Indonesia Membutuhkan Aparatur Sipil Negara yang Inovatif dan Profesional

BANJARBARU (Lampungpro.com): Indonesia saat ini membutuhkan aparatur sipil negara yang inovatif dan profesional di bidangnya. “Kita butuh ASN inovatif, bukan hanya datang ke kantor karena ingin mengisi absensi, takut pimpinan tetapi begitu di kantor tidak tahu apa yang dikerjakan,” Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Men PAN-RB) Asman Abnur di Banjarbaru, Kalimantan Selatan Jumat (4/8/2017).

Hal itu dikatakan Men PAN-RB saat pembukaan Kalsel Expo 2017. Kegiatan itu dilaksanakan selama enam hari mulai 4 sampai 9 Agustus 2017 di Lapangan Murjani Kota Banjarbaru. Asman menjelaskan siapa pun termasuk ASN harus mampu mengikuti perubahan zaman yang berorientasi penggunaaan teknologi informasi melalui berbagai peralatan telekomunikasi. “Dunia menjadi tiada batas karena kemajuan teknologi informasi, semua bisa diakses. Sehingga, kami terutama ASN dituntut mampu mengikuti perubahan, jika tidak akan tertinggal,” kata dia.

Menurut Men PAN di depan Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor dan sejumlah kepala daerah kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan, perubahan kinerja ASN tidak akan terjadi jika bukan dari diri sendiri. “Kita semua bisa melihat, keberhasilan suatu daerah bisa terjadi karena mereka berani melakukan terobosan melalui sumber daya manusia yang memiliki keinginan berubah,” kata dia.

Menurut Kemen PAN-RB mulai menerapkan sistem manajemen kinerja sehingga setiap ASN memiliki tugas dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan saat berada di lingkungan kerjanya. Dijelaskan, setiap Susunan Organisasi Perangkat Daerah (SOPD) harus memiliki standar kinerja yang wajib dipenuhi ASN, sehingga mereka benar-benar bekerja sebagai abdi negara. “Pimpinan SOPD jangan merasa puas melihat serapan anggaran di atas 90 persen karena serapan bukan ukuran, juga opini Wajar Tanpa Pengecualian bukan ukuran kinerja ASN,” kata dia.

Menurut Asmar, ukuran ASN yakni kinerja apa yang mampu dihasilkan melalui anggaran tersedia dan pencapaian harus sesuai dengan program setiap SOPD yang direncanakan sebelumnya. “Misalnya, kepala dinas pertanian dinilai berhasil jika mampu meningkatkan produksi pertanian selama memimpin, bukan hanya menghabiskan anggaran yang dialokasikan,” kata dia.

Dikatakan, Kemen PAN-RB akan fokus mengawal manajemen kinerja melalui target kinerja yang harus dipenuhi setiap ASN dan model cara kerja seperti itu siap diterapkan di seluruh Indonesia. “Jika ASN sudah mampu menunjukkan kinerja sesuai standar, baru bicara soal tunjangan kinerja. Kami yakin jika semua diterapkan, efisiensi dan efektivitas kerja tercapai,” kata dia. (**/PRO2)

Sumber: lampungpro.com

Jambore Inovasi Kalimantan Jadi Ajang Diseminasi Inovasi ASN

Jambore Inovasi Kalimantan Jadi Ajang Diseminasi Inovasi ASN

PKP2A III LAN Kembali Akan Gelar JIK

Marimar : Tujuan Mulianya Mengubah Cara Pandang Pengelolaan Kalimantan

SAMARINDA – Pusat Kajian Pendidikan dan Pelatihan Aparatur III Lembaga Administrasi Negara (PKP2A III LAN) akan kembali menggelar ajang prestisius Jambore Inovasi Kalimantan (JIK). Ajang berkumpulnya inovator se Kalimantan untuk mempromosikan dan mendiseminasikan hasil alumni diklat di wilayah Kalimantan (JIK 2017) tersebut rencananya diselenggarakan di Provinsi Kalimantan Selatan, 2 – 6 Agustus 2017.

Kepala PKP2A III LAN Samarinda, Mariman Darto menyebut JIK merupakan even tahunan yang dirancang untuk mendesiminasikan berbagai inovasi pelayanan publik sebagai bukti kehadiran pemerintah untuk masyarakat.

Melalui penyajian inovasi administrasi negara dan pelayanan publik yang terbaik, JIK ingin menunjukan bahwa semua unsur ASN di Kalimantan terus berupaya meningkatkan kualitas publik yang semakin prima.

“Tujuan mulianya mengubah cara pandang pengelolaan Kalimantan. Boleh dibilang ini sebagai gagasan cerdas agar ada percepatan transformasi dari sebelumnya dibangun melalui kekuatan natural resources (kekayaan SDA) menjadi Kalimantan berkemajuan yang dibangun dengan soft competency (kemampuan atau keahlian),” kata Mariman Darto saat memberikan keterangan pers, di Kantor PKP2A III LAN Samarinda, Jumat (21/7).

Menurutnya, ada tiga faktor yang dibutuhkan untuk menunjang soft competency menjadi modal memajukan daerah, yakni inovasi, jaringan, dan teknologi.

Akan tetapi yang terpenting inovasi. Melalui karya-karya inovatif masyarakat, diyakini Kalimantan akan menjadi pusat peradaban baru yang tumbuh dan maju sejajar dengan daerah atau kawasan lain yang lebih maju.

Sayangnya, tradisi membangun budaya berinovasi belum terbangun dengan baik. Karenanya kegiatan JIK diharap menjadi media menyuarakan tradisi membangun budaya berinovasi.

“Melalui JIK juga akan mendorong lahirnya semangat kreatifitas, inovasi, dan entrepreneurship di Kalimantan. Pada akhirnya JIK menjadi ajang bertemunya para innovator pelayanan publik untuk saling berbagi, berkolaborasi, dan saling mereplikasi dan mendiseminkasikan ide-ide kreatif da inovatif,” sebutnya.

JIK akan mempresentasikan dan mendokumentasikan inovasi-inovasi terbaik yang dilakukan baik oleh alumni diklat kepemimpinan, maupun oleh aparatur pemerintah lainnya. JIK dirancang untuk menjadi even tahunan pemberian penghargaan Borneo Innovatioan Award, Talk Show Inovasi, dan pameran inovasi pelayanan publik di Kalimantan.

“Semangat JIK diharapkan menjadi instrument kunci perubahan menjadi Kalimantan yang berbeda karena menjadikan inovasi sebagai kunci atas semua permasalahan yang ada. Menjadikan inovasi sebagai aktifitas dan paradigm baru hingga akhirnya mencapai Kalimantan yang terdepan dalam kemajuan dan kesejahteraan masyarakat,” sambungnya.

Selain itu, program ini diharapkan dapat mendorong ketersediaan forum dan even penguatan jejaring kerja inovasi di wilayah Kalimantan yang akan meningkatkan penghargaan publik terhadap inovasi-inovasi yang terus dilakukan alumni diklat kepemimpinan.

Rangkaian JIK 2017 didahului oleh pelaksanaan SINOPADIK (Kompetisi Inovasi Pasca Diklat Kepemimpinan) bagi alumni Diklat PIM Tk III dan IV di wilayah Kalimantan yang telah berjalan sejak Januari 2017 hingga penetapan finalis utama pada saat puncak JIK pada 4 Agustus 2017.(diskominfo kaltim/arf)

PKP2A III LAN Kembali Akan Gelar JIK

Marimar : Tujuan Mulianya Mengubah Cara Pandang Pengelolaan Kalimantan

SAMARINDA – Pusat Kajian Pendidikan dan Pelatihan Aparatur III Lembaga Administrasi Negara (PKP2A III LAN) akan kembali menggelar ajang prestisius Jambore Inovasi Kalimantan (JIK). Ajang berkumpulnya inovator se Kalimantan untuk mempromosikan dan mendiseminasikan hasil alumni diklat di wilayah Kalimantan (JIK 2017) tersebut rencananya diselenggarakan di Provinsi Kalimantan Selatan, 2 – 6 Agustus 2017.

Kepala PKP2A III LAN Samarinda, Mariman Darto menyebut JIK merupakan even tahunan yang dirancang untuk mendesiminasikan berbagai inovasi pelayanan publik sebagai bukti kehadiran pemerintah untuk masyarakat.

Melalui penyajian inovasi administrasi negara dan pelayanan publik yang terbaik, JIK ingin menunjukan bahwa semua unsur ASN di Kalimantan terus berupaya meningkatkan kualitas publik yang semakin prima.

“Tujuan mulianya mengubah cara pandang pengelolaan Kalimantan. Boleh dibilang ini sebagai gagasan cerdas agar ada percepatan transformasi dari sebelumnya dibangun melalui kekuatan natural resources (kekayaan SDA) menjadi Kalimantan berkemajuan yang dibangun dengan soft competency (kemampuan atau keahlian),” kata Mariman Darto saat memberikan keterangan pers, di Kantor PKP2A III LAN Samarinda, Jumat (21/7).

Menurutnya, ada tiga faktor yang dibutuhkan untuk menunjang soft competency menjadi modal memajukan daerah, yakni inovasi, jaringan, dan teknologi.

Akan tetapi yang terpenting inovasi. Melalui karya-karya inovatif masyarakat, diyakini Kalimantan akan menjadi pusat peradaban baru yang tumbuh dan maju sejajar dengan daerah atau kawasan lain yang lebih maju.

Sayangnya, tradisi membangun budaya berinovasi belum terbangun dengan baik. Karenanya kegiatan JIK diharap menjadi media menyuarakan tradisi membangun budaya berinovasi.

“Melalui JIK juga akan mendorong lahirnya semangat kreatifitas, inovasi, dan entrepreneurship di Kalimantan. Pada akhirnya JIK menjadi ajang bertemunya para innovator pelayanan publik untuk saling berbagi, berkolaborasi, dan saling mereplikasi dan mendiseminkasikan ide-ide kreatif da inovatif,” sebutnya.

JIK akan mempresentasikan dan mendokumentasikan inovasi-inovasi terbaik yang dilakukan baik oleh alumni diklat kepemimpinan, maupun oleh aparatur pemerintah lainnya. JIK dirancang untuk menjadi even tahunan pemberian penghargaan Borneo Innovatioan Award, Talk Show Inovasi, dan pameran inovasi pelayanan publik di Kalimantan.

“Semangat JIK diharapkan menjadi instrument kunci perubahan menjadi Kalimantan yang berbeda karena menjadikan inovasi sebagai kunci atas semua permasalahan yang ada. Menjadikan inovasi sebagai aktifitas dan paradigm baru hingga akhirnya mencapai Kalimantan yang terdepan dalam kemajuan dan kesejahteraan masyarakat,” sambungnya.

Selain itu, program ini diharapkan dapat mendorong ketersediaan forum dan even penguatan jejaring kerja inovasi di wilayah Kalimantan yang akan meningkatkan penghargaan publik terhadap inovasi-inovasi yang terus dilakukan alumni diklat kepemimpinan.

Rangkaian JIK 2017 didahului oleh pelaksanaan SINOPADIK (Kompetisi Inovasi Pasca Diklat Kepemimpinan) bagi alumni Diklat PIM Tk III dan IV di wilayah Kalimantan yang telah berjalan sejak Januari 2017 hingga penetapan finalis utama pada saat puncak JIK pada 4 Agustus 2017.(diskominfo kaltim/arf)

JIK Ajang Inovasi Pelayanan Publik

SAMARINDA – Tahun ini Pusat Kajian Pendidikan dan Pelatihan Aparatur III Lembaga Administrasi Negara (PKP2A III LAN) Kaltim kembali menggelar even regional Kalimantan.
Kegitan yang diikuti para alumni Diklatpim tingkat III dan IV yang digelar setiap tahun ini berupa Jambore Inovasi Kalimantan (JIK) untuk lima provinsi di negeri Borneo.
Menurut Kepala PKP2A III LAN Kaltim Mariman Darto, JIK merupakan even tahunan untuk mendiseminasikan berbagai inovasi pelayanan publik.
“JIK merupakan ajang para inovator pelayanan publik untuk berbagi, berkolaborasi dan merefleksikan ide-ide kreatif dan inovasi,” katanya saat press conference di Gedung PKP2A III LAN Kaltim, Jumat (21/7).
Selain itu, JIK dirancang menjadi event tahunan pemberian penghargaan Borneo Innovation Awards, talk show inovasi dan pameran inovasi pelayanan publik di Kaltimantan.
Dia menjelaskan JIK tahun ini didahului pelaksanaan kompetensi inovasi pasca Diklat Kepemimpinan (Sinopadik) sejak Januari berakhir hingga penetapan finalis pada 4 Agustus 2017.
Diharapkan melalui JIK mampu mendorong lahirnya semangat kreativitas, inovatif dan entrepreneurship di Kalimantan.
Mariman mengungkapkan sejak awal ada sekitar 49 inovasi yang masuk dalam nominator dan diambil 15 pemenang atau tiga pemenang masing-masing provinsi di Kalimantan.
“Pada akhirnya dipilih lima inovasi terbaik untuk memperoleh anugerah Borneo Innovation Awards yang diserahkan Menpan RB Asman Abnur pada 4 Agustus mendatang,” jelasnya.
Dia menyebutkan peserta JIK di Kalimantan Selatan diperkirakan mencapai 375 orang terdiri para gubernur dan bupati/walikota se-Kalimantan, mentor dan alumni Diklatpim III dan IV, pimpinan dan pejabat struktural dari BPSDM dan BKD, masyarakat, korporasi dan media.
JIK 2017 dipusatkan di Lapangan Dr Murjani Banjarbaru Kalsel dirangkai Kalsel Expo 2017 diisi 15 stand booth finalis Sinopadik dan 150 stand lainnya. (yans/sul/humasprov)

Memimpin Perubahan: Dari Pendekatan Formal ke Informal

“Saya memegang teguh prinsip Jenderal Sudirman bahwa setiap pemimpin harus berada di tengah-tengah rakyatnya. Saya berharap, seluruh peserta Diklat Pim II ini bisa menjiwai spirit yang dibangun oleh Pak Dirman tersebut.”  Demikian Paman Birin, panggilan akrab Gubernur Kalimantan Selatan, dalam sambutannya pada pembukaan Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan II (Diklat Pim II), di Aula Idham Khalid, Banjarbaru, Senin lalu (10/7/2017).Menarik. Apa yang disampaikan Paman Birin tersebut merupakan salah satu ciri pemimpin adaptif yang didambakan rakyat. Rakyat bisa menyampaikan harapannya, dan pemimpin bisa mendengarnya secara langsung. Aparatur Sipil Negara (ASN) mampu menjembatani  dan menempatkannya sebagai prioritas program dan kegiatan yang perlu dilaksanakan.Terinspirasi dari semangat Paman Birin tersebut, dalam kesempatan menyampaikan overview Kebijakan Diklat Pim II Angkatan XLIII kelas G, sebagai materi wajib sebelum pembelajaran di kelas, saya menyampaikan materi yang menggugah semangat mereka untuk berubah dan bersedia melakukan perubahan. Menggunakan pendekatan baru dalam melayani masyarakat yang lebih update terhadap perubahan lingkungan strategis. Karena perubahan adalah sebuah keniscayaan. Perubahan adalah cara pandang baru birokrasi pemerintahan ke depan.Dalam sesi diskusi, ada dua catatan menarik dari peserta yang perlu saya tanggapi.

Catatan pertama disampaikan oleh peserta dari sebuah kabupaten pemekaran di Kalimantan Selatan. Beliau menyampaikan kegelisahannya yang menganggap bahwa perubahan di daerahnya sangat sulit dilakukan.

Padahal, dalam Diklat ini, setiap peserta harus menyusun proyek perubahan berupa inovasi baru untuk ditawarkan di daerahnya.

“Apa yang bapak katakan tentang perubahan itu sulit dilakukan. Mustahil dilakukan, kecuali pimpinan daerah menyadari dan merasa memerlukan perubahan itu sendiri. Karena itu penjelasan bapak yang menarik ini perlu juga disampaikan kepada pimpinan daerah agar tahu tentang esensi perubahan: apa, kenapa harus berubah, apa manfaat perubahan, dan lain sebagainya. Kalau kita yang harus berubah sulit sebelum pimpinan daerah itu memahami perubahan,” tegasnya.

Catatan kedua berasal  dari peserta di salah satu kabupaten di Sulawesi Tengah. Dia mengungkapkan, kondisi kemiskinan yang dialami masyarakatnya membuat masyarakat memiliki karakter peminta-minta.

Padahal, proyek perubahannya terkait dengan perubahan budaya masyarakat agar mereka bisa terbebas dari ketergantungan bantuan orang lain. Ia menduga, salah satu kendala yang paling berat dalam melakukan perubahan adalah berhadapan dengan masyarakat yang seperti ini.

“Persepsi masyarakat tentang pemerintah, tentang pejabat adalah sebagai sinterklas. Karakter meminta-minta apalagi menjelang lebaran sudah lama terjadi di daerah saya. Mereka tidak mengenal tempat dan waktu”.

Karakter inilah yang mengganggu perubahan yang akan kita lakukan. Bagaimana bisa bekerja kalau setiap hari kedatangan masyarakat yang meminta-minta ke instansi kita. Terlebih lagi mereka yang mengaku-ngaku LSM dan wartawan yang mengancam untuk melaporkan ke penegak hukum,” jelasnya.

Inilah gambaran sebagian pejabat kita di daerah, yang bisa kita lihat dari cara pandangnya terhadap perubahan. Resisten terhadap perubahan (Garry Yukl, 2010), mengeluh sebelum melakukan perubahan, bekerja selalu dengan asumsi, bekerja dengan logical thinking, cenderung formalitas atau menggunakan kekuatan kewenangan atau kekuasaan untuk melayani, dan lebih banyak menggunakan bahasa perintah.

Cara pandang birokrasi seperti ini sering kita sebut sebagai cara pandang formal authority. Cara pandang yang sangat sempit, hanya bicara tentang taktikal manajerial. Seringkali masalah yang ada di masyarakat didekati cara pandang taktikal-manajerial, sehingga perspektf bekerja yang penting bisa menghasilkan output, dan setelah itu tidak perlu melakukan apa-apa.

Padahal tugas eselon 2, sebagai kepemimpinan strategis, lebih didorong ke arah pencapaian nilai tambah (outcomes) dan manfaat (benefits/impact) apa yang timbul akibat pelaksanaan sebuah program dan kegiatan.

Inilah pernyataan kita setelah sahabat, teman, senior, atau kerabat kita usai pelantikan: semoga amanah. Dalam perspektif saya, amanah adalah kemampuan seseorang menjalankan tugas sesuai sumpah jabatan yang telah diucapkannya, sekaligus berhasil melakukan pencapaian target nilai tambah dan manfaat yang ditargetkan pimpinan yang lebih tinggi.

Bekerja di tengah perubahan lingkungan strategis yang demikian cepat, di mana setiap pimpinan dituntut untuk mampu memproduksi gagasan-gagasan baru (ability to create new think) yang solutif terhadap problematika yang dihadapi masyarakat, yang kemudian mampu melaksanakan gagasan barunya itu untuk meningkatkan nilai tambah dan manfaat (ability to apply new think).

Seorang pemimpin adaptif adalah sosok cerdas. Bukan karena IQ-nya, tapi karena kemampuannya untuk mendengarkan secara seksama. Membuat tindakan melalui kemampuan beradaptasi terhadap realitas yang berubah. Sosok yang pandai memanfaatkan waktu dan tidak mau menunda pencapaian target nilai tambah dan manfaat sebagai acuan dalam kinerja kepemimpinannya. Sumber daya yang terbatas tidak masalah baginya. Yang ada dalam benaknya adalah bagaimana memanfaatkan yang ada untuk mendorong kinerja terbaik untuk organisasi.

Kepemimpinan birokrasi yang adaptif menjadikan manusia sebagai subyek pembangunan. Masyarakat menjadi subyek utama. Perencanaan program dan kegiatan menjadi gambaran nyata dari deretan tuntutan dan kebutuhan warga bangsa.

Karena itu wajar jika ada daerah yang kemudian melakukan pameran anggaran sebagaimana Bupati Bojonegoro, Batang, Banyuwangi, dan lain sebagainya. Selalu mengajak warga untuk mengatasi bahkan meminta masyarakat untuk terlibat dalam evaluasi dan pelaporan sebuah kegiatan.

Kemampuan pemimpin adaptif sampai tahap ini tidak datang tiba-tiba. Tapi berangkat dari transformasi diri soal cara pandang baru tentang masa depan. Kepemimpinan adaptif adalah kepemimpinan masa depan. Kepemimpinan yang lebih menonjolkan creative thinking.

Kepemimpinan yang menjadikan inovasi sebagai urat nadi organisasi. Kepemimpinan yang mengedepankan kolaborasi untuk mencapai tujuan organisasi. Kemampuan membangun networking dan penguasaan teknologi (digital mastery) dalam mencapai visi organisasi.

Kepemimpinan yang adaptif selalu menggunakan pendekatan informal authority bukan formal authority. Bahasa komunikasinya lebih cair dan tidak mengesankan bahwa kita adalah pejabat yang harus selalu dihormati, harus berwibawa, harus ditakuti oleh rakyat, dan segala atribut kekuasaan lainnya.

Kedekatan hubungan antara rakyat dan pemimpinnya didesain untuk saling membutuhkan, bukan vis a vis. Bukan priyayi dan kawulo alit. Bukan juragan dan pembantunya. Bukan atasan dan bawahannya.

Kepemimpinan adaptif akan selalu hadir di tengah-tengah rakyatnya. Sebagaimana kepemimpinan Jenderal Sudirman yang tidak mau jauh dari rakyatnya. Sudirman selalu berada di tengah-tengah pasukan dan rakyatnya, agar bisa lebih banyak mendengarkan rakyatnya. Semua itu dilakukannya untuk sebuah cita-cita agar semua merasa memiliki Indonesia, semua merasa perlu memperjuangkan keindonesiaan kita.

Karena semua merasa memilikinya, maka apapun tindakan dari dalam dan dari luar yang mengancam martabat dan kehormatan bangsanya, serentak rakyat dan semua unsur dari bangsa dan negara ini akan memberikan perlawanan secara bersama.

Prinsip penting Pak Dirman tersebut seharusnya menginspirasi para pemimpin. Baik pada level menteri, kepala lembaga/badan, gubernur, bupati/walikota, maupun pimpinan di jabatan ASN, mulai dari JPT, pejabat administrator, pengawas dan lain sebagainya.

Sebuah organisasi dengan kepemimpinan adaptif mampu memastikan setiap elemen organisasi merasa memiliki organisasinya sehingga semuanya bertanggung jawab dan ikut merawat keberadaannya. Pemimpinnya visioner, membumi, dan tidak mengabaikan tuntutan masyarakat. Visinya dibangun dari kemampuannya menerjemahkan harapan, mimpi, dan tuntutan publik serta tidak dibangun dari keinginan atau vested pribadinya.

Karena itu jawaban atas dua catatan peserta Diklat Pim 2 tadi, selalu tertumpu pada pola pikir dan kemampuan membangun kultur perubahan. Yang dapat digambarkan sebagai berikut :

Pertama, memimpin adalah membuka hati kita akan pentingnya kesadaran dan kemauan untuk berubah. Kita harus menyadari bahwa mentor atau atasan langsung yang tidak mau berubah adalah tantangan kepemimpinan yang adaptif.

Kedua, kepemimpinan pada level strategis adalah soal bagaimana kemampuan kita membangun konsep inovasi yang paling dibutuhkan masyarakat, dan akan membantu mempermudah mengkomunikasikannya kepada atasan langsung kita.

Ketiga, kemampuan komunikasi kita ke atasan langsung, bisa ke menteri atau pimpinan lembaga/badan, gubernur, dan bupati/walikota harus terasah. Seringkali masalahnya bukan pada mereka. Namun ada pada diri kita. Mereka bukan tidak mau berubah, namun mereka membutuhkan kita untuk menemukan solusi atas persoalan yang dihadapi. Inilah esensinya. Keberadaan kita adalah untuk menyelesaikan masalah, bukan bagian dari masalah itu sendiri.

Karena itu, keempat, kemampuan mengatasi belenggu diri, seperti tidak mau berubah, selalu resisten terhadap perubahan, status quo, dan lain-lain perlu lebih baik. Jangan pernah membayangkan dan meminta bahkan memaksa orang lain untuk berubah.

Maka mulailah perubahan itu dari diri kita. Mulailah dari hal-hal kecil agar terjadi habituasi dalam diri kita agar kalau ada masalah yang lebih besar kita bisa belajar mengatasinya dengan baik. Perubahan harus dimulai dari sekarang dan tidak bisa ditunda. Agar kesempatan yang Allah berikan pada kita sebagai seorang pemimpin tidak sia-sia.

Kita semua menyadari ketika kita mau menerima amanah sebagai seorang pemimpin, maka berbagai tantangan, tekanan, dan persoalan dari segala penjuru akan datang menghampiri kita. Tantangan adalah keniscayaan. Kesadaran inilah yang diharapkan ada di setiap diri seorang pemimpin.

Sebuah kesadaran dan kemauan menerima tantangan, tentu dengan bekal sabar dan ikhlas, akan menjadikan pemimpin menemukan jalan, sekalipun jalan itu tak terduga. Setiap kita akan mendapatkan pengalaman yang menjadi bekal bagi bangunan karakter pemimpin yang tangguh. Pemimpin pembelajar yang hebat.

Kuatnya kesalehan spiritual akan mengokohkan posisi kita, apalagi ditunjang dengan kesalehan sosial, kuatnya komunikasi dan pendekatan sosial, yang diwarnai dengan sikap dan perilaku baik seorang pemimpin terhadap atasan, bawahan, kolega,  dan rakyat sebagai konstituen.

Sepakatlah kita dengan sumber masalah. Masalah bersumber bukan dari orang lain, namun berasal dari diri saya, anda, dan kita sekalian. Maka marilah berubah untuk memahami tanda-tanda perubahan zaman. Agar kesejahteraan dan keadilan bisa juga dirasakan oleh mereka yang tidak berkemampuan. Karena perubahan itu adalah saya, anda, dan kita yang hari ini diberikan amanah untuk memimpin. Wallahu a’lamu bi shawab.

*) Mariman Darto
sumber : http://www.birokratmenulis.org/memimpin-perubahan-dari-pendekatan-formal-ke-informal/

Waspada Penipuan Yang Mengatasnamakan LAN Ri

Waspada!
Telah beredar surat palsu kegiatan yang mengatasnamakan LAN RI. Surat tersebut seolah asli, sehingga sekitas lima orang telah tertipu. Jika dicermati, surat palsu mengatasnamakan LAN RI tersebut sangat berbeda dengan surat yang biasa diedarkan oleh LAN RI.

Perlu dicermati! Surat resmi kegiatan dari LAN RI dilengkapi dengan kop surat belogo, stempel dan tanda tangan pejabat LAN RI. Jika surat dari LAN RI Pusat, maka surat tersebut sudah memiliki barcode untuk validasi keabsahan surat.
Sementara kontak email yang dipergunakan dalam surat resmi kegiatan LAN RI selalu memakai domain: …@lan.go.id; …..@samarinda.lan.go.id;  ….@bandung.lan.go.id; …….@makassar.lan.go.id; ……@aceh.lan.go.id.

Semua bentuk kompensasi kegiatan resmi LAN RI yang diminta kepada peserta mengikuti prosedur PNBP, dimana kompensasi tersebut disetorkan ke rekening atas nama Bendahara Penerimaan pada Satker Penyelenggara.

Waspada Penipuan! Jika Anda mendapatkan surat mengatasnamakan LAN RI atau satker LAN, maka segera konfirimasi ke kantor LAN terdekat dari area Anda.

In Memoriam Almarhum Agus Dwiyanto, Kepala LAN RI Periode 2012-2015

Mengenang Pak Agus, sebagai Peletak Dasar Reformasi Birokrasi Kontekstual

Indonesia hari ini kehilangan sosok peletak dasar reformasi kontekstual di Indonesia, Prof. Dr. Agus Dwiyanto, MPA. Jum’at, 10 Maret 2017, pukul 08.33 WIB, Pak Agus, penggilan akrab beliau, Alloh SWT telah memanggilnya untuk selamanya. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiu’un. Semoga husnul khotimah.

Saya orang yang paling bersyukur bisa berkenalan dan dekat dengan beliau, bukan karena saya sebagai anak buah tetapi lebih sebagai seorang murid yang diberikan keluangan kesempatan bahkan tanpa sekat untuk belajar tentang kehidupan bersama beliau dan keluarga.

Sosok Pak Agus adalah sosok unik dan beda. Bahkan sebagian orang menganggap aneh karena selalu berada diluar pakem dalam kesehariannya, khususnya saat beliau sebagai pejabat publik sekelas kepala Lembaga Administrasi Negara RI.

Aneh karena kebiasaan sebagai seorang akademisi yang bebas, logis, ilmiah, selalu bicara dengan data, kritis – analitis dan cenderung blak-blakan tanpa tedeng aling-aling. Bahkan kesederhanaannya melampaui jabatan yang disandangnya serta yang membanggakan adalah integritasnya yang nyaris sempurna. Kesemuanya itu beliau bawa ke dalam rumah Perubahan LAN RI saat beliau memimpin selama 3 tahun dari 2012-2015.

Tak pelak proses perubahan yang beliau bawa ke LAN tersebut menimbulkan pro dan kontra di internal LAN. Ada yang resisten ada pula yang mendukung dan merasa perlu dan penting bahwa perubahan harus segera dilakukan karena konteks lingkungan strategis yang berkembang diluar kian cepat.

Resistensi dalam sebuah perubahan adalah keniscayaan, demikian Garry Yukl tokoh pemikir Perilaku Organisasi. Menyadari hal ini Pak Agus tidak mundur ke belakang tetapi terus bergerak dan bersemangat dan tidak pernah berhenti melakukan perubahan.

Untuk LAN beliau pernah bercerita dengan saya saat kami mengundangnya dalam sebuah acara di PKP2A III LAN Samarinda. “Dari 3 perubahan yang saya inginkan terkait produk, kultur dan struktur, hanya struktur yang telah berhasil bahkan telah menjadi contoh bagi kementerian / lembaga dalam proses restrukturisasi kelembagaan sehingga menjadi lembaga pemerintah non kementerian yang sangat efisien. Betapa tidak, Pak Agus Dwiyanto berhasil menggabungkan dua fungsi diklat (pembinaan dan penyelenggaraan) yang selama ini tidak terkoordinasi menjadi satu kedeputian diklat aparatur. Demikian dengan kajian dan menggantikannya dengan fungsi inovasi karena tuntutan perubahan eksternal.

Dari sisi produk, hanya diklat aparatur yang berhasil melakukan transformasi dan membuka sejarah baru peran LAN dalam mendukung pengembangan kompetensi ASN untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan prioritas pembangunan nasional dan daerah. Berbagai inovasi yang lahir dari rahim Diklat Aparatur telah memberikan nilai tambah dan dampak bagi kualitas pelayanan publik di tingkat kementerian/lembaga dan pemerintah daerah.

Demikian juga dengan produk-produk inovasi yang didorong dan dikoordinasikan oleh kedeputian inovasi melalui kedeputian inovasi juga telah membuka mata bangsa ini bahwa inovasi mampu mendorong kualitas pelayanan dan meningkatkan trust publik terhadap pemerintah. Ya. Ini lantaran inovasi menjadi pendorong utama kemajuan sebuah negeri yang menurut World Bank (1995) kontribusinya mencapai 45% bagi kemajuan sebuah negara. Dalam hal inovasi LAN tidak hanya terdepan dalam merubah cara pandang baru terhadap peradaban dan kemajuan sebuah negeri tetapi menjadikan bangsa ini sadar bahwa kita hari ini kalah bersaing karena minimnya kreatifitas dan inovasi khususnya bagi aparatur sipil negara.

Yang masih tertinggal adalah produk kajian kebijakan. Banyak persoalan terkait dengan kajian ini. Selain kultur penelitiannyang belum terbangun, kemampuan para peneliti yang belum sungguh-sungguh melakukan fungsinya sebagai peneliti. “Penguasaan metodologi penelitian, jam terbang melakukan penelitian, dukungan pimpinan akan mendorong peneliti menjadi handal” tegas pak agus.

Dan yang perlu kesungguhan dilakukan oleh pemimpin selanjutnya setelah saya adalah melakukan transformasi budaya organisasi. Mudah dikatakan tetapi membutuhkan upaya sungguh-sungguh tidak hanya dari pimpinan tetapi juga semua cimitas LAN.

Membangun budaya kerja yang baik membutuhkan keteladanan pimpinan. Dan pak agus adalah contoh konkrit bagaimana beliau menjadi role model sebagai seorang pemimpin yang tidak “mabok” kekuasaan.

Jabatan dan prestasi akademiknya memungkinkan beliau hidup dalam kultur umumnya pejabat. Tetapi itu beliau tanggalkan dan benamkan di dalam dasar samudera yang paling dalam.

Kenapa? “Bagi saya jabatan adalah amanah” katanya. Amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Sang Khalik. Amanah itu berat karena saya harus bisa membuktikan pada Alloh SWT bahwa jabatan yang saya miliki bernilai dan bermanfaat bagi warga LAN, masyarakat dan bangsa serta negara ini”, demikian Pak Agus yang selalu bersemangat menyampaikan sambutan di acara pembukaan PIM II XLI di PKP2A III LAN samarinda tahun 2015 silam. Mungkin bagi sebagian orang hal demikian terasa aneh. Tapi itulah Pak Agus dengan segala keunikannya mampu menorehkan spirit perubahan yang kontekstual bukan perubahan formal sebagaimana tuntutan kebijakan reformasi yang selama ini dikritiknya. Ini termasuk hal2 besar yang beliau lakukan di lan. Namun banyak hal kecil yang beliau rubah terutama pada level sikap dan prilaku yang menjadikan sosok aparatur menjadi sangat dekat dengan rakyatnya, menjadikan bawahan lebih dekat dengan atasannya, menjadikan atasannya sebagai seorang coach sekaligus mentor bawahannya.

Contoh kecil, yang beliau berikan adalah dilarang keras menyebut nama beliau dengan embel-embel profesor atau pun kepala LAN. “Pemimpin itu pelayanan masyarakat”, katanya. Kalau orang menyebut saya dengan menambahkan kata kepala selain terkesan birokrat yang penguasa yang bukan sosok pelayanan masyarakat. Karena itu saya hanya boleh disebut sebagai pak Agus. Pun juga dengan Profesor. “Harus dibedakan antara saya sebagai kepala LAN dan saya sebagai pendidik yang selama ini dibesarkan oleh UGM. Saya memang dulu Guru Besar FISIP UGM, namun sejak menjabat di LAN gelar akademik saya sudah dicabut sementara. Jadi sebut saya pak Agus saja.

Pak Agus adalah sosok paripurna, yang fokus terkait dengan amanah yang diembannya. Tidak mudah tergiur dengan apapun. Menjadi Profesor di UGM lebih baik jika dibandingkan memimpin Think Thank sekelas LAN dari sisi atau sudut pandang apapun. Namun tuntutan dari hati nurani, akhirnya beliau lebih memilih menjadi kepala LAN karena kemaslahatannya dimasa depan bagi perbaikan sebuah negeri dari sudut pandang administrasi negara.

Saya yakin, beliau menjadikan LAN sebagai laboratorium yang menguji tesis beliau bahwa perubahan kontekstual menjadi pilihan daripada perubahan tekstual dan cenderung formalistis. Dan beliau berhasil melakukan itu.

Banyak hal yang telah beliau berikan pada saya khususnya, dan umumnya pada LAN. Kita semuanya termasuk bangsa ini berhutang budi padanya.

Hanya doa yang mengiringi perjalanan menggapai Surga Alloh SWT yang telah disiapkan untuk beliau. Tentu karena amal jariah dan ilmu yang bermanfaat untuk saya dan kita yang akan terus mengalir mengantarkannya keharibaaan Alloh SWT.

Selamat jalan Prof. Selamat jalan reformer sejati. Negeri ini berhutang budi padamu. Semoga husnul khotimah.

Makassar, 10 Maret 2017

Dari muridmu,

Mariman Darto

Diskusi Roadmap Inovasi PKP2A III LAN Tahun 2017-2020

Menindaklanjuti komitmen Rapat Kerja PKP2A III LAN yang dilaksanakan pada Januari 2017, seluruh pegawai PKP2A III LAN mengadakan diskusi Roadmap Inovasi 2017-2020. Sebanyak 12 konsep inovasi telah digagas kemudian dipresentasikan setiap kelompok yang telah ditunjuk pada Selasa (14/2). Salah satu gagasan inovasi tersebut adalah GO-Spirit yang bertujuan untuk menumbuhkan motibasi kerja yang berdampak positif bagi kinerja organisasi. Aksi dari inovasi tersebut diantaranya adalah Gathering For Refreshing, yaitu melakukan kegiatan bersama seluruh pegawai yang tidak berkaitan dengan pekerjaan untuk mempererat komunikasi, kebersamaan,meningkatkan rasa percaya terhadap rekan kerja dan mengikis ego sektoral antar-bidang dan antar-rekan. Masing-masing gagasan inovasi tersebut akan segera diimplementasikan dan akan dilaporkan setiap minggu. Menariknya, yang terlibat dalam konsep dan implementasi inovasi tersebut adalah seluruh pegawai, sementara pimpinan struktural hanya memberi dukungan saja.