Selamat datang di website Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur III Lembaga Administrasi Negara    Ā 

Ramadhan Effect

Dibuat : 7 Jul 2017

Tanggal 3 Juli 2017 kemarin adalah hari pertama masuk kerja di kantor saya, PKP2A III LAN Samarinda. Tidak seperti biasanya, semua pegawai masuk kerja dengan penuh antusias. Kecuali beberapa pegawai yang mengajukan cuti. Mengawali hari pertama bekerja semua pegawai termasuk rekan-rekan Security dan Cleaning Service mengadakan acara halal bi halal secara sederhana yang ditutup saling memaafkan satu dengan yang lainnya. kegiatan selanjutnya kita manfaatkan untuk Rapat Pimpinan, rapat rutin seminggu sekali yang biasanya kita lakukan setiap hari Senin, membahas beberapa laporan hasil evaluasi pelaksanaan kegiatan semester pertama dan membahas agenda semester kedua. Sore harinya membahas event tahunan Jambore Inovasi Kalimantan Tahun 2017 yang tahun ini akan diadakan di Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan. Membanggakan dan melegakan!

Pada saat banyak pegawai mangkir, justru mereka menunjukkan karakternya sebagai pegawai ASN yang berdedikasi. Pada saat pegawai lain dengan ancaman untuk bisa masuk pada hari pertama dengan pemotongan tunjangan penghasilan tambahan jika tidak masuk, justru kami melakukannya dengan penuh kesadaran. Pada saat pimpinan instansi seperti Menteri, Gubernur dan Walikota serta Bupati harus melakukan inspeksi mendadak (sidak), kami tidak perlu melakukannya. Semangat baru! Ramadhan menginspirasi dan melahirkan spirit bekerja keras. Ramadhan menumbuhkan tanggungjawab dan komitmen, karena bekerja adalah ibadah!

Ya. Bagi kami bekerja adalah ibadah. Bekerja bukanlah kewajiban, namun bekerja adalah kesadaran hakiki dan menjalankan perintah agama. bekerja adalah bagian ibadah. Islam membenci manusia yang pemalas, suka  berpangku tangan dan menjadi beban orang lain. Firman Allah : “Maka carilah rizki disisi Allah..” (QS. Al ‘Ankabut [29]: 17)

Karena itu bagi kita yang rajin bekerja, Alloh Ta’ala akan meninggikan derajat kita. padangan Islam akan proposisi ini bukan tanpa dasar. Alloh Ta’ala menyamakan orang-orang yang giat bekerja dengan orang yang berjihad disisi Alloh. “Dan orang-orang yang berjalan di muka  bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi  berperang di jalan Allah.” (QS. Al Muzzammil [73]: 20)

Demikian halnya dengan Rasulullah SAW, yang menyebut aktifitas bekerja sebagai jihad di jalan Allah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Thabrani (dan dinilai shahih oleh al Albani), “Beberapa orang sahabat melihat seorang pemuda kuat yang rajin bekerja. Mereka pun  berkata mengomentari pemuda tersebut, “Andai saja ini (rajin dan giat)  dilakukan untuk jihad di jalan Allah.” Rasulullah SAW segera menyela mereka dengan sabdanya, “Janganlah kamu berkata seperti  itu. Jika ia bekerja untuk menafkahi anak-anaknya yang masih kecil, maka  ia berada di jalan Allah. Jika ia bekerja untuk menafkahi kedua  orang-tuanya yang sudah tua, maka ia di jalan Allah. Dan jika ia bekerja  untuk memenuhi kebutuhan dirinya, maka ia pun di jalan Allah. Namun  jika ia bekerja dalam rangka riya atau berbangga diri, maka ia di jalan  setan.”

Spirit Ramadhan harus selalu hadir di 11 bulan ke depan. Ramadhan adalah puncak kesalihan seorang Muslim, baik salih secara spiritual amupun salih secara sosial. KH. Ahmad Mustofa Bisri, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang, pernah mempopulerkan istilah saleh ritual (spiritual) dan saleh sosial. Saleh spiritual merujuk pada ibadah yang dilakukan dalam  konteks memenuhi haqqullah dan hablum minallah seperti shalat, puasa,  haji dan ritual lainnya. Sedangkan saleh sosial merujuk  pada berbagai macam aktivitas dalam rangka memenuhi haqul adami dan  menjaga hablum minan nas. Banyak yang saleh secara ritual, namun tidak  saleh secara sosial; begitupula sebaliknya.

Menurut Gus Mus, panggilan akrab KH. Ahmad Mustofa Bisri, antara saleh spiritual dan sosial bukanlah konsep yang saling berbenturan. Kedua menjadi dasar ajaran Islam. Bahkan, dalam aspek spiritual sesungguhnya juga ada aspek sosial. Misalnya shalat  berjamaah, pembayaran zakat, ataupun ibadah puasa, juga merangkum  dimensi ritual dan sosial sekaligus. Ini berarti jika seseorang hanya menjalankan salah satu kesalehan saja atau tidak menjalankan kedua-duanya, itu namanya kesalahan, bukan  kesalehan.

Inilah yang sesungguhnya menjadi dasar bagi kita, bahwa puasa yang bernilai adalah puasa setelah puasa. Artinya, menghadirkan nilai-nilai ramadhan dalam aktifitas bekerja sesungguhnya yang paling penting. Puasa Ramadhan melahirkan pribadi, selain saleh spiritual, juga saleh secara sosial. Seorang pegawai ASN yang memiliki spirit baru dalam bekerja: pekerja keras, disiplin, menjadi lebih bertanggungjawab dan memiliki komitmen kuat untuk menjalankan tugas yang diberikan pimpinan kepadanya, menjadi sangat berintegritas adalah seorang ASN yang jiwanya tercerahkan oleh nilai-nilai Ramadhan. Inilah Ramadhan Effect.

Ramadan adalah bulan madrasah yang  tujuannya menjadikan taqwa pada setiap diri orang yang beriman. Lalu  sudahkah taqwa itu kita dapatkan? Ramadhan Effect, menjadi indikator bagi seseorang yang menunaikan puasa Ramadhan: pada level mana keberpuasaan kita.
Memang Ramadan bukan bulan jaminan seseorang dapat meraih derajat  tertinggi itu: Taqwa! Derajat taqwa itu hanya akan diperoleh bagi siapa saja  yang menjalani Ramadan dengan penuh iman dan ihtisab (selalu berhitung  dan memperhitungkan amalan serta penuh keyakinan bahwa dirinya dapat  melakukan ibadah puasa hanya karena hidayah dan taufik dari Allah SWT. Karenanya, untuk menilai apakah derajat taqwa itu  telah kita dapatkan ataukah belum, mari kita bercermin dari definisi  taqwa yang dijelaskan oleh sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Beliau  menjelaskan bahwa makna taqwa itu meliputi empat hal : pertama, takut kepada Allah yang Maha Mulia; kedua, mengamalkan apa yang termuat  dalam at tanzil (Al-Qur’an); ketiga, mempersiapkan diri untuk hari meninggalkan  dunia; dan keempat, ridha (puas) dengan hidup seadanya (sedikit).

Jika Ramadhan bisa menghadirkan sikap dan prilaku baik dalam kehidupan pribadi kita, kehidupan keluarga, kehidupan kebangsaan kita, yang tercermin dalam pelaksanaan  nilai-nilai integritas,  etos kerja dan gotong-royong maka itulah yang dimaksud sahabat Rasulullah SAW sebagai orang-orang yang Taqwa. dan kesemuanya itu bersumber dari cara puasa kita yang sesuai dengan tuntunan. Wajar jika kita akan mampu menghadirkan Ramadhan Effect di setiap aktifitas keseharian kita. Wallohu a’lamu bishawab.
 

Mariman Darto
Samarinda, 4 Juli 2017

Opini

Press Release - JAMBORE INOVASI KALIMANTAN TAHUN 2017

Jambore Inovasi Kalimantan (JIK) merupakan event tahunan yang dirancang untuk mendiseminasikan berbagai inovasi-inovasi pelayanan publik sebagai bukti kehadiran Pemerintah untuk masyarakat. Melalui penyajian inovasi administrasi negara dan pelayanan publi ...Selanjutnya

Memimpin Perubahan: Dari Pendekatan Formal ke Informal

“Saya memegang teguh prinsip Jenderal Sudirman bahwa setiap pemimpin harus berada di tengah-tengah rakyatnya. Saya berharap, seluruh peserta Diklat Pim II ini bisa menjiwai spirit yang dibangun oleh Pak Dirman tersebut.”  Demikian Paman B ...Selanjutnya


Jurnal

Aplikasi Publik