Selamat datang di website Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur III Lembaga Administrasi Negara    Ā 

Inovasi Naik Kelas di Samarinda

Dibuat : 29 Dec 2016
Usai sudah gelaran laboratorium inovasi di kota samarinda, dengan capaian 341 inovasi yang dihasilkan seluruh SKPD dari level Kelurahan, Kecamatan, Dinas, Badan, UPTD, UPTB, serta RSUD, dan juga PDAM.

Lebih dan kurangnya penyelenggaraan tentu akan menjadi evaluasi pelaksanaan inovasi di masa mendatang. Namun, kemudian ada pertanyaan yang muncul yaitu “what next?” apakah inovasi hanya akan menjadi kegiatan sekali dilaksanakan langsung hilang tak meninggalkan bekas lagi? Tentu bukan itu maksud dan tujuan dibuatnya laboratorium inovasi di Kota Samarinda.

Semua ASN di lingkungan Kota Samarinda tentu suda paham, bahwa ternyata menghasilkan sebuah inovasi sangatlah mudah. Teknik menggali data dengan pendekatan masalah dan non masalah telah pun dikuasai dengan baik. Pendekatan yang digunakan untuk mengawal ide menjadi sebuah implementasi inovasi secara nyata juga sudah pernah dijalankan. Sehingga secara teori dan praktik para ASN ini telah terlatih by design dalam konsep 5D Laboratorium Inovasi.

Pada Talkshow di acara puncak Samarinda Innovation Fiesta/ Pesta Inovasi Samarinda telah di tancapkan sebuah tonggak bersejarah, bahwa langkah selanjutnya adalah menggalakkan inovasi sebagai gaya hidup. Secara makna, menjadikan inovasi sebagai gaya hidup tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bukan kerja satu atau dua tahun saja, namun kolaborasi semua pihak di Kota Samarinda yang bisa jadi akan berlangsung bertahun-tahun setelah ini.

Sebagai gaya hidup, inovasi akan menjadi aliran darah dari semua pergerakan komponen kota dalam membangun sebuah kota yang diidamkan, yang tercermin dalam Visi dan Misi Kota Samarinda. Inovasi harus mempunyai arah yang jelas, menjawab tantangan secara tegas, konsep dan teknik yang mantab, dan komitmen semua pihak secara kuat, disiplin, dan berkelanjutan.

Arah Inovasi di Tahun Depan
Penerapan konsep inovasi harus dimulai lagi dari penggalian ide baru yang betul-betul dibutuhkan memecahkan masalah Kota Samarinda. Tidak seperti awal laboratorium inovasi di gulirkan, kedepan inovasi yang tercipta akan fokus pada permasalahan prioritas dan menjadi solusi atas hajat hidup warga Kota Samarinda. Meskipun ada inovasi prioritas yang dikeroyok bersama oleh seluruh SKPD di lingkungan Pemerintah Kota Samarinda, inovasi lingkup SKPD untuk level individu ASN harus segera dibuat tahun depan.

Inovasi di tahun ini masih mentolerir memasukkan keterbatasan anggaran SKPD sebagai penghambat implementasi ide inovasi, namun tahun depan tidak boleh lagi. Ide inovasi yang akan dikonkritkan kedalam design seharusnya mengeliminir anggaran rutin sebagai penopang inovasi yang akan dilahirkan. Meski tidak menafikkan anggaran untuk membiayai sebuah inovasi, akan tetapi semakin kecil penggunaan anggaran murni SKPD akan semakin baik. Inovasi di masa mendatang harus cermat menghitung pembiayaan dan penggunaan sumber daya yang ada. Sehingga kolaborasi menjadi kata kunci yang sangat penting dalam menjalankan sebuah inovasi.

Ada lima isu strategis pengembangan dari nilai-nilai Revolusi Mental, yang setidaknya bisa menjadi basis lahirnya berbagai ide inovasi di tahun depan yaitu dalam kerangka: Gerakan Indonesia Melayani, Gerakan Indonesia Bersih, Gerakan Indonesia Tertib, Gerakan Indonesia Mandiri, dan Gerakan Indonesia Bersatu. Penjabaran dari kelima nilai-nilai tersebut bisa banyak sekali melahirkan ide-ide inovasi hebat yang kemudian diarahkan geraknya untuk menjawab permasalahan Kota Samarinda yang jawabannya tentu sampai saat ini masih relevan dengan nilai-nilai tersebut.

Konsep 5 D Plus
Konsep 5 D tetap akan menjadi acuan penerapan laboratorium inovasi di Kota Samarinda tahun depan. Tentu saja penerapannya dengan penambahan/ penggabungan konsep lainnya yang mendorong semakin cepatnya inovasi “berkembang biak”. Sebagai konsep dasar dalam melakukan inovasi organisasi, tentu ada beberapa hal yang kemudian menjadi usang dan perlu pembaharuan lagi dari konsep 5 D. Inovasi yang diharapkan hadir bukan lagi acak tak menentu arah, tapi merupakan bagian-bagian puzzle yang harusnya gambar besarnya adalah pencapaian Samarinda sebagai kota yang saling terkoneksi dengan IT (smart city), namun tetap nyaman ditinggali (livable city).

Dalam konteks praktik pelayanan publik dan hubungan dengan masyarakat yang dilayani, maka pendekatan Co-Production yang dikembangkan oleh Tony Bovaird dan Elke Loefller (2014) bisa digunakan. Sebagai sebuah konsep yang berbasis pada komunitas masyarakat sebagai penopangnya, Co-Production menawarkan lima langkah lanjutan yang melengkapi konsep 5 D Laboratorium Inovasi.

Langkah pertama adalah melakukan pemetaan terhadap permasalahan (Map it). Jika kita masukkan keseluruhan konsep 5 D kedalam langkah pertama Co-Production ini, maka kita sudah mendapatkan seluruh permasalahan kota samarinda plus dengan solusi inovasinya hasil dari Laboratorium Inovasi 2016. Sehinga kita sudah mendapatkan data dan langkah yang lengkap untuk masuk kedalam fase kedua Co-Production, yaitu fokus pada penyelesaian masalah (Focus it).

Tahun ini inovasi yang dihasilkan harus berfokus pada penyelesaian permasalahan yang memiliki dampak terbesar bagi kehidupan warga kota. Fokus memberikan arah agar inovasi yang dihasilkan lebih spesifik, terukur, dapat dicapai dalam waktu tertentu, dan mudah memobilisasi  serta mengelola sumber daya penghasil inovasi. Langkah selanjutnya adalah membuat semua orang/ warga kota terlibat aktif berkontribusi dalam mengerjakan inovasi tersebut (People it).

Mengapa semua orang harus terlibat? Tentu saja Karena permasalahan kota adalah permasalahan semua pihak. Bukan hanya pemerintah saja, keterlibatan semua pihak harus bisa dimonitor pergerakannya. Oleh karenanya pendekatan komunitas menjadi penting disini, ketika kita berbicara mengenai keterlibatan masyarakat. Kantong-kantong massa yang berbasis pada kegotong-royongan ataupun semangat untuk secara sukarela menjadi voluntir inovasi harus diaktifkan. Tanpa kekuatan masyarakat, maka inovasi menjadi kurang bermakna. Karena disamping masyarakat nantinya yang akan mengerjakan, sekaligus masyarakat kota lah yang akan mewartakannya secara luas. Zaman sosial media sekarang ini memungkinkan masyarakat mampu menggulirkan isu kota untuk kemudian dicarikan solusinya dalam karya nyata inovasi. Masyarakat harus membicarakan/ mewacanakan/ mendiskusikan secara terus menerus dalam ruang-ruang publik melalui kekuatan sosial media.

Langkah keempat  dari konsep Co-Production inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan merubah perilaku sosial masyarakat melalui intervensi tertentu dalam rangka melahirkan inovasi tertentu, atau dikenal dengan konsep memasarkan inovasi (Market it). Ketika inovasi sudah menjadi buah bibir di masyarakat kota, sudah jelas peran masing-masing pihak, maka gaya hidup masyarakat untuk selalu berpikir inovatif tercapai. “Kamu adalah apa yang kamu bicarakan”, kira-kira seperti itu. Ketika topik pembicaraan di masyarakat berkisar inovasi dan inovasi, maka tak ayal lagi inovasi sebagai gaya hidup menjadi konkrit. Masyarakat tidak lagi hanya menghujat, mengkritisi, mengomentari apa yang dilakukan pemerintah kota, namun juga masuk (involve) menjadi problem solver permasalahan kota. Ada ruang-ruang yang terbuka dan dibuka oleh pemerintah daerah untuk masyarakat bisa ikut berinovasi dari hulu sampai kehilir melalui konsep 5D Laboratorium Inovasi dan juga konsep Co-Production.

Sehingga langkah kelima inilah yang menjadi langkah pamungkas dalam menjadikan inovasi naik kelas di Kota Samarinda, yaitu menumbuhkan inovasi (Grow it).  Strategi menumbukan inovasi tak lain dan tak bukan adalah dengan menggunakan otoritas legal formal melalui pemerintah daerah dan juga DPRD. Payung hukum, pendanaan, perencanaan, hingga implementasi, dan evaluasi terintegrasi dan terkoordinasi dengan baik melalui lembaga-lembaga ini.

Pada tahun-tahun mendatang, semua kegiatan berbasis konsep 5 D dan Co-Production akan menjadi dasar setiap komunitas masyarakat dalam melahirkan setiap inovasinya. Jika pemerintah kota mencari pendekatan uang mengikuti kegiatan (money follow function), maka kegiatan yang nyata-nyata inovatif, menjadi solusi masalah kota, serta dikelola efektif dan efisien lah yang akan mendapat pendanaan dari pemerintah kota. Bentuk kolaborasi inilah yang telah diterapkan dinegara-negara eropa yang sampai dengan saat ini juga mengalami kesulitasn finansial.

Anggaran dari tahun ke tahun akan terus menurun, baik by design maupun by default. Sehingga semua siklus penyelenggaraan pemerintahan kota memerlukan inovasi sebagai jawaban. Pemerintah kota yang terbatas sumber daya nya, mendorong masyarakat kota ikut andil di dalamnya, tidak hanya sebatas mengikuti musrenbang (input) saja, tetapi juga termasuk didalam proses implementasi kegiatan maupun evaluasinya.

Sekali lagi ciri inovasi yang naik kelas di Kota Samarinda, adalah bergairahnya semua kegiatan baik di sektor publik, privat, maupun ditengah-tengah masyarakat. Karena dengan begitu banyak nya kegiatan kreatif dan inovatif akan meningkatkan arus kegiatan ekonomi kota dan menggeser struktur anggaran yang sebelumnya lebih ditopang oleh sumber daya alam.


Penulis: Fani Heru Wismono(Peneliti PKP2A III LAN)

Opini

Pembukaan Diklat Pim IV Angkatan XIV di Kota Palangka Raya

Diklat Kepemimpinan merupakan salah satu kesempatan Aparatur Sipil Negara untuk melakukan inovasi yang menjadi jalan perubahan kinerja instansi ke arah yang lebih baik. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala PKP2A III LAN, Mariman Darto, saat memberikan sam ...Selanjutnya

Perbaikan Sungai Karang Mumus Bukan Sekedar Wacana

Setelah melakukan sejumlah koordinasi dengan instansi terkait serta menguatkan komitmen Pemimpin Daerah dalam perbaikan Sungai Karang Mumus, Tim Olah Bebaya PKP2A III LAN menggelar kegiatan 'ngobrol bareng' antara pemerintah, masyarakat serta perw ...Selanjutnya


Jurnal

Aplikasi Publik