Selamat datang di website Pusat Kajian dan Pendidikan dan Pelatihan Aparatur III Lembaga Administrasi Negara     

Semangat Membangun Perbatasan

Dibuat : 26 Dec 2016
Hanya tinggal Malaikat saja yang belum pernah datang ke perbatasan ini,” ujar beberapa masyarakat di wilayah perbatasan Pulau Sebatik Kabupaten Nunukan, yang seyogyanya mencerminkan bagaimana seringnya para pejabat negara secara bergantian berkunjung ke halaman depan wilayah indonesia ini. Namun demikian, tingginya jumlah kunjungan para pemimpin tersebut ternyata tidak berbanding lurus atau tidak signifikan dengan peningkatan pembangunan di wilayah tersebut.

Slogan membangun dari pinggiran ternyata masih sebatas konsep tanpa aksi nyata yang menunjukkan masih lemahnya pemenuhan kebijakan secara riil. Kekurangseriusan pemerintah terlihat dari realisasi atas janji yang disampaikan kepada masyarakat perbatasan yang masih kurang, kalaupun ada berbagai bantuan yang diberikan namun relatif tidak sesuai dengan kebutuhan riil atau tidak sesuai dengan kondisi masyarakat perbatasan. Tengoklah berbagai mesin pengolahan yang diberikan kepada masyarakat perbatasan namun tidak disertai pembekalan penggunaannya, juga kapal-kapal penangkap ikan yang spesifikasinya tidak sesuai dengan yang diminta, serta berbagai bangunan yang tidak operasional. Kesemuanya berdampak pada ketidakberfungsian bantuan-bantuan yang diberikan serta seolah-olah menunjukkan kurangnya integrasi perencanaan dengan perwujudannya.

Keseluruhan faktor tersebut di atas secara agregat, maka tidak dipungkiri lagi beberapa permasalahan pembangunan kawasan perbatasan masih ditemui diantaranya percepatan pembangunan ekonomi yang belum signifikan, kemajuan pembangunan yang relatif masih tertinggal, peningkatan kualitas sumberdaya manusia yang belum signifikan, serta keterpaduan program, kegiatan, dan kebijakan pengelolaan yang masih lemah.

Menyadari minimnya aksi yang nyata menuntut kemampuan masyarakat perbatasan serta pemerintah daerahnya sendiri untuk bangkit berusaha dan berinovasi memulai pembangunan wilayahnya dengan basis sumber daya yang ada, termasuk sumber daya alam dan manusianya. Dekatnya wilayah perbatasan dengan negara lain yang memiliki kemajuan tentu menjadi bahan komparasi pemicu upaya kreatif masyarakat perbatasan dan pemerintah daerahnya untuk memajukan perbatasan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru, terlebih lalu lintas barang dan jasa akan lebih cepat terdistribusi lintas negara.

Whole Government Policy dan Inovasi Perbatasan
Penanganan pembangunan daerah perbatasan tentu tidak dapat dibebankan pada suatu sektor atau bagian tertentu semata, namun perlu digaungkan konsep integrasi dalam bingkai whole government. Kebijakan whole government mendorong seluruh sektor bersama-sama secara padu saling mendukung (sesuai dengan fokus kerjanya) mewujudkan ruang lingkup pengembangan daerah perbatasan yang telah ditetapkan. Keterpaduan tersebut termasuk Kecamatan, Desa, hingga dusun juga memegang peranan penting dalam mendorong peningkatan pembangunan perbatasan. Tinggal kemudian menentukan ruang lingkup pengembangan perbatasan, dimana perlu diupayakan inovasi-inovasi berbasis local wisdom yang dapat menghantarkan wilayah perbatasan menjadi lebih maju dan mensejahterakan.

Sudah saatnya wilayah perbatasan dikembangkan secara fokus berdasarkan potensi sumber daya yang tersedia ke arah pengembangan yang “tidak biasa”. Secara khusus penulis mencermati bahwa wilayah perbatasan dapat dikelola berbasis pada inovasi sektor pariwisata, sebab “perbatasan” sendiri menjadi ciri khas yang cukup menarik wisatawan untuk melihat atau berkunjung. Pengelolaan wisata yang dapat dikembangkan diantaranya Wisata Perbatasan (yakni wisatawan dapat berkunjung ke patok-patok perbatasan atau melihat budaya, kondisi, keragaman sosial budaya masyarakat perbatasan), Wisata Area Pertanian (yakni pengembangan zona-zona pertanian yang tertata rapi dan indah), Wisata Hasil Olahan Pertanian (yakni pengembangan hasil-hasil olahan sekunder dan tersier dari komoditas unggulan perbatasan), atau juga Wisata Riset (yakni misalnya perbatasan tersebut difokuskan pada pengembangan tanaman kakao, maka akademisi, peneliti, atau wisatawan yang ingin belajar tentang kakao dapat berkunjung ke wilayah perbatasan tersebut).

Untuk mewujudkan pengembangan sektor wisata tersebut, bingkai whole government dapat digerakkan oleh seluruh SKPD sesuai tupoksinya masing-masing, atau juga kolaborasi dengan sektor privat atau komunitas masyarakat lainnya. Dapat dicontohkan misalnya, SKPD PU menyediakan akses jalan yang baik ke lokasi-lokasi wisata, SKPD Perhubungan memasang rambu/ penanda jalan ke arah lokasi wisata, atau juga menyediakan akses transportasi ke tempat-tempat wisata, Sektor Perbankan berperan memfasilitasi pengembangan UMKM yang mendukung program wisata, dan lain-lain. Diharapkan dengan keterpaduan dan sinergitas whole government policy ini kawasan perbatasan menjadi lebih maju dari negara-negara tetangga.


Penulis: Rustan Amarullah (Peneliti PKP2A III LAN)

Opini

Press Release - JAMBORE INOVASI KALIMANTAN TAHUN 2017

Jambore Inovasi Kalimantan (JIK) merupakan event tahunan yang dirancang untuk mendiseminasikan berbagai inovasi-inovasi pelayanan publik sebagai bukti kehadiran Pemerintah untuk masyarakat. Melalui penyajian inovasi administrasi negara dan pelayanan publi ...Selanjutnya

Memimpin Perubahan: Dari Pendekatan Formal ke Informal

“Saya memegang teguh prinsip Jenderal Sudirman bahwa setiap pemimpin harus berada di tengah-tengah rakyatnya. Saya berharap, seluruh peserta Diklat Pim II ini bisa menjiwai spirit yang dibangun oleh Pak Dirman tersebut.”  Demikian Paman B ...Selanjutnya


Jurnal

Aplikasi Publik