pilkada bagi petahana atau calon penantang dalam pemilukada. Keteladanan hanyalah suara kebaikan yang disampaikan di depan panitia seleksi ketika ditanya tentang integritas. Keteladanan adalah bahasa langit yang disampaikan saat upacara atau apel pagi oleh pimpinan instansi.

Kepandaian dalam mengolah kata menjadi simbol semu sebuah perlawanan terhadap korupsi, namun tidak ada dalam dunia nyata. Namun, narasi kata itu telah menghipnosis sebagian kita yang tunduk karena khawatir tidak mendapat kursi kekuasaan, tidak mendapatkan jabatan, karena ragu dengan idealisme dan prinsipnya.

*****

Menghadirkan sosok Haji Agus Salim menjadi sangat penting. Tidak sekedar menjadi media untuk membandingkan dengan model kepemimpinan pejabat saat ini, namun lebih dari itu, untuk mendapatkan menjadikan pembelajaran bagi kita tentang keteladanan dari seorang pemimpin besar yang kaya akan keteladanan.

Banyak tulisan menarik terkait sosok Haji Agus Salim. Salah satu artikel menarik dari sekian banyak artikel tentang Haji Agus Salim adalah yang ditulis oleh Muhammad Roem berjudul “Memimpin adalah Menderita: Kesaksian Haji Agus Salim” (Prisma No. 8/1977). Karangan singkat yang mengisahkan keteladanan seorang diplomat senior yang tangguh dan sangat disegani itu menyampaikan pesan yang mendalam tentang bagaimana menjadi seorang pemimpin.

Menurut Muhammad Roem, sosok Haji Agus Salim adalah pemimpin yang amanah, lebih banyak berkorban daripada menuntut. Kemudian Muhammad Roem menggambarkan sosok Haji Agus Salim dalam pepatah Belanda sebagai “Liden is lijden!”, Memimpin adalah Menderita.

Bung Karno memberikan titel Haji Agus Salim sebagai ‘Orang Tua Besar’ (The Grand Old Man). Bung Karno sangat dekat dengan Haji Agus Salim. “Saya pernah meneguk air yang diberikan oleh beliau sambil duduk ngelesot di bawah kakinya. Saya merasa bahagia bahwa saya ini dulu pernah dapat minum air pemberian beliau,” tegas Sukarno.

Ridwan Saidi dalam “Seratus Tahun Agus Salim” (1996) menuliskan kisah keteladanan yang sangat inspiratif terkait penolakan beliau sebagai konsulat Belanda. “Mungkin jika tidak menolak menjadi konsulat Belanda di Arab Saudi dengan gaji 200 gulden per bulan, nasibnya tidak akan semelarat ini. Sekedar perbandingan, saat itu untuk bisa hidup layak dengan satu istri tiga anak cukup dengan 15 gulden per bulan”. Sebuah nilai pengorbanan yang langka dan patut diteladani.

Haji Agus Salim adalah ulama dan intelek. Spiritual capital adalah kuncinya. Sumber nilai dan prinsip hidup yang dipegangnya adalah agama yang diyakininya. Sosok pemimpin dengan keimanan yang baik memiliki kecenderungan taat pada Tuhan yang menciptakan yang diwujudkan melalui praktik ibadah. Sebagai seorang ulama yang berpengaruh beliau mampu mengajarkan kehidupan yang penuh keteladanan.

Kemampuan ibadah yang baik akan melahirkan kepedulian terhadap sesama yang akan melahirkan akhlak mulia. Haji Agus Salim adalah sosok pemimpin dengan kemampuan spiritualitas di atas rata-rata kita. Pancaran kemuliaan akhlaknya bersumber dari keimanannya yang kokoh.

Haji Agus Salim adalah juga gambaran kepemimpinan paripurna yang memimpin dengan karakter dan budi pekerti yang adi luhung. Pembelajaran penting bagi pejabat negara maupun pemerintah masa kini, agar terhindar dari OTT KPK. Jadilah contoh kepemimpinan terbaik yakni kepemimpinan yang memberikan contoh. “The best example of leadership is leadership by example”, sebagaimana diungkapkan oleh Jerry McChain. Masih adanya OTT berarti mengindikasikan lemahnya karakter keteladanan dalam kepemimpinan pejabat kita.

(Mataram, 22 September 2017)

LAN Bersiap Gelar Jambore Inovasi Kalimantan

Samarinda (ANTARA Kaltim) –  Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia melalui perwakilannya di daerah bersiap menggelar Jambore Inovasi Kalimantan di Banjarbaru, Kalsel, pada 2-6 Agustus 2017, sebagai ajang diseminasi dari hasil inovasi aparatur sipil negara untuk pelayanan publik.

“JIK akan kami gelar di Banjarbaru, Kalsel, pada 2-6 Agustus 2017 dan akan dibuka oleh Menteri PAN dan RB,” kata Kepala Pusat Kajian, Pendidikan, dan Pelatihan Aparatur (PKP2A) III Lembaga Administrasi Negara (LAN) Mariman Darto di Samarinda, Jumat.

Melalui penyajian inovasi administrasi negara dan pelayanan publik yang terbaik, lanjutnya, JIK ingin menunjukkan bahwa semua unsur ASN di Kalimantan terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan prima.

JIK juga dinilai ajang cerdas yang secara transformatif mengubah cara pandang pengelolaan di Kalimantan yang sebelumnya dibangun melalui kekuatan sumber daya alam, menjadi Kalimantan berkemajuan yang dibangun dengan penuh inovasi.

“Melalui berbagai karya inovatif segenap elemen masyarakat, diyakini Kalimantan akan menjadi pusat peradaban baru yang tumbuh dan maju sejajar dengan daerah lain yang sudah maju lebih dulu,” ujaranya.

Menurut ia, penyelenggaraan JIK diyakini mampu mendorong lahirnya semangat kreativitas, inovasi, dan jiwa wirausaha.

Dalam JIK juga akan terdokumentasikan hasil inovasi alumni Diklat Kepemimpinan maupun ASN lain yang bermanafaat bagi kepentingan publik.

Ia juga mengatakan bahwa rangkaian JIK 2017 telah diawali dengan Kompetisi Inovasi Pasca-Diklat Kepemimpinan (Sinopadik) bagi para alumni Diklatpim tingkat III dan IV wilayah Kalimantan yang berjalan sejak Januari hingga penetapan finalis utama Sinopadik pada puncak JIK tanggal 4 Agustus.

Sinopadik merupakan program yang dirancang sebagai instrumen disemenasi dan promosi inovasi yang melibat tiga instansi, yakni Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM), Badan Kepegawaian Daerah (BKD), dan instansi asal peserta.

“Program ini diharapkan mendorong ketersediaan forum dan penguatan jejaring kerja inovasi Kalimantan, demi meningkatnya kepercayaan publik terhadap berbagai inovasi yang terus dilakukan oleh para alumni Diklatpim,” tutur Mariman.

Dalam rangkaian JIK 2017 juga ada penganugerahan Borneo Innovation Awards kepada lima pemenang Sinopadik, kemudian penganugerahan bagi kepala daerah terpilih di Kalimantan yang memberikan perhatian besar terhadap pengembangan kapasitas ASN. (*)

Jambore Inovasi Kalimantan Pada 2-6 Agustus

Samarinda (Antara Kalteng) – Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Asman Abnur dijadwalkan membuka Jambore Inovasi Kalimantan, sebuah ajang bagi para alumni Diklatpim yang berprestasi untuk kepentingan publik. “JIK akan digelar di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada 2-6 Agustus 2017, dan akan dibuka oleh Bapak Menteri PAN-RB Asman Abnur,” ucap Kepala Pusat Kajian, Pendidikan, dan Pelatihan Aparatur (PKP2A) III Lembaga Administrasi Negara (LAN) Mariman Darto di Samarinda, Minggu. Acara yang dipusatkan di Lapangan Murjani Banjarbaru tersebut juga akan diwarnai pemberian tiga jenis penghargaan, yakni Borneo Innovation Awards, INAGARA Awards, dan penghargaan kepada bupati/wali kota terpilih yang memberikan perhatian lebih terhadap pelaksanaan Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan (Diklatpim). Dalam JIK juga akan diisi seminar/diskusi tentang inovasi dengan tema “Meningkatkan Daya Saing Daerah Melalui Inovasi” dengan menghadirkan pembicara para kepala daerah inovatif, seperti Bupati Banyuwangi Azwar Anas dan Bupati Bojonegoro Suyoto. Pembicara lain yang berkompeten di bidang inovasi juga dihadirkan dalam diskusi ini, dengan harapan untuk memberikan semangat berinovasi, mencontohkan teknik memajukan daerah melalui inovasi, serta menjadikan inovasi sebagai gaya hidup bagi masyarakat Kalimantan. Ia berharap semangat JIK 2017 dapat menjadi instrumen kunci perubahan, sehingga menjadi Kalimantan yang berbeda setelah masyarakatnya menjadikan inovasi sebagai kunci atas berbagai permasalahan yang ada. Menurutnya, masalah besar yang dirasakan Kalimantan adalah menggantungkan ekonomi pada sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui, sehingga hal ini Jambore Inovasi Kalimantan Pada 2-6 Agustus Minggu, 23 Juli 2017 18:19 WIB Pewarta: M Ghofar Pulau Kalimantan (kapuas.net) Terpopuler 14 Perwira Polri Naik Pangkat, Ini Daftarnya DPR RI Minta Masukan LKBN ANTARA terkait RUU RTRI Badan Hukum HTI Dicabut Mulai Hari Ini Kalsel Siap Jadi Ibu Kota RI, Usulan Sudah di Bappenas? Top News Hanura usung Jokowi untuk Pemilu 2019 7 jam lalu Nah! Staf Kejari Ini Diperiksa Tim KPK 16 jam lalu Usulan DPRD tak Disetujui Mendagri, Terkait Pilkada 16 jam lalu Astaga! Diduga Gunakan Narkoba, Polisi Ciduk Tora Sudiro dan Mieke Amalia 3 Agustus 2017 16:17 BPPT Anugerahi Menteri PUPR Gelar Perekayasa Utama Kehormatan 3 Agustus 2017 13:27 HOME KABAR DAERAH NASIONAL INTERNASIONAL BISNIS OLAHRAGA LIFESTYLE FOTO ANTARA TV Hasilkan Uang Online – Dapatkan Hingga Rp60000/Survei Bagikan Pendapatmu Dan Dapatkan Hadiah. Daftar Disini Dan Mulai Hasilkan Uang! in.tinjauanbandingan.net/online/surveys 6/8/2017 Jambore Inovasi Kalimantan Pada 2-6 Agustus – ANTARA News Kalimantan Tengah – Berita Terkini Kalimantan Tengah http://kalteng.antaranews.com/berita/268442/jambore-inovasi-kalimantan-pada-2-6-agustus?%C4%BAutm_source=related_news&utm_medium=related&utm… 2/3 BPJS Ketenagakerjaan Pinjamkan KPR Hingga Rp500 Juta Tabrakan Pick-up Vs Bus di Jalan Tjilik Riwut, 2 Orang Luka Parah Sidang Praperadilan Wakil Ketua DPRD Barsel Sempat Ditunda Petani Rotan Sangat Memprihatinkan! Ini Kata Sekjen PEPPIRKA Daud Yordan Menang TKO Atas Petinju Thailand Cegah Penipuan Investasi Bodong, Satgas Waspada Investasi Kalimantan Dibentuk Dana Masyarakat Kalimantan Dihimpun Bank Mandiri Capai Rp 33,1 Triliun Menteri Pertanian Fokus Tingkatkan Produksi Padi di Kalimantan ekonomi pada sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui, sehingga hal ini harus melakukan transformasi, caranya adalah dengan inovasi, karena dengan cara berpikir yang inovatif, tak ada masalah yang tak dapat dituntaskan. “Melalui karya-karya inovatif semua elemen di Kalimantan, saya yakin kelak Kalimantan akan menjadi pusat peradaban baru yang maju dan sejajar dengan daerah lain, dengan Jawa misalnya,” tutur Mariman. Ia melanjutkan, peserta JIK 2017 diperkirakan sebanyak 375 orang, antara lain para gubernur se-Kalimantan, bupati dan wali kota di Kalimantan, alumni Diklatpim tingkat III dan IV, mentor alumni Diklatpim, pimpinan dan pejabat Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia, dan beberapa unsur lain inovasi.

JIK 2017, Ajang Inovator Terbaik Kalimantan Besutan PKP2A III LAN Samarinda

DETAKKaltim.Com, SAMARINDA : Mariman Darto, Kepala Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur III Lembaga Administrasi Negara (PKP2A III LAN) Samarinda di hadapan sejumlah wartawan, menyampaikan agenda Jambore Inovasi Kalimantan 2017 yang akan diselenggarakan di Banjarmasin tanggal 2-6 Agustus 2017.

“Jambore Inovasi Kalimantan merupakan event tahunan yang dirancang untuk mendiseminasikan berbagai inovasi-inovasi pelayanan publik, sebagai bukti kehadiran Pemerintah untuk masyarakat,” sebut Mariman di Kantor LAN Samarinda, Jum’at (21/7/2017) pagi.

Kegiatan Jambore Inovasi Kalimatan (JIK) yang akan dibuka Asman Abnur, Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan RB, jelas Mariman, menjadi ajang terbesar para inovator di area Kalimantan. Akan diisi pameran inovasi khusus dari para The Champions yang telah melalui proses seleksi cukup panjang, dengan tahapan Kompetisi Inovasi Pasca Diklat Kepemimpinan (Sinopadik) bagi para alumni Diklatpim Tingkat III dan IV di wilayah Kalimantan.

Menurut Mariman, peserta diambil dari masing-masing provinsi 3 pemenang. Ada 49 peserta yang masuk nominasi. Nanti akan diseleksi menjadi 15 terbaik yang akan dikerucutkan menjadi 5 inovasi terbaik oleh tim nasional.

“Lima inovasi terbaik ini akan ditetapkan dan mendapatkan award yang akan diserahkan Menteri PAN RB, namanya Borneo Inovation Award,” ungkap Mariman.

Acara yang juga akan dihadiri Kepala Pusat LAN Adi Suryanto dan Gubernur Kalsel Sabirin Noor akan difokuskan di Lapangan Dr Murjani Banjar Baru, dengan menghadirkan 15 stan finalis Sinopadik serta lebih dari 150 lainnya yang akan menampilkan inovasi-inovasi terbaiknya, dalam lingkup Kalsel Expo 2017.

Selain itu, kegiatan ini juga akan dihadiri sedikitnya 375 orang peserta, terdiri dari Gubernur seluruh Kalimantan, dan para Bupati dan Walikota, serta alumni Diklatim tingkat III dan IV. (LVL)

Kepala LAN RI Apresiasi Gelaran Kalsel Expo dan Jambore Inovasi

BANJARBARU – Pembukaan Kalsel Expo 2017 di lapangan Murdjani Banjarbaru, Jumat (4/8/2017) terasa spesial. Acara dihadiri langsung Menteri PAN RB, Asman Abnur dan Kepala LAN RI, Adi Suryanto. Keduanya disambut hangat Gubernur Kalsel, Sahbirin Noor.

Acara Kalsel Expo 2017 ini juga menjadi meriah karena dibarengkan dengan pembukaan Jambore Inovasi Kalimantan Selatan 2017.

Kepala LAN RI mengaresiasi Kalsel sudah bisa dua kali melakukan jambore nasional. Dan ini menjadi point tambahan sebab daerah lain masih belum ada yang melaksanakan.

Dalam acara ini juga diberikan penghargaan kepada Borneo Inovasi Award 2017. Di mana hadir lima gubernur atau yang mewakili se Kalimantan.

Sumber: banjarmasin.tribunnews.com

Menteri Asman Dorong Kalimantan Percepat Perbaikan Kualitas Pelayanan Publik

BANJARBARU – Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Asman Abnur mendorong pemerintah daerah yang ada di wilayah  Kalimantan untuk memeprcepat perbaikan kualitas pelayanan publik. Hal itu diperlukan karena masyarakat membutuhkan pelayanan yang cepat dan mudah dari para penyelenggara negara.

Hal tersebut disampaikan saat membuka acara Jambore Inovasi Kalimantan Tahun 2017, di Banjarbaru, Kalimantan Sel;atan, Jumat (04/08).  Dikatakan, melalui Jambore Inovasi Kalimantan (JIK) tahun 2017 yang berisikan hasil inovasi dari para peserta Diklat Pim III dan IV, buah dari kerjasama PKP2A III LAN dengan Badan Diklat Provinsi di Wilayah Kalimantan, dapat melahirkan inovasi inovasi yang memberi kemudahan pada masyarakat.

Menurutnya kegiatan tersebut mempunyai arti yang sangat penting, karena selain menampilkan hasil-hasil pembangunan di Provinsi Kalimantan Selatan, acara ini juga bertujuan untuk menyebarluaskan inovasi pelayanan publik kepada seluruh stakeholder untuk mempercepat peningkatan kualitas pelayanan publik.  “Saya berharap agar acara ini dapat menjadi ajang berbagi pengetahuan dan pengalaman guna mendorong jajaran pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota serta provinsi di wilayah Kalimantan untuk selalu menciptakan inovasi-inovasi baru atau melakukan modifikasi terhadap inovasi yang sudah ada sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing,” ujarnya.

Menetri berharap acara Jambore Inovasi Kalimantan Tahun 2017 dapat memberi banyak manfaat, dan bagi inovasi yang lahir dapat direplikasi, baik terhadap  sistem, metode, maupun teknologi yang digunakan, sehingga akan memunculkan semakin banyak praktik-praktik terbaik inovasi pelayanan publik (best practices).

Lebih lanjut Asman menyampaikan bahwa pihaknya sejak tahun 2014 sampai sekarang telah menyelenggarakan Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik, dimana jumlah peserta meningkat sangat signifikan. Pada tahun 2014 tercatat hanya terdapat 515 unit pelayanan yang mengikuti Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik. Pada tahun 2015 meningkat dua kali lipat menjadi 1.189 unit pelayanan. Pada tahun 2016, peserta kompetisi kembali meningkat dua kali lipat menjadi 2.476 unit pelayanan. Terakhir pada tahun 2017 tercatat 3.054 unit pelayanan yang mendaftarkan menjadi peserta.

Kecenderungan ini memberikan gambaran bahwa inovasi di unit-unit pelayanan terus berkembang dalam rangka memberikan pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat. Peningkatan ini dikatakannya,  sangat menggembirakan, terlebih dengan masuknya program inovasi kedalam kurikulum Diklat di seluruh Indonesia yang dilakukan oleh jajaran LAN. “Saya sangat yakin bahwa selain akan meningkatkan jumlah peserta kompetisi, akan muncul inovasi-inovasi unggulan yang akan meningkatkan kepuasan masyarakat serta mengharumkan nama Indonesia dalam kancah kompetisi inovasi pelayanan publik tingkat dunia,” pungkasnya. (byu/HUMASMENPANRB).